Jamsostek untuk ODHA

Standard

KBR68H – Mulai Desember lalu, PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) memberikan jaminan khusus untuk Orang dengan HIV/AIDS atau ODHA. Jamsostek akan memberi bantuan pengobatan hingga Rp 10 juta pertahun untuk biaya pengobatan. Seberapa besar manfaat jaminan ini bagi ODHA? Reporter KBR68H Pebriansyah Ariefana bersama dua ODHA mendatangi Kantor Jamsostek di Kota Bekasi, Jawa Barat untuk mencari tahu prosedur mendapatkan layanan itu. Nama kedua ODHA ini kami samarkan.

Program Belum Dimulai

Dhani dan Sonny, bukan nama sebenarnya, mendatangi Kantor Jamsostek Bekasi, Jawa Barat. Mereka ingin mendaftar sebagai peserta Jamsostek HIV/AIDS.

Saat ini Dhani bekerja di sebuah lembaga sosial di Bekasi, sedangkan Sonny bekerja di lembaga pendidikan di kota yang sama. Mereka mengaku belum tahu banyak soal  program jamsostek khusus ODHA.

Mereka menceritakan awal mula terpapar virus ganas itu pada 2007 lalu. Penyebabnya adalah penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian.

“Gue ngerasain nggak enak, gue konsul ke dokter. Kebetulan dokter nyokap, di tanya pernah narkoba nggak. Kata gue pernah, takutnya ada HIV, terus gue disuruh tes dan ternyata positif. Gue shock yah, bagaimana yah pikiran juga. Tapi keluarga gue yang memberikan motivasi. Udah, mau diapain lagi. Nggak usah dibalik kondisi lu, yah lu harus terima begini”, ujar Dhani.

“Kalau awal sebelum sakit sih gue suka pakai. Pakai jarum suntik gitu secara sharing. Kalau gitu kan belum ketahuan, ketahuannya jarak 3 tahun sampai 5 tahun baru jatuh sakit”, sambung Sonny.

Berbagai Obat untuk HIV-AIDSApa aja yang kamu rasain?

“Lambung sakit, kalau narkoba begitu kan jarang makan, jadi yang diserang lambung. Lever ke serang, malamnya panas dingin. Begitu lah secara terus-terusan, masih berobat di rumah, belum dibawa ke rumah sakit. Pas dibawa ke rumah sakit, baru tahu kalau HIV positif”, sambung Sonny.

Di lantai 2 Kantor Jamsostek Bekasi, Dhani dan Sonny diminta menemui petugas pemasaran. Mereka disuruh menunggu hampir sejam lamanya. Petugas pemasaran pun lantas menghampiri mereka.

Dhani menanyakan prosedur pendaftaran layanan Jamsostek untuk ODHA. Namun petugas pemasaran itu menjawab dengan ragu.

“Kayaknya kalau AIDS sudah tercover apa belum yah, kayaknya saya… (gugup). Kemarin memang ada sosialisasi tambahan fasilitas yah, soal kanker juga. Tapi kalau HIV/AIDS ini malah saya belum tahu yah. Jadi begini pak, kalau berobat kan kita tahu penyakitnya apa, nah tadi sudah saya sampaikan pengidap AIDS ini di-cover atau tidak, saya belum tahu 100 persen nih pak. Mungkin bapak tanya bisa di-cover atau tidak gitu yah.”

“Gimana yah… gini aja, mungkin bapak langsung ke bawah aja kali yah. Ke Ibu Merry, bagian pelayanan kesehatan”, lanjut petugas itu.

Dhani dan Sonny beranjak mencari Ibu Merry yang dimaksud tadi. Mereka ke loket pelayanan informasi di lantai 1. Orang yang dicari tak ada di tempatnya.

Petugas loket informasi mengatakan, program Jamsostek khusus AIDS memang sudah diluncurkan sejak 1 Desember tahun lalu, namun hingga saat ini belum bisa dijalankan. Sebab PT Jamsostek belum menentukan syarat pendaftaran sampai pencairan dana klaim kesehatan secara pasti.

Petugas : “Ini diperuntukan juga ada kriterianya, seperti kepesertaan peserta sudah berapa tahun. Ada minimal-minimalnya. Perusahaan jadi peserta JPK (Jaminan Pengamanan Kesehatan) sudah berapa tahun.”

Dhani : “Itu minimal berapa tahun, saya boleh tahu?”

Petugas : “Di atas 1 tahun. Tapi nanti kita lihat di bawah atau di atas UMK, jadi ada kategorinya. Jadi memang sudah ada tambahan. Tapi teknisnya sampai saat ini belum ada.”

Jawaban yang membuat kedatangan Dhani dan Sonny sia-sia. Tujuan untuk mendaftar tak kesampaian. Padahal mereka berharap layanan ini bisa membantu mengurangi biaya pengobatan.

Mas'ud MuhammadJanji Manis untuk ODHA

PT Jamsostek meresmikan program jaminan sosial untuk Orang Dengan HIV/AIDS atau ODHA sejak 1 Desember 2011. Namun program itu belum berjalan. Kepala Divisi Pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Jamsostek Mas’ud Muhammad mengatakan, jamsostek khusus ODHA masih menunggu persetujuan kenaikan upah minimum pembayaran iuran Jamsostek.

“Perubahan kedelapan PP 14, di mana selling weighted Rp 1 juta menjadi 2 kali PTKP. Upah naik, PTKP jadi naik, tapi kalau rupiah mutlak, itu bisa ditinjau secara berkala. Kemarin kita udah rapat dengan LKS Tripnas, Tripartit Nasional. Dan mereka sudah setuju, tinggal pemerintah sekarang. Kalau itu sudah disetujui, dan jalan. Tapi ada persyaratan khusus dan umum. Perusahaan harus tertib, harus sudah ikut JPK selama setahun. Kalau semua udah ikut 1 tahun, semua bisa ikut.”

Mas’ud menambahkan setiap ODHA yang terdaftar menjadi anggota Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) otomatis mendapatkan fasilitas asuransi khusus pengobatan AIDS. Peserta akan mendapatkan pembiayaan sebesar Rp 10 sampai 20 juta pertahun. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengikuti standar kebutuhan pemeliharaan kesehatan ODHA di rumah sakit.

Agar dana tersebut cair, si pekerja harus mendapatkan surat rekomendasi sebagai ODHA dari perusahaan tempat ia bekerja. Itulah yang menjadi masalah. Diskriminasi terhadap pekerja ODHA masih ada, seperti yang pernah dialami Dhani.

“Gue HIV Positif waktu kerja jadi security, di Tangerang tahun 2007. Sudah kerja di situ, gue positif di situ. Dan akhirnya gue bicara jujur, dan nggak tau ini stigma atau nggak. Yang jelas gue diberhentikan. Diminta untuk berobat dulu sampai gue pulih, setelah itu silahkan mau coba masuk lagi, silahkan coba. Tapi udah pernah gue jalanin, posisinya nggak ada. Gue mau masuk ke situ lagi posisinya nggak ada.”

Sementara rasa rendah diri dan khawatir akan diskriminasi pernah dialami Sonny.

“Tadinya dari perusahaan, udah masih bisa kok kerja lagi. Mereka nggak tahu kan saya sakitnya apa. Yang mereka tahu cuma paru-paru dan liver. Dia masih bisa terima sakit saya seperti itu, masih bisa kerja lagi. Dan akhirnya gue keluar aja.”

Kenapa nggak ngaku aja kalau HIV?

“Kalau di perusahaan kan masih awam, saya juga nggak tahu kayak gimana penyakit-penyakit yang aneh-aneh itu bagaimana. Kemungkinan yah bisa dihandel, bisa di-cut.”

Pernah nyoba? Pernah kepikiran untuk mau bilang?

“Pernah, tapi masih ketakutan mengungkap jati diri… saya nih positif, nggak ada keberanian. Intinya sih takutnya sih intinya takut dipecat. Dikeluarkan secara tidak hormat.”

Pengalaman itu dirasakan Dhani dan Sonny di tempat kerja yang lama. Kini di tempat kerja baru, mereka bisa bernafas lega. Seharusnya, ODHA tak perlu kuatir karena Undang-undang Ketenakerjaan menjamin perlindungan bagi ODHA untuk bekerja.

Nyatanya peraturan hanya menjadi coretan tinta di atas kertas. Contohnya syarat bekerja yang diterapkan PT Prima Karya Sarana Sejahtera. Perusahaan penyedia tenaga kerja untuk sebuah Bank BUMN itu tidak akan menerima karyawan yang menderita HIV/AIDS. Staff Bagian Personalia PT PKSS Rustianty Safrina.

“Untuk saat ini kita belum mendapatkan kasus karyawan yang kena HIV AIDS.”

Tapi ada larangan untuk mereka yang kena HIV AIDS untuk tidak bekerja?

“Oh iya tidak boleh bekerja.”

Alasan untuk tidak menerima calon karyawan yang terkena HIV AIDS apa?

“Oh iya karena keinginan dari BRI juga. Karena faktor bekerja, di BRI itu kan kita kontrak 1 tahun. Selama kontrak itu kan diharapkan para pekerja itu kan sehat selalu. Dan pekerjaan di bank itu sangat luar biasa padatnya, sering lembur, kalau ada penyakit berat kan susah lagi.”

Direktur LSM AIDS Grapic Daniel Ramadhan mengatakan selain hak untuk bekerja tanpa diskriminasi, ODHA juga harus mendapat kebijakan khusus dari perusahaan.

“ODHA itu sebenarnya punya hak untuk bekerja di perusahaan mana pun. Bukannya ODHA kalau bekerja harus dibuat khusus, tidak begitu. Tapi paling tidak ada kebijakan yang khusus sewaktu pekerjanya HIV Positif. Misalnya dengan tunjangan kesehatan yang diberikan perusahaan. Yang kedua untuk perijinan dan istirahat, mungkin juga harus fleksibel juga.”

Tunjangan kesehatan tentunya menjadi hal yang berharga. Kata Daniel, kebutuhan hidup seorang ODHA setiap bulannya bisa 3 kali lipat orang normal. Selain untuk menjaga makanan teratur dan pola gizinya, seorang ODHA bisa merogoh kocek hingga Rp 1,5 juta untuk pengobatan.

Janji Jamsostek ditunggu oleh Dhani dan Sonny. Mereka merasakan tingginya biaya hidup sebagai ODHA. Buat Dhani, dengan gaji Rp 1,5 juta perbulan, ia harus menghidupi keluarganya, selain untuk mencukupi kebutuhan pengobatan. Terlebih istrinya juga seorang ODHA.

“Seperti pengecekan laboratorium, kesehatan gue udah sejauh mana. Beratnya di situ, itu cukup mahal. Termasuk untuk obat-obat dan lain-lain. Itu harus gue kumpulin di setiap bulannya.”

Gaji kamu berapa?

“Standar aja Rp 1,5 juta. Gue nikah sama istri gue dulu dia janda punya anak 3. Setelah nikah sama gue punya anak 1. Jadi gue ngurusin 4 anak.”

Kalau Jamsostek benar-benar memberikan tunjangan kesehatan pengobatan HIV/AIDS, itu akan sangat membantu Sonny dan Dhani. Paling tidak akan memangkas pengeluaran untuk biaya berobat.

“Dari kalangan yang tidak mampu itu, berat juga bayarannya terlalu tinggi. Harapan gue sendiri sih jamsostek bisa menerima dari kalangan ODHA, yang nggak mampu sama sekali. Itu sangat berguna banget”, kata Sonny.

“Gue yakin ini sangat membantu banget, karena pengalaman gue udah punya jamsostek. Buat berobat istri gue juga membantu. Apalagi ada program untuk HIV AIDS, khususnya untuk gue sendiri, umumnya untuk temen gue”, tutup Dhani.

Untuk lebih lengkap silakan baca di situs KBR68H: http://www.kbr68h.com/saga/77-saga/17796-jamsostek-untuk-odha-masih-janji-manis-di-mulut-saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s