Perlindungan Hukum untuk Pejalan Kaki

Standard

Siang yang cerah, Minggu (22/1/2012) pukul 11.00 WIB, ada 13 orang di halte pemberhentian angkutan umum di Kawasan Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat, pas di depan Kantor Kementerian Perdagangan RI. Mereka tengah santai, sebagian baru saja pulang berolahraga di kawasan silang Monas. Jarak halte itu dari silang Monas tidak terlalu jauh, tidak sampai 500 meter.

Tiba-tiba, sebuah Mobil bermerk Daihatsu Xenia Hitam nomor polisi B 2479 XI datang dari arah kanan mereka. Mobil itu berkecepatan tinggi langsung menyeruduk ke-13 orang tersebut. Akhirnya Moch Hudzaifal alias Ujay (16), Firmansyah (21), Suyatmi (51), Yusuf Sigit (16), Ari (2,5), Nanik Riyanti (25), Fifit Alfia Fitriasih (18), dan seorang remaja laki-laki dengan umur kurang lebih 17 tahun tewas!

Sisanya, Siti Mukaromah (30), Moh Akbar (22), Keny (8), Indra (11), dan Teguh Hadi Purnomo (30) luka-luka berat. Ke-13 orang itu langsung mendapat perawatan di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto di kawasan Senen.

Tidak lama polisi datang, karena kebetulan di Pos Polisi Lalu Lintas Jaga di Tugu Tani sudah berjaga sejak pagi. Nama si penabrak pun sudah diketahui. Sang penabrak seorang perempuan berusia 29 tahun. Namanya Afriyani Susanti, tinggal di Jalan Ranggang Terus No 142 Sungai Bambu, Jakarta Utara. Diketahui Afriayani tidak memiliki Surat Izim Mengemudi (SIM) dan mobilnya tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Afrianyani mengaku kehilangan konsentrasi dan panik saat mengemudi, sampai-sampai ia membanting stir-nya ke arah bahu jalan.

Mendengar kejadian itu, dalam pikiran ‘ternyata tidak ada tempat yang aman di Jakarta’ yah. Bahkan di tempat halte yang dilindungi hukum, bisa membuat nyawa melayang.

Buruknya perilaku pengguna jalan, terutama para pengendara kendaraan bermotor, sudah menjadi hal yang tidak disangkal. Bahkan di kota besar, seperti Jakarta, pejalan kaki seperti tidak mempunyai hak untuk berjalan di trotoar. Dalam keadaan macet, trotoar bisa berubah menjadi jalan raya.

Di negara kecil seperti Singapura, pejalan kaki sangat dijaga oleh negara. Bahkan seorang pengendara menghormati pejalan kaki tang menyebrang di zebra cross. Di sana dilindungi undang-undang, di Indonesia juga.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan pasal 284 jelas melindungi keselamatan pejalan kaki. Bunyi Pasal 284: Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Itu juga berlaku untuk pejalan kaki yang menyebrang di trotoar, diri pejalan kaki dalam trotoar sebenarnya dilindungi undang-undang. Jadi jangan takut untuk menyebrang di trotoar.

Masalah lain adalah regulasi hukum di kepolisian yang masih lemah. Misalnya saja mudahnya mengeluarkan izin mengemudi pada masyarakat. Reformasi di tubuh polri hanya menjadi hisapan jempol. Buktinya masih banyak calo SIM dan layanan administrasi kendaraan di setiap SAMSAT dan Polres.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s