Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Standard

Bersiap naik Commuter Line...

Di dalam Commuter Line

Sabtu (21/1/2012) yang cerah, saya sudah siap dengan rencana pergi ke Sea World dengan seorang sahabat, Sandika. Tapi tidak naik motor, melainkan naik Kereta Listrik Commuter Line. Kebiasaan berlibur akhir pekan dengan menggunakan transportasi umum sepertinya harus mulai digalakan. Karena jumlah kendaraan dan polusi di kota besar seperti Jakarta dan kota penyanggahnya sudah di ambang batas. Itu berdampak pada kerusakan lingkungan, terutama kerusakan udara. Kami mulai perjalanan dari Stasiun Batu Ceper, di Tangerang. Suasana di dalam sangat lengang, bahkan nyaman.  Tentunya ini saya maklumi karena hari libur, tidak banyak orang bekerja. Suasana juga cukup aman untuk berselancar ke dunia mayadengan Black Berry. Oh… iya beda dengan KRL Ekonomi, Commuter line itu terdapat petugas yang berjaga dan menarik tiket, mereka berseragam.

Tiket Commuter Line

Dari Stasiun Batu Ceper, kami menuju Stasiun Duri, Jakarta Barat. Tarif yang harus kami bayar sebesar RP 5.500. Cukup mudah dengan suasana sepi dan leluasa di hari libur. Sesampainya di Stasiun Duri, kami harus transit, mengganti kereta. Karena sistem perkereta-apian saat ini sudah diubah. Mengikuti seperti MRT di Singapura, atau juga Bangkok. Sayangnya ternyata PT. KAI belum siap mengadopsi sistem transportasi massal kereta.  Banyak hal yang menjadi kendala, salah satunya yang banyak diperhatikan adalah fasilitas yang diberikan opererator. Yang paling banyak dikeluhkan di antaranya ketidaktepatan waktu tempuh kereta listrik.

Menunggu KRL menuju Kampung Bandan

Seperti yang kami alami, kami harus menunggu hampir 1 jam di Stasiun Duri menunggu KRL menuju Stasiun Kampung Bandan. Stasiun itu ada di belakang WTC Mangga Dua, Kota Tua, Jakarta Barat. Sandika begitu gelisah menunggu lamanya KRL. Dia terus mengeluh, wajahnya juga terlihat kesal. Ini pengalaman pertamanya berliburan dengan menggunakan transportasi umum. Tapi tentunya harus dibiasakan. Meski begitu, dengan tentunya dia masih terlihat antusias. Akhirnya pukul 11.00 WIB KRL tiba. Kami naik dengan semangat. Selama perjalanan kami bertanya-tanya, ke mana lagi dari Stasiun Kampung Bandan untuk ke Ancol. Menurut informasi peta jalan, ada kereta menuju Ancol. Saya lihat di atas pintu masuk dan keluar Commuter Line. Ehm… tak lama perjalanan kami ke Stasiun Kampung Bandan, hanya 10 menit melewati Stasiun Angke. Kami pun mencari jalur untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Ancol, tapi ups… tenyata tidak ada KRL menuju Stasiun Ancol. Lho? Padahal petunjuk informasi di gambar rute KRL jelas terlihat ada lajur khusus ke Ancol. Rupanya informasi itu palsu, itu kami dapatkan setelah bertanya kepada petugas KRL. Ya sudahlah, berarti memang benar petunjuk transportasi umum di Jakarta masih menyesatkan.

Jembatan penyebrangan menuju Ancol dari Stasiun Kampung Bandan

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Ancol dengan berjalan kaki. Lewat jalan ‘tikus’ via parkiran motor WTC, tembus ke jalan raya. Kami pun menyebrang lewat jembatan yang berada di atas sungai ‘hitam’, dan di sebelah jalur rel menuju Stasiun Tanjung Priuk. Sangat panas sekali waktu itu. Saya pun sampai berkeringat. Dari Stasiun Kampung Bandan ke Ancol kira-kira 500 meter. Memang terbilang tidak terlalu jauh. Namun perjalanan terasa jauh karena debu kendaraan yang mengepul. Maklum trotoar jalan tidak terlalu bagus. Sempit sekali, sehingga kami langsung bersenggolan dengan mobil-mobil yang ‘menggas’. Belum lagi untuk menyebrang menuju pintu Ancol tidak ada zebra cross, wah makin bahaya saja kami. Nyawa kami terancam, ah tidak berlebihan itu. Karena kendaraan yang harus kami berhentikan ketika menyebrang adalah truk pembawa peti kemas.

Tiket masuk Ancol

Ah akhirnya sampai juga di Ancol. Kami masuk, dengan membayar tarif Rp 30.000 untuk 2 orang. Harga yang sebanding tentunya untuk menikmati alam pantai di Ancol. Setelah itu kami pun masuk Ancol, pegel sekali kaki ini. Sampai-sampai Sandika pun kelelahan. Memang terasa berat bagi kami yang beru memulai membiasakan berlibur dengan mengunakan angkutan umum.

Di dalam mobil jemputan...

Tapi saya yakin jika sudah terbiasa maka tidak akan terasa lelah, bahkan mengasyikkan. Kami sempat kebingungan setelah masuk kawasan Ancol, ke mana arah untuk ke Sea World? Tenyata ada shuttle bus transit Ancol. Bus itu jenis bus mini berkapasitas 25 penumpang. Namun anehnya tidak ada logo Ancol di bus itu, ada-nya logo Big Bird. Memang Bus itu disewa Ancol dari Big Bird. Nyaman sekali, saat menuju Sea World, hanya kami yang naik. Dan ternyata itu karena tidak banyak yang tahu jika sekarang Ancol menyediakan layanan bus transit bagi pengunjungnya yang tidak membawa kendaraan. Itu sangat membantu tentunya.

Makan siang...

Kami sampai di Sea World, perut kami keroncongan. Karena 1,5 jam perjalanan kami tidak boleh makan dan minum di dalam Commuter Line. Makanan siap saji yang kami pilih di FoodCourt. Dan pilihan jatuh ke makanan siap saji entah dari mana. Hahaha… mengapa makanan siap saji, memang karena kami mencari makanan yang tidak terlalu membuat kenyang. Hanya untuk mengganjal saja.

Loket pentipan barang

Kami memilih paket Family, harganya pun tidak terlalu mahal Rp 38.000 untuk dua orang. Karena kami membawa minum, jadi tidak pelu memesan minum lagi, kami juga membawa makanan kecil. Makanan kecil itu nantinya saya titipkan ke loker. Karena makanan kecil dan minuman tidak bisa dibawa ke area Sea World. Alasannya memang sangat logis, agar di dalam area pameran tidak dikotori. Di dalam juga disediakan makanan kecil dan minuman ringan untuk melepas dahaga. Jadi tidak perlu takut kehauasan. Kami pun masuk. Sebelum masuk, tangan kami harus dicap terlebih dahulu. Tidak lupa juga tas kami diperiksa, memastikan kami tidak membawa makanan dan minuman. Hehehe, tapi kami membandel sedikit. Kami membawa Oreo satu bungkus. Tapi saya jamin tidak akan membuang sampah sembarangan di dalam, itu untuk antisipasi kalau perut keroncongan.

Cap Sea World

Sea World, rasanya asing ketika kami masuk. Saya terakhir kali ke sana ketika masih kecil, duduk di bangku SD. Wah ternyata Sea World tidak sebesar yang saya kira yah. Mungkin saat itu saya membayangkan besar karena masih kecil. Hehehe… Oke sekarang lihat deh foto-foto kami bergaya di dalam.

Ada apaan tuh di belakang?

Lagi tunjuk apaan tuh Sandika?

Di dalam akuarium raksasa

di akuarium ikan hiu

Foto ini hasil meminta tolong kepada orang lain. Sebelumnya bingung meminta tolong siapa, karena kamera yang kami gunakan cukup rumit.

Di depan pintu masuk

Bersama...? Ehm... xixixi

Di dalam akuarium raksasa

Bersama Hiu...

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun sudah puas berjalan mengitari wahana di Sea World, termasuk saar di wahana utama. Yaitu ada Barong sai dan memberi makan ikan hiu. Wow…. tapi itu tidak aneh, karena itu agenda rutin, kayaknya bosan juga yah. Dari saya kecil, pasti ada atraksi seperti itu. hehehehe… bukan sombong, tapi yah kalau sudah besar seperti ini lebih ingin melihat sesuatu yang tidak berulang. Tapi ya sudah lah. Perjalanan kami seru, kami harus berda di Stasiun Kampung Bandan sekitar jam 5 sore. Untuk menunggu waktu kami jalan sejenang ke pantai. Jaraknya tidak jauh, ehm sekitar 200 meter.

Fotonya di edit sedikit yah, cuma warna dan dikasih tulisan aja. Biar kesannya klasik kok...

Kami iseng untuk memfoto diri sendiri. Kamera saya letakkan di pinggir pantai, dan kamera saya setting dengan menggunakan timer. Hampir 1 jam kami di sana, untuk sekadar duduk istirahat dan mengobrol sambil menikmati angin pantai. Cuaca sudah agak mendung, kami pun memutuskan untuk beranjak ke stasiun. Tapi perut keroncongan nih, kami memutuskan untuk makan sejenak di AW WTC Mangga Dua. Lagi-lagi junkFood, tapi entah mengapa kami memang tengah mau makan junkfood. Tak apalah, biar tak sehat, tapi itu pun hanya sekali itu saja. Sembari menunggu kereta yang datang pukul 5.27 sore.

Karcis KRL Ekonomi

Setibanya di Stasiun Kampung Bandan, ternyata kami harus naik KRL Ekonomi, karena KRL Commuter Line tiba di stasiun itu pukul 7 malam. Lama sekali kalau kami menggunakan Commuter Line, ya sudahlah kami pun menaiki KRL Ekonomi yang tarifnya hanya Rp 1000 perorang. Dari Stasiun Kampung Bandan kami harus menaiki Commuter Line ke Stasiun Duri. Tapi cukup dengan karcis yang kami punya. Karena memang begitu, kami hanya menumpang untuk transit saja.

Suasana di dalam KRL Ekonomi

Tidak lebih dari 10 menit, kampi pun tiba di Stasiun Duri. Kami harus menunggu selama 15 menit untuk menunggu KRL Ekonomi jurusan Duri – Tangerang datang. Sandika agak terkaget-kaget melihat situasi berbeda di KRL Ekonomi itu. Sangat pengap dan penuh dengan pemandangan menarik. Saya menyebutnya, ‘wajah asli kehidupan Jakarta’. Kehidupan yang penuh dengan kemiskinan, kesulitan hidup.

Pria tua itu

Belum lagi kami menemukan pemandangan yang membuat mata hati kami, terutama Sandika terkaget-kaget. Ada seorang kakek tua yang pekerjaannya penyemir sepatu melintas di depan kami. Kakinya buntung, dia diam di depan kami. Pas di depan kami yang tengah duduk menunggu sekitar 5 menit lagi sampai di Stasiun Batu Ceper. Sebelum pria tua itu melintas, beberapa pemandangan kemiskinan Ibukota Negara Indonesia, Jakarta sudah terlihat, Mulai dari tukang semir sepatu anak, pembersih gerbong anak. Peminta-minta ibu-ibu tua. Yang terakhir yah bapak tua ini. Pria tua itu menutup liburan kami dengan pemikiran dan instropeksi diri yang sangat kuat. Bahwa kami merasa mampu, mempunyai uang, sudah mempunyai pekerjaan, bahkan terkadang sombong dengan apa yang dipunya. Nyatanya itu semua tidak pantas disombongkan, karena kami bermampu dan berpunya di antara orang tak punya dan miskin. Okelah… selesai perjalanan liburan kami yang menyenangkan dan penuh dengan warna. Itu semua tidak akan kami dapatkan jika berlibur menggunakan transportasi pribadi… Melakukan perjalanan dengan transportasi umum tidak hanya hemat biaya, tapi juga bisa menjaga lingkungan agar tetap bersih dari emisi karbon dan polusi udara. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya….

One response »

  1. Wahh kalo ke jakarta saya belom siap naek angkutan umum. Karena pilihannya, kalo dari rumah paling metromini 69 dan lanjut ke busway. Behhhhh kalo naek 69 ke blok M itu membutuhkan waktu hampir 2 jam. (macet gila-gilaan +ngetem) naek motor cuma 30 menit😀

    Pengen banget kemana2 naek Angk Umum. Tapi yang nyaman dan tepenting yang gak buang2 waktu😀.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s