Pesona keberagaman dan Toleransi di ‘Bumi Pendekar’

Standard

Banten baru saja di angkat dari kompor, masih hangat dan berbau harum. Suhu pemilihan kepala daerah sudah usai, Gubernur Banten Ratu Atut kembali memimpin.

Masih teringat di pikiran isu yang beredar di balik pemilukada, mulai dari dana BOS yang dipakai untuk dana kampanye hingga kisah segelintir orang yang mengaku dibayar Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu untuk mencoblos salah seorang calon Gubernur saat itu. Kisah itu masih ada di benak, tapi sudah hilang termakan kenyataan, Ratu Atut kembali memimpin.

Di balik itu semua, sebenarnya banyak harapan baru dari kehidupan sosial masyarakat Banten. Betapa banyak ‘objek’ di Banten, kota para pendekar. Mulai dari pantai yang panjangnya ratusan kilometer, sampai bangunan tua peninggalan kerajaan di era pendudukan Belanda dan Portugis. Semua itu menunggu masyarakat yang jenuh dengan wisata ‘beton’ di Ibukota Negara, Jakarta.

Jika dihitung, mungkin lebih dari 500 tempat menarik di Banten. Misal di Tangerang, Serang, Pandeglang, Balaraja, Ujung Kulon dan sebagainya. Sebut saja Masjid Pintu Seribu di Tangerang, Vihara Boen San Bio di Tangerang, atau Masjid Agung Banten. Itu baru 3 saja, apa pernah ke sana? Banten juga punya tradisi, semisal Tradisi Seba. Tradisi ini dilakukan masyarakat Baduy, yang merupakan masyarakat adat di Lebak. Tradisi ini sama dengan silahturahmi, dilakukan setiap tahun. Masyarakat Baduy berkumpul bersama pemerintah setempat dan perwakilan negara. Banyak lagi yang unik.

Banten juga mempunyai masyarakat yang beraneka ragam. Masyarakat Banten sebenarnya hasil dari perpaduan Jawa, Sunda, Sumatera Bagian Selatan, China, dan sedikit mengadopsi sistem kolonial. Sistem kolonial sepertinya juga masih melekat di beberapa daerah, semisal Yogyakarta. Namun ada satu hal yang menarik dari ragam masyarakat Banten, yaitu sistem kepercayaan Adat. Islam di Banten sebagai agama mayoritas sudah bisa berbaur dengan kebudayaan setempat. Selain itu masih ada juga masyakarat adat yang menganut sistem kepercayaan.

Hanya saja ragam kebebasan berkeyakinan di Banten terkoyak setelah tragedi Pembantaian Jemaat Islam Ahmadyiah tahun lalu. Bukankah negara menjamin kebebasan masyarakat dalam berkeyakinan? Semoga itu tak terjadi di tahun ini.

Di lihat dari sisi pembangunan, Banten temasuk sentralistik. Seperti Jakarta. Lihat saja Mauk yang 3 jam dari Kota Tangerang, masih terasa seperti pedesaan. Tentu miris.

Peran Blog bermain, lewat tulisan. Blog mempunyai peran membangkitkan opini politis penguasa daerah setempat masing-masing wilayah Banten. Tulisannya di dunia maya harus bisa membuka mata, telinga dan harapan jika Banten masih jauh dari sejahtera – sejahtera mungkin di beberapa kota besar saja.

Tulisan apa yang bisa dibuat Blogger? Paling tidak Blogger mampu menuliskan informasi menarik soal budaya, pariwisata, atau ulasan perkembangan politik hukum Banten lebih mendalam. Bukan hanya sejarah pariwisata, melainkan bagaimana menuju ke tempat wisata itu? Sebab transportasi belum terlalu memadai.

Lebih dari itu, Blogger lewat Blog-nya paling tidak mempunyai misi khusus untuk menyebarkan isu keberagaman yang positif di Banten. Agar kejadian pembantaian Jemaah Ahmadiyah tidak kembali terjadi, kalau pun mereka di larang, laranglah dengan pendekatan Hak Azasi Manusia. Pesan itu harus disebar.

Semoga harapan 2012 bisa terwujud dan menciptakan Banten sebagai Provinsi keberagaman kebudayaan.

13 responses »

  1. semoga banten menjadi lebih baik lagi,, dari segi pariwisata, budaya, ekonomi, kerutama kesejahteraan lingkungan masyarakat banten.

    sebuah karya yang membangun, dan harapan atas segala permohonan yang disampaikan dapat terwujud adanya. amien

  2. Tahun lalu kalau gak salah ada wacana ingin menjadikan Banten sebagai kota cyber deh? kemana ya, semoga aja bisa terwujud tuh😀

    Mungkin kalau Banten udah dikenal luas berbagai budayanya, para pelawak di televisi bukan cuma memasang kuda-kuda silat kalau denger kata “Banten” .. kapan ya😀

  3. Hmmmm,, Tangerang yang kutahu ,, masjid besar dkt kantor walikota, bandara soekarno hatta, teluknaga yang entah sudah terpetakan pa blm… klo pagi udaranya masih seger,, gak macet,,angkot odong2 yang full music,,huft jadi ingat masa lalu….:)

  4. wow keren abis …. kalau bisa blogger Benteng bisa membantu dalam rangka publikasi ke wisata dan turis mancanegara dengan potensi yang ada , saran agar banten memiliki Galery kerajinan dan tempat untuk membeli oleh oleh khas Banten …seperti Sate banten….nanti saya akan membuat Toko kuliner Banten di Tangerang….tunggu tanggal mainnya yach

  5. Pingback: Blogger Dan Kemiskinan Di Banten « Payjo

  6. miris memang jika membayangkan kondisi wilayah propinsi Banten yang kesejahteraan rakyatnya belum merata. tak usah jauh2, lihat saja kota tangerang selatan. rumah mewah berdiri tegak, dengan banyaknya hilir mudik mobil2 mewah, mall yang berdekatan hampir tidak ada yang sepi. tapi di satu sisi seperti mauk, keronjo, tigaraksa, balaraja dan wilayah sekitarnya. masih banyak warga yang mengalami keterbatasan, tak usah muluk2 terkadang akses jalan saja masih ada yang rusak dan becek jika musim hujan turun. yaaah siapapun pemimpin yang akan memimpin Banten, kami hanya berharap sejahterakan wilayah2 yang dikira masih sangat tertinggal. SEMOGA BANTEN LEBIH BAIK DI TAHUN INI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s