Maaf dari Belanda untuk Desa Rawagede

Standard

KBR68H – Belanda akhirnya bersikap ksatria dengan mengaku bersalah atas pembantaian ratusan petani di Desa Rawagede, Karawang, Jawa Barat. Belanda meminta maaf dan memberikan sejumlah kompensasi untuk 9 janda yang suaminya menjadi korban kekejaman kolonial. Apakah maaf dan kompensasi itu akan menyembuhkan luka? Reporter KBR68H Pebriansyah Ariefana merekam detik-detik bersejarah permohanan maaf dari Belanda kepada masyarakat Rawagede.

Momen Bersejarah

Pagi menjelang siang, warga Desa Balongsari berkumpul di Monumen Perjuangan Rawagede. Mereka akan memperingati 64 tahun pembantaian ratusan petani Rawagede oleh tentara Belanda pada 1947 lalu. Di antara mereka hadir para saksi hidup peristiwa itu. Wanti, Lasmi, Cawi, dan Tijeng adalah para janda petani yang dibunuh oleh Belanda.

Acara pekan lalu itu terasa sangat istimewa. Pemerintah Belanda secara resmi akan mengajukan permohonan maaf atas peristiwa pembantaian itu. Puluhan jurnalis asing dan lokal siap merekam momen ini.

Permohonan maaf dari Belanda akhirnya keluar setelah puluhan tahun dinanti. Inipun berkat kemenangan 9 janda korban dalam gugatan kejahatan perang di pengadilan Den Haag, September lalu. Liesbeth Zegveld adalah sosok penting di balik kemenangan itu. Ia adalah pengacara asal Belanda yang mewakili para korban.

Dari kiri-kanan, Jeffry Pondag, Liesbeth Zegveld, Dubes Belanda Tjeerd de ZwaanDari kiri-kanan, Jeffry Pondag, Liesbeth Zegveld, Dubes Belanda Tjeerd de Zwaan

Liesbeth bersama pendiri Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Jeffry Pondaag menghadiri acara peringatan hari itu.

Nah itu Wanti binti Dodo yah, iya, ini pengacaranya nih bu. Ibu Liesbeth. Ini ibu siapa? Ibu Lasmi yah. Ini ibu siapa? Ibu Cawi. Masih kenalkan sama Liesbeth”, ujar Jeffry memperkenalkan para janda dengan Liesbeth.

Liesbeth Zegveld mengatakan permohonan maaf ini sangat ditunggu-tunggu. Ini adalah pencapaian terbesar selama ia mengadvokasi kasus Rawagede.

Saya sangat senang hari ini. Selama 3 tahun mengadvokasi mereka dan akhirnya bisa membuat mereka senang dengan keputusan ini. Bediri di antara orang-orang merayakan tragedi ini.”

Belasan veteran pejuang dari Karawang, Bupati Karawang, perwakilan dari kedutaan Belanda, dan beberapa anggota DPR juga hadir pada momen sejarah ini. Mereka duduk di bawah tenda putih megah.

Lagu kebangsaan Indonesia yang dinyanyikan paduan suara gabungan siswa SMP di Karawang, membuka acara. Diikuti dengan mengheningkan cipta.

Saat-saat yang ditunggu tiba. Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan, naik ke podium.

 

Janda RawagedeJanda Rawagede

Hari ini, 9 Desember, kita mengenang anggota keluarga dan rekan-rekan se-desa Anda, yang 64 tahun lalu tewas pada saat aksi militer Belanda di desa Anda. Suatu hari yang menyedihkan bagi Anda semua dan sebuah contoh yang mencolok tentang bagaimana hubungan antara Indonesia dan Belanda pada masa itu berjalan ke arah yang keliru. Pemerintah Belanda belum lama ini telah mencapai kesepakatan dengan anggota keluarga korban, dengan harapan bisa ikut membantu mereka dalam babak menutup babak yang teramat sulit dalam kehidupan mereka ini. Sehubungan dengan itu, saya atas nama pemerintah Belanda, memohon maaf atas tragedi yang terjadi pada 9 Desember 1947 di Rawagede.”

Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan berharap peristiwa masa lalu itu tidak mengganggu hubungan antara Indonesia dan Belanda.

Seusai menyampaikan permohonan maaf, Tjeerd dan janda korban menuju makam tempat ratusan petani korban pembantaian Rawagede bersemayam. Mereka jalan bersama dan menaburkan bunga.

Janda korban Rawagede, Wanti, Lasmi, dan Cawi mengomentari permohonan maaf Belanda.

“Saya gak dendam lagi. Sudah lama. Sudah gak sedih lagi lah”, ujar Wanti.

Ziarah ke Makam KorbanZiarah ke Makam Korban

“Ya dimaafkan aja semua, kenapa. Udah nasib semua. Orang-orang itu harus memaafkan karena semua bakal meninggal kan. Itu harus kita sadari”, sambung Lasmi.

“Gini yah, yang dulu mah dulu. Kalau sekarang mah sudah saja, sama-sama. Ada yang tanya, apa nenek benci nggak? Nggak tuh. Nggak ada dendam-dendaman, yang dulu mah dulu. Yah tapi siapa yang nggak sedih. Sekarang mah udah nggak apa-apa”, tutup Cawi.

Selain permohonan maaf ini, Pemerintah Belanda akan memberikan kompensasi kepada 9 janda korban masing-masing berupa uang sebesar 20 ribu uero (baca: yuro) atau sekitar Rp 240 jutaan. Ini akan menjadi kucuran uang yang kedua kalinya dari Belanda kepada Rawagede. Dua tahun lalu dana hibah diberikan, namun muncul masalah di balik itu.

Kompensasi Untuk Para Janda

Pengacara korban pembantaian Rawagede Liesbeth Zegveld dan pendiri Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Jeffry Pondaag mendatangi rumah Saih, sekitar 1 kilometer dari Monumen Perjuangan Rawagede. Saih adalah korban selamat dari pembantaian 64 tahun lalu. Ia baru meninggal tahun lalu.

Di rumah Saih, 9 janda korban dan ahli waris membicarakan masalah kompensasi dari Pemerintah Belanda bersama Jeffry dan Liesbeth.

Ini bukan santunan, tapi ini hak Anda semuanya. Dengar baik-baik, ini bukan santunan, tapi hak Anda. Ini bukan pemerintah Belanda memberi para korban atau para janda, tapi hakim yang ada di Den Hag Belanda itu mengatakan kalau 9 orang ini berhak untuk diganti rugi. Jadi kalian itu tidak usah berterima kasih karena itu dari keputusan dari pengadilan.”

Kompensasi itu diberikan langsung oleh pemerintah Belanda kepada para penggugat, tidak melalui pemerintah Indonesia. Uang itu sudah ada di rekening kantor pengacara Liesbeth Zegveld di Belanda dan akan diberikan pekan ini jika 9 janda dan ahli waris pembantaian Rawagede sudah memiliki nomor rekening.

Pengacara korban Liesbeth Zegveld mengatakan, uang tidak bisa mengganti kesedihan para korban.

Jumlah kompensasi sebesar 20 ribu uero (baca: yuro) itu tidak dapat menggantikan kesedihan yang dialami para korban. Tapi permohonan maaf bisa mengisi ruang-ruang yang kosong. Karena tidak ada jumlah uang yang bisa menggantikan kerugian yang dialami oleh para korban. Jadi permohonan maaf itu jadi sangat penting.”

Dana Hibah yang Diributkan

Selain kompensasi ini sebenarnya pemerintah Belanda pernah menjanjikan dana hibah untuk Desa Rawagede sebesar 850 ribu uero atau Rp 10 miliar lebih Janji itu disampaikan Pemerintah Belanda pada 2009 lalu.

Pendiri Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Jeffry Pondaag mengetahui ada dana hibah tersebut. Namun dana hibah itu bukan bagian dari gugatan 9 janda korban pembantaian Rawagede.

Itu pengadilan tidak ada kaitan dengan ganti rugi. Pengadilan tidak mengatakan pemerintah Belanda harus bayar sekian. Itu dalam perundingan dengan yayasan KUKB, dan para korban di Rawagede. Kan mereka masing-masing dapat 20 ribu uero dan total 180 ribu uero.”

Sementara Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan enggan mengomentari soal dana hibah dan kompensasi untuk korban Rawagede. Katanya itu sudah diserahkan kepada pengacara pemerintah Belanda dan warga Rawagede.

Mengenai kompensasi silahkan bertanya kepada pengacara. Jadi kesepakatan soal kompensasi sudah diserahkan kepada pengacara kedua belah pihak. Jadi itu bukan masalah saya.”

Beberapa waktu lalu terdengar kabar pemerintah Belanda sudah mencairkan dana hibah untuk Rawagede ke pemerintah Indonesia sejak 2009 lalu. Namun Kementerian Dalam Negeri membantahnya. Katanya tidak ada dana hibah yang masuk dari Belanda. Untuk kompensasi kali ini pemerintahpun tak mau ikut campur dalam penyalurannya. Wakil Menteri Luar Negeri Wardhana.

Saya kira tim kuasa hukum dari para korban sudah melakukan koordinasi dengan para penerima itu. Tentunya akan disampaikan langsung kepada yang bersangkutan. Pemerintah tidka ikut campur.

Pemerintah Karawang juga mengaku belum mengerahui soal dana hibah sebesar Rp 10 miliar yang akan diberikan oleh Belanda. Bupati Karawang Ade Swara pun belum mengetahui mekanisme penyaluran dana hibah itu.

Itu yang kita tidak tahu, mekanismenya kayak apa. Kita masih menunggu dari pemerintah pusat. Tapi kita siap membantu menyalurkan bantuan ini secara proporsional kepada penerimanya.”

Kalaupun dana itu benar akan diberikan kepada masyarakat untuk membangun desa Balongsari, Ade menyambutnya dengan baik. Katanya selama ini pembangunan desa di Karawang terhambat dengan kurangnya dana pembangunan daerah. Di kawasan Balongsari minim bangunan sekolah. Masyarakatnya pun masih hidup miskin.

Bagi para janda korban pembantaian Rawagede, uang kompensasi Rp 240 juta per orang sudah lebih dari cukup. Wanti, Tijeng dan Cawi serta ahli waris korban pembantaian Rawagede mengaku, paling tidak uang itu untuk biaya sisa hidup mereka yang rata-rata sudah menginjak usia hampir 90 tahun.

“Saya ingin buat beli rumah, belanja, beli beras segala. Buat makan, anak dua. Cucu banyak, ada 18. Cicit banyak pisan yah”, ujar Wanti.

Bukan senang-senang lagi ah. Sekarang sudah aman-sudah resmi. Dulu mah capek, punya anak”, kata Tijeng.

Kalau dikasih 10 juta, nanti 5 juta untuk orang-orang. Yah sama-sama enak yah. Kalau saya sendiri, enak lu, emang yang mati lu sendiri yah. Saya juga nggak enak yah. Kalau saya sih pemerintah aja yah. Kalau saya sendiri mah nggak betul yah”, tutup Cawi.

 

Selengkapnya dengar feature Radio SAGA di website Kantor Berita Radio 68H www.kbr68h.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s