Aksi Bakar Diri di Depan Istana Merdeka, Simbol Perlawanan?

Standard

metrotvnews.com

Sore, 7 Desember 2011 saya beradan di Redaksi KBR68H Utan Kayu. Saat itu saya baru saja pulang dari peliputan di Komisi Nasional Hak Azasi Manusia. Duduk di ruangan paling pojok dan dengan menikmati kopi panas, saya tercengang membaca Vivanews, ada yang membakar diri di depan Istana Merdeka.

Saat itu ada beberapa media menuliskan dengan informasi yang sama, yang membakar diri adalah perempuan dan aksinya itu dihalau oleh Polisi Sektor Gambir yang biasa berjaga di halaman Monas. Namun belakangan, beberapa media salah memberitakan, rupanya yang membakar diri adalah seorang pria.

Setelah itu suasana redaksi biasa saja, begitu juga saya, karena itu dianggap sebagai kejadian nekat. Namun belakangan jika dilihat dengan serius, itu bukan kejadian biasa. Ada orang yang nekat bakar diri, terlebih di depan simbol Negara, Istana Merdeka. Sebenarnya yang menjadi perhatian adalah ‘membakar diri di Istana Merdeka’. Berbagai interpretasi bisa dibuat bukan?

Setelah itu redaksi memutuskan untuk menangkat pristiwa ini, siapa yang mendorong pria itu membakar diri? Apa motifnya? Sampai

Istimewa

saat ini belum terbuka. Fakta yang baru diketahui soal keadaan pria itu, dia mengalami luka bakar 98 persen, hanya telapak kakinya yang tidak terbakar. Tubuhnya gosong, bibirnya bengkak dan saat ke RSCM tercium bau daging terbakar.

Keesokan harinya (hari ini), beberapa media ‘bermain’. Beberapa media mewawancarai politisi untuk menerawang, kejadian apa ini? Mereka pun menjawab, ini adalah bentuk perlawanan.

Salah satunya di Kompas.com, ‘Aksi Bakar Diri Jadi Lonceng Perlawanan Rakyat‘. Yang bicara adalah Ketua Partai Hati Nurani Rakyat

Istimewa

(Hanura) Yuddy Chrisnandi. Dia bilang presiden jangan meremehkan aksi bakar diri tersebut.

“Lonceng perlawanan rakyat telah berbunyi, waspadalah, bermawas dirilah pemerintah yang adikuasa saat ini,” begitu tulis pernyataan Yuddy dalam berita tersebut.

“Dalam keyakinan kalangan tertentu, membakar diri adalah peristiwa sakramen atau lazim disebut sacrifice, sebuah pengorbanan tertinggi menyerahkan nyawa sebagai tumbal terjadinya perubahan yg lebih baik untuk menyelamatkan orang banyak,” sebut Yuddy.

Terlebih saat ada dugaan yang melakukan bakar diri adalah mahasiswa. Hal itu dinyatakan Ketua Komisi Tenaga Kerja Ribka Tjiptaning. Ribka sendiri yang menanyakan langsung kepada pria itu yang masih sadarkan diri dengan hanya mengangguk-angguk.

Sepertinya masyarakat harus berhati-hati menerima sebuah informasi, bisa jadi ini sebagai bentukkan ajakan perlawanan kelompok tertentu terhadap rezim SBY. Lagi pula ini momen yang bagus para politisi oposisi pemerintahan untuk membuat penyataan doktrinisasi agar rakyat ‘melawan’. melawan dengan bakar diri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s