Wartawan Radio: Terjun ke Lapangan Sebagai Jurnalis Radio

Standard

Saat saya ditugaskan ke Bangka Belitung untuk mengerjakan program SAGA tentang kerusakan lingkungan, penyelam tambang bawah laut dan malaria.

Sudah sekitar 7 bulan saya berdiri di perahu lain dalam mengarungi profesi jurnalis. Saya menjadi wartawan radio, sebelumnya saya adalah jurnalis media online di detikcom. Tidak ada alasan khusus untuk terjun ke profesi jurnalis radio dari jurnalis media online.

Tanggal 2 Mei 2011, hari pertama saya berdiri sebagai jurnalis Kantor Berita Radio 68H (KBR68H) yang bermarkas di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Soal menulis saya merasa sudah menguasai, tapi soal jurnalisme radio saya ‘angkat tangan’. Teori jurnalisme radio baru saya dapatkan saat duduk di bangku kuliah. Itu pun tidak lama, saya sering bolos karena saat itu sudah bekerja sebagai wartawan di salah satu koran. Jadi kulit jurnalisme radio pun tidak terlalu saya dapat.

Saya hanya bermodal komitmen menjadi jurnalis dan menguasai teori dan praktik jurnalisme secara umum. Begitu masuk, ehm… banyak sekali ilmu jurnalisme radio yang bisa dikembangkan. Semisal penggunaan alat-alat perekam dan program editing radio. Selain itu ada juga dalam pembuatan program radio dan teknik studio.

Tentu saja berbeda persiapan peliputan ketika saya menjadi jurnalis media online, dan sekarang menjadi jurnalis radio. Saat menjadi jurnalis media online, tidak ada alat khusus yang diperlukan, hanya membawa buku catatan, ponsel dan pulpen.

Tapi radio lebih rumit. Alat yang diperlukan adalah tentunya alat perekam, tape recorder kaset atau digital recoreder. Yang harus diutamakan dalam melakukan peliputan radio adalah suara. Tidak ada suara, tidak ada berita.

Maka itu diperlukan suara yang bagus dan sempurna, terlebih KBR68H menomorsatukan suara. Karena beritanya akan disiarkan ulang di 900-an radio di Indonesia, Asia dan Australia (data 2011).  Untuk menghasilkan suara yang bagus harus memerlukan teknik merekam dan alat perekam yang bagus juga.

Alat perekam standar Internasional radio biasanya menggunakan alat yang bernama Marantz. Sebenarnya marantz adalah merk alat perekam buatan Amerika Serikat. Alat perekam itu bisa merekam suara sunyi dan kecil sekali pun. KBR68H menggunakan sebagai alat perekam yang menghasilkan suara bagus.

Selain alat perekam suara, diperlukan juga laptop untuk mengedit suara di program Adobe Audition. Suara itu dipotong dengan durasi maksimal 30 detik. Tantangannya adalah saya harus memilih petikan wawancara yang menarik dan bersuara bagus.

Setelah itu potongan suara dikirim dengan melampirkan teks berita yang akan dibacakan penyiar setiap 1 jam sekali dalam progran Kabar Baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s