“Kaget Setengah Mati Mendengar Kawanku Itu Gay”, Memangnya Kenapa?

Standard

People Magazine

Malam semakin larut, kopi ini masih saja tersimpan baik di ‘kapsul kenikmatan’. Hangat, sambil mendegarkan jazz dan duduk santai. kebiasaan malam, mengobrol dengan seorang teman. Dari luntang-lantung obrolan, sampailah kepada obrolan terakhir soal ceritanya bertemu teman lama. Teman lamanya itu mengaku sebagai gay…

“Kaget aku…” begitu katanya.

Budi, sebutlah begitu nama ‘si gay’ itu. Teman saya kenal dekat dan terus bersama Budi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga SMA. Tidak ada keanehan dari Budi selama itu, tidak juga menunjukkan sisi feminim seorang gay. Paras Budi yang tampan, berkulit putih dan mempunyai senyum manis, semasa SMA sangat digilai para siswi.

Tapi begitulah Budi, sosoknya yang dingin dan agak sedikit tidak perduli. Jadi ia banyak menolak perempuan yang menyukai dirinya. Tapi semasa kuliah Budi pernah mengatakan cinta kepada teman dekatnya. Tapi cinta Budi ditolak, memang saat itu ia mengaku hanya setengah hari menyukai sahabatnya itu.

“Lalu kenapa dia kok jadi gay? Ada peristiwa apa?” tanya saya dengan tetap memegang kapsul kopi yang masih hangatnya terjaga.

Kata teman saya, Budi mempunyai ayah yang keras. Budi pun lebih dekat ke ibu-nya. Semenjak SMP Budi dekat dengan ibunya dan menjauh dari ayahnya yang keras.

“Dia jadi feminim dan suka dengan yang maskulin. Tapi dia nggak bergaya seperti lelakian. Dia seperti laki-laki normal lainnya. Dia ngobrol biasa aja,” kata teman saya.

Budi mengaku mulai mantap merasa sebagai gay setelah lulus kuliah tahun 2008. Budi mempelajari alasan dia mempunyai perasaan ‘cinta maskulin’. Ternyata bukan lingkungan yang membuat Budi menjadi gay, tapi ia percaya sisi genetik yang menyebabkan gay.

“Ini dari sana-nya,” kata teman saya menirukan perkataan Budi.

Budi bercerita kepada teman saya, pertengahan tahun 2011 berpacaran. Budi bertemu dengan seorang lelaki di suatu tempat, mereka pun berkumunikasi dan saling jatuh cinta. Itulah cinta pertama Budi sebagai kaum homoseksual.

“Dia pacaran seperti pasangan pria-wanita pada umumnya. Jalan, berpegangan tangan,” kata teman saya itu.

Saya bertanya, apa itu salah? Apa Budi merasa apa yang dia lakukan itu salah? Merasa menyimpang? Merasa salah berpacaran dan melakukan hubungan seksual?

“Ngapain, katanya itu kan terserah. Dia merasa nggak ada yang salah kok. Dia nggak ganggu orang, dia senang dan bahagia dengan begitu,” kata teman saya.

Tapi akhirnya tak seberapa lama pacaran, Budi berpisah. Pria itu menikah dengan perempuan. Alasannya desakan orangtua dan desakan sosial Indonesia yang belum menerima kaum homoseksual. Namun antara Budi dan pria itu masih berhubungan baik, bahkan masih bertemu.

Kata teman saya, dia masih berteman dan tidak merasa aneh atau jijik dengan Budi. Budi adalah temannya. Hanya saja rasa kaget dengan pengakuan itu. Hanya itu saja katanya… Budi pria baik, pintar, dan menghormari perbedaan antar manusia.

Gay di Indonesia

Isu transgender di Indonesia bukan hal baru. Sejak tahun 1982 kaum transgender sudah berani terbuka, terutama gay. Di tahun itu sebuah kelompok memperjuangkan hak asasi kaum gay. Keberanian itu terus berlanjut sampai tahun 1990-an. Dan hingga saat ini. Namun tentu saja mereka belum berani terbuka.

Mayoritas masyarakat Indonesia belum menerima pengakuan mereka. Terlebih banyak kepompok massa tandingan, terutama kaum religius yang memandang hubungan sesama jenis itu tidak diperbolehkan dalam agama. Sehingga hal itu diikuti oleh negara yang membuat peraturan perkawinan sesama jenis tidak diperbolehkan.

Kaum gay dan lesbi sebagai minoritas terus dikucilkan dan dianggap sebagai wabah. Padahal Negara wajib melindunginya, karena mereka adalah rakyat Indonesia yang wajib mendapatkan hak toleransi dan hak azazi manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s