Relawan Ranjau Paku

Standard

KBR68H – Hati-hati berkendara di ruas jalan Ibukota Negara Indonesia, Jakarta. Ada ribuan ranjau paku bertebaran di ruas jalan protokol. Misalnya saja di sepanjang Jalan Daan Mogot, Hasyim Ashari Grogol, sampai Harmoni. Atas dasar itu 7 pria warga Jakarta membentuk komunitas Sapu Besih Ranjau Paku atau Saber. Setiap malam mereka memungut paku-paku yang bertebaran di ruas jalan tersebut. Hasilnya mereka mendapatkan sebuah pernghargaan dari pemerintah setempat. Reporter KBR68H Pebriansyah Ariefana mengikuti 7 kesatria Saber tersebut memungut paku di suatu malam.

Gerilya Malam Hari

Malam itu, Siswanto, Rohim, Endang, Sanawi, Umang, Doni, dan Iwan berkumpul di depan Terminal Grogol Jakarta Barat. Mereka adalah relawan Komunitas Saber atau Sapu Bersih Ranjau Paku. Mereka bersiap menyusuri Jalan Hasyim Ashari sampai Harmoni melewati depan Istana Negara, memburu paku-paku yang ada di sepanjang jalan.

Ketua Saber Siswanto menjelaskan alat-alat untuk perburuan ranjau paku.

“Kita satu bawa senter, senter ini fungsinya bilamana si pelaku ini kan pinter sekali kadang dia buang di tempat yang gelap. Atau kebetulan lampunya itu mati. Nah kemudian dia dibuang di situ, kebetulan kita pakai senter. Ada juga lampu lalin, ini untuk mencegah terjadi kecelakaan. Nanti kan ada lampu lalin, lap-lap-lap-lap, jadi pengendara bisa pelan-pelan. Untuk motor atau mobil bisa pelan-pelan, takutnya ada relawan yang tertabrak atau apa. Itu untuk mencegah aja. Kemudian ada magnet, ada yang kecil, ada juga yang panjang juga. Relawan ini ada pakai magnet kecil, kalau yang panjang itu khusus ranjau paku banyaknya, baru ranjau paku diturunkan.”

Siswanto, Ketua SaberSiswanto, Ketua Saber

Peralatan itu dibeli dengan menggunakan uang sendiri. Aktivitas mereka pun tidak ada yang membiayai, uang aktivitas keluar dari kantong mereka sendiri. Siswanto juga bercerita soal awal mula Komunitas Saber terbentuk.

“Waktu itu kan anggota-anggota relawan ini kan masing-masing dulu, latar belakangnya kami nggak kenal semua. Ada yang supir, kerja kantoran, ada tukang sapu, ada tukang ojek, tukang panggul buah juga ada. Awalnya tidak saling ketemu, tidak kenal lah. Ketemunya di jalan, terus saling kontak. Kebetulan misi kita sama, ingin menolong orang yah. Karena maraknya ranjau paku itu.”

Sudah 6 bulan Saber berburu paku di jalan. Selama 6 bulan itu sudah 200 kilogram lebih paku berbagai jenis ukuran yang mereka dapat. Rata-rata dalam semalam mereka bisa mendapat 1-2 kilogram paku.

Tim Saber terus berjalan pelan dengan menunggangi sepeda motor, sambil mengarahkan cahaya senter ke jalan. Sesekali mereka turun jika melihat paku. Magnet berbentuk cincin yang dipasangkan ke sebuah tongkat diarahkan ke jalan untuk mengambil paku.

Di tengah perjalanan, setelah 1 jam menempuh perjalanan, ada sekelompok pria, sekitar 5 orang tengah memunguti paku menggunakan tongkat yang terikat magnet di ujungnya. Terjadi percakapan antara tim Saber dengan para pria itu.

Siswanto menduga justru mereka tukang penambal ban yang kerap menebarkan paku-paku di sekitar Jalan Hasyim Ashari, Grogol.

“Makanya saya tidak menuduh dia, tapi curiga. Mereka penambal ban juga. Makanya pakunya saya minta, karena legalitas mereka kan saya belum tahu.”

Paku yang TerjaringPaku yang Terjaring

Bambang, salah satu penambal ban tersebut berkilah.

“Kalau itu kita nggak tahu deh. Cuma yang kita kasihan ada orang lewat, bawa anak, nggak kita ambilin, membahayakan mereka yah. Tapi justru mereka menuduhnya yang nggak-nggak. Ada yang ngomong ngambilin paku jangan ditebar lagi yah. Itu yang membuat sakit hati kita. Kita kan cuma rela lillahi taala gitu.”

Selama bertugas, Komunitas Saber sering diintimidasi para penambal ban atau preman. Mereka juga pernah mendapatkan perlakuan kekerasan fisik, kata Siswanto.

“Kalau di Jalan Daan Mogot sering. Kalau di sini (Jalan Hasyim Ashari -red) belum yah.

(Seperti apa intimidasinya?)

“Hei, ngapain diambilin, saya bunuh kamu yah. Ada juga ditendang. Yang saber 02 itu yang paling sering diintimidasi. Karena tubuh dia kecil, tapi biar dia kecil, dia itu berani, dia wakil saya.”

Malam kian larut. Perburuan Komunitas Saber sudah sampai di sekitar Jalan Harmoni, sekitar 3 km dari terminal Grogol. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan pengendara yang ban motornya bocor. Tim Saber mengingatkan pengendara itu untuk berhati-hati.

Perburuan ranjau paku malam itu hampir selesai. Komunitas Saber sudah sampai di depan Istana Merdeka. Kata Siswanto, justru di depan simbol negara inilah termasuk kawasan banyak ranjau paku.

“Pernah, saya pernah ditegur paspampres yah. Waktu itu siang-siang, di tanya ”ngapain pak?”. Mohon maaf pak banyak paku, kata dia “oh kurang ajar nih orang-orang. Ini perlu disikat habis nih”, dia bilang begitu. Tapi nyatanya cuma ngomong doang aja gitu kan. Tapi banyak tuh, ada hampir 1 kg saya ambilin.”

Perburuan paku malam itu selesai. Komunitas Saber berhasil memungut lebih 3 kilogram paku dari berbagai ukuran, 2 sampai 10 centimeter. Paku-paku itu dikumpulkan dalam wadah plastik dan tidak akan dijual atau dibuang. Saber akan menyimpannya baik-baik, katanya akan dijadikan kenang-kenangan atas kerja kerasnya.

Tujuh relawan Komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku akan terus berburu paku, keesokan malamnya dan malam-malam seterusnya. Inisiatif mereka ini diganjari penghargaan dari pemerintah Jakarta karena turut membantu keamanan publik pengguna jalan. Lalu, di mana aparat keamanan sebagai pelindung masyarakat?

Komunitas SaberKomunitas Saber

Di Mana Aparat Pelindung Masyarakat?

Perburuan ranjau paku relawan Komunitas Saber mendapat perhatian dari Pemerintah Jakarta Barat. Walikota Jakarta Barat, Burhanuddin.

“Saya akan jadi bapak asuh mereka, apa kelompoknya bentuknya saya akan jadi bapak asuh mereka. Akan saya support itu, kan tidak pakai APBD itu mah. Ini penghargaan yang pantas untuk mereka, moril dan materil yang keterbatasan.”

Burhanuddin memberikan penghargaan berupa piagam dan uang. Penghargaan itu diberikan karena komunitas Saber ikut membantu ketertiban umum.

Tindak kriminalitas ranjau paku menjadi masalah serius bagi Pemerintah Jakarta. Singkat saja Gubernur Jakarta Fauzi Bowo mengomentari hal ini.

“Kalau itu merugikan masyarakat, itu harus dikenakan sanksi hukum. Cari sampai ketemu!”

Sementara Walikota Jakarta Barat Burhanuddin mengandalkan Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP untuk membersihkan ranjau paku di ruas jalan di wilayahnya. Namun itu pun tidak setiap saat dilakukan.

“Ada, dan sangat terbatas. Mereka ini kan ketertiban dan umum yah. Itu kan ketertiban umum, sampai pada akhirnya timbul kejahatan. Dia lihat mobil mogok, ada ibu-ibu. Tahunya tas laptonya dibawa kabur. Pasti berhimpitan kejahatan itu, mengikuti di belakangnya.”

Kepolisian Jakarta mengklaim aktivitas membersihkan ranjau paku dijalan sudah lama dilakukan kepolisian. mengandalkan mobil mini golf yang dirancang dengan menambahkan magnet di bember depan mobil tersebut. Kepala Sub Direkrorat Penyidikan dan Rekayasa Ditlantas Polda Metro Jaya Kanton Pinem.

“Mobil ranjau paku kita punya dua. Masyarakat silahkan melapor ke kantor polisi, seperti dirlantas Polda Metro Jaya di 8276001, silahkan. Kalau perlu bantuan derek atau bantuan apa, nah kita harus segera membantu. Itu adalah kewajiban kita untuk melakukan pelayanan seperti itu.”

(Bebas biaya pak?)

“Iya benar, karena itu kewajiban kita. Silahkan hubungi polisi terdekat.”

Kanton Pinem menambahkan polisi tidak mempunyai data persis jumlah tindak kejahatan penyebar ranjau paku. Polisi juga tidak mempunyai catatan khusus soal dampak dari ranjau paku itu. Bahkan polisi juga belum tahu banyak asal muasal ranjau paku itu.

Nyatanya polisi lebih banyak lambang bergerak, dan massa memakai hukum jalanan. Pertengahan bulan lalu, Komunitas Saber memergoki seorang pria penebar ranjau paku di kawasan Cengkareng Jakarta Barat. Hasilnya penebar paku itu pun diserahkan ke polisi… setelah diamuk oleh puluhan pengguna jalan.

Ketua Komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku, Siswanto memaklumi alasan keterbatasan aparat keamanan dan pemerintah dalam membersihkan ranjau paku di jalan.

“Dari aparat pemerintah mungkin terbatas yah. Kalau kami-kami kayak gini kan cuma sukarela aja. Yah mungkin diambilin sekali dua kali, dan mungkin mereka bosen juga. Ya sudahlah, kan akhirnya juga begitu kan. Kalau relawan-relawan ini kan nggak bisa pak. Kita nggak bisa liat paku banyak sekali, harus kita cepat-cepat ambil. Kita juga nggak nyalahin dari aparat juga. Mereka juga ada usaha, tapi mungkin yah bosan atau bagaimana, nggak tahu deh itu.”

Siswanto dan kawan-kawannya bertekad terus memburu ranjau paku sampai jalanan ibukota benar-benar bersih.

“Yah kita itu sampai benar-benar steril mas. Paku steril bener nggak ada, nanti kita cari lagi di mana ada paku kami akan sisir. Kami siap aja pokoknya. Yang penting kita dikasih umur panjang, sehat, ada rejekilah untuk kita. Kebetulan kami juga butuh makan minum. Terus terang aja itu nggak ngelak lah. Kalau siang kan kita bisa beraktifitas kerja, udah gitu malamnya. Atau sebelum kerja, kita nyapu duluan, sambilan gitu loh.”

Selengkapnya dengar feature Radio SAGA di website Kantor Berita Radio 68H:  http://kbr68h.com/saga/77-saga/15543-relawan-ranjau-paku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s