Kita Selamanya, Aku Ingin Itu…

Standard

bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat… kita untuk slamanya!

satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan

Lagu itu milik Bondan & Fade 2 Black, judulnya ‘Kita Selamanya’… Tiba-tiba airmata saya menetes mendengar lagu itu. Teringat masa-masa remadja yang menggelora di masa muda. Di masa-masa saya masih berkuliah. Lirik itu untuk kalian, kawanku…

Saya ingat kalian, kita bersahabat dengan segala perbedaan pandangan, ideologi, bahkan kita berbeda keyakinan… Bukankah dulu kita bisa, bisa berbicara apa saja tanpa batasan.

Saya pernah menulis:

Saya benar-benar tidak bisa melupakan hal yang satu ini, hal yang membuat saya mungkin merasa bangga dengan apa yang saya capai. Saya dengan teman-teman semasa kuliah, 6 tahun lalu begitu sulit, bahkan untuk makan sekali pun. 

Mengapa? Bayangkan saja, kondisi keluarga kami yah biasa saja. Bahkan bisa dibilang tidak begitu mampu untuk membiayai kami kuliah di kampus swasta yang mahal saat itu. Rp 3,5 jutaan tiap semester (6 bulan) harus dikeluarkan. Belum lagi biaya praktikum yang bisa dibilang begitu mencekik dan tangan pun harus merogoh kantong dalam-dalam.

Untuk membayar 1 semester saja, kami harus berjuang untuk mendapatkan ‘surat minkin’. Sebenarnya agak berlebih, itu hanya sebutan kami untuk surat pengajuan cicilan biaya semester di Pembantu Dekan 2 atau Pudek 2 bagian keuangan. Perjuangan, karena belum bisa disetujui jika alasan kami tidak membuat si Pudek 2 kasiahan kepada kami. Bahkan kami khususnya saya beralasan tidak bisa membayar uang semester dikarenakan adik saya tengah sakit berada di rumah sakit. Agak keterlaluan, tapi yang itu mungkin membuat Tuhan mendengar jika memang kami tidak ada uang.

Belum lagi soal uang jajan, kami khususnya saya memang diberikan uang untuk ongkos. Tapi ya ampun, kondisi ekonomi sudah mencekek orangtua saat itu dengan membayar uang kuliah yang bahkan dengan menyicil. Karena di antara saya dan teman-teman saya bukan anak satu-satunya. Kami keluarga besar. 

Untuk mensiasati itu, yah kami tidak akan mengeluh jika diberikan uang untuk ongkos kuliah Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Karena memang benar mampunya segitu. Makanya di kampus, kami jarang sekali makan di tempat tongkrongan kantin dalam kampus. Kami makan di luar kampus, di warteg atau pun di warung gado-gado. Soal harga cukup mencolok, sebut saja harga nasi goreng di dalam kantin kampus Rp 10.000, sedangkan untuk makan di warteg Rp 2.500 termasuk minum atau gado-gado Rp 3.500 belum sama minum. Saat itu teh manis Rp 1000. Tapi kami juga tidak ingin kehilangan pergaulan kaum borjuis saat itu. Makanya kami juga nongkrong di kantin, untuk terlihat sedikit ‘jajan’, belilah kami teh manis yang harganya ehm kalau tidak salah Rp 1500. 

Saat itu sebenarnya uang jajan yang dikasih ortu cukup, bahkan bisa disisih Rp 2000. Tapi yang membuat semua serba susah adalah, ada saja keperluan untuk tugas kuliah dan praktikum. Misal saja foto copy bahan teori, bikin tugas kelompok, atau praktikum lainnya. Kebetulan kami satu fakultas, dan fakultas kami itu jarang sekali teoritis, banyak yang praktikum.

Bisnis, yah itu salah satu jalan untuk kami ‘bertahan hidup’ di kampus swasta. Apa pun bisnis itu, mulai jualan oriflame, kerjain tugas mahasiswa lain, atau pun project dari dosen. Ada juga yang berbisnis di organisasi kampus, tapi itu tidak saya ceritakan. 

Ada salah satu di antara kami yang sampai mengamen di bis kota untuk cari uang tambahan untuk mambayar kuliah dan uang tambahan untuk pratikum. Ehm, yah hal itu yang membuat saya terpaksa untuk meneteskan airmata. 

Seiring waktu, kami pun disibukan dengan tugas akhir masa kuliah semisal magang, seminar, praktikum, dan skripsi. Kami jadi jarang bertemu, banyak juga di antara kami yang sibuk bekerja. Karena di masa itu mata kuliah yang harus kami lunasi semakin sedikit, sehingga waktu luang pun semakin banyak. Tidak hanya itu, kami pun semakin banyak menempuh kehidupan pribadi (mempunyai), meski akhirnya kami banyak yang ditinggalkan karena status sosial. 

Tapi apa, banyak yang saya petik dari persahabatan kami. Jika bisa dibilang, karakter kami berbeda semua. Ada yang banyak omong dan sok tahu, ada yang banyak diam dan cuek, ada juga yang terlalu mementingkan diri sendiri, ada yang tukang curhat, ada juga yang arogan dan selalu ingin dimengeri. Tapi itu semua kami maklumi, kami hanya memikirkan soal persahabatan dan persetan dengan semua sifat itu. Sifat itu pernah kami bahas, dan solusinya adalah kami harus saling mengerti. Itu saja, dan tidak ada cara lain. Kalau ada masalah, kami segera selesaikan. Betapa dekatnya kami saat itu, saat di mana kami sulit.

Saya suka mereka, kami saling mengeri satu sama lain. Misal saja saya, keinginan saya agar mereka tidak mencampuri pribadi saya jika tidak diminta. Mereka setuju dan persahabatan kami berjalan lancar. Saya tidak dibilang ‘tidak bersahabat’ karena apa? Karena kami memang saling mengerti dan memahami.

Sampai sekarang kami bersahabat, sekarang yang kami sudah beranjak dewasa dan sudah berpikir masa depan. Masa depan yang lebih baik dan membahagiakan orangtua. Tapi kami masih sama, kami mencoba saling memahami bahwa kami sangat berbeda, maka itu kami harus ekstra dekat. Sesekali berkelahi silang pendapat, tapi semua akan akur kembali saat mengobrol.

Betapa indahnya kebersamaan ini, saya menikmati itu. Saya harap, Sidiq, Agung, Adji, Wendy, Jadul, dan Wina akan selalu dekat… sedekat dulu kami masih berpikir untuk makan.

Jangan sampai persahabatan itu hancur karena harta, tahta, dan wanita.

Tulisan itu cukup mendapat respon balik, saya senang.

Sekarang,

sebenarnya saya cukup berpikir keras untuk menuliskan hal ini, kalian sudah berbeda…

Apakah karena saya terlalu bebas berpikir? Apakah karena waktu saya sempit untuk kalian? Apakah karena pandangan kita berbada? Apalah karena saya egois setengah mati? Apa?

Ya Tuhan… mengapa harus seperti ini?

Saya hanya ingin, hadapi apa yang ada di depan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s