Bangka Belitung di Balik Ancaman Malaria

Standard

KBR68H – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dinyatakan sebagai kawasan endemis penyakit malaria. Meski begitu pemerintah setempat mengklaim jumlah penderita malaria terus berkurang dalam 4 tahun terakhir. Berbagai program disiapkan pemerintah Babel untuk mencegah penyebaran malaria. Namun, tak ada tindakan nyata terhadap area bekas tambang timah yang menjadi lahan subur bagi sarang nyamuk malaria. Reporter KBR68H, Pebriansyah Ariefana melaporkan dari Pulau Bangka.

Pencegahan Seadanya

Junaidi terbaring di Rumah Sakit Sungai Liat, Pulau Bangka. Petugas keamanan itu sudah dua hari dirawat karena terserang malaria. Kepala Rumah Sakit Sungai Liat, Then Suyanti menengok dan memantau kondisi Junaidi.

Junaidi mengaku demam, mual dan kepala pusing. Kata dokter, ia terkena malaria vivax.

Usinya 47 tahun. Ia mengaku pernah terkena malaria jenis tropika 15 tahun lalu. Namun akhirnya sembuh. 3 tahun kemudian Junaidi kembali terkena malaria, namun jenis malaria tertiana atau malaria ringan. Pekerjaannya sebagai petugas keamanan di pabrik, membuat kesehatannya mudah turun. Terlebih pabrik tempat Junaidi bekerja berada di kawasan pantai sebelah timur Sungai Liat.

Junaidi menduga faktor rusaknya alam bekas pertambangan menyebabkan dirinya terkena malaria. Ia kerja di kawasan pantai sudah 20 tahun. Kata dia, hampir semua temannya sudah pernah kena malaria.

 

Kolam Bekas Tambang Timah Menjadi Tempat Perkembangbiakan Jentik MalariaKolam Bekas Tambang Timah Menjadi Tempat Perkembangbiakan Jentik Malaria

Malaria merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh parasit yang dikenal dengan nama plasmodium. Malaria sendiri mempunyai 3 jenis, yaitu malaria tropikana, malaria tertiana, malaria ovale. Malaria tropikana adalah jenis paling berbahaya dan banyak ditemukan di Bangka Belitung.

 

Nyamuk malaria umumnya tinggal di hutan. Hanya saja nyamuk itu bisa berpindah ke pemukiman penduduk jika hutan itu gundul. Hal itu yang terjadi di Bangka Belitung, kata Direktur Walhi Bangka Belitung Ranto Uday.

“Sejak timah ditemukan awal abad ke-17 mulai marak penyakit malaria itu menghantam pekerja-pekerja tambang yang waktu itu didominasi oleh pekerja-pekerja buruh yang merupakan budak tahanan dari China oleh Belanda. Tambang itu memerlukan konsesi yang luas, karena jelas sarang nyamuk merupakan hutan yang selama ini dibuka. Maka yang paling dekat mereka butuh pasokan makanan dan yang paling mungkin dijangkau adalah pemukiman-pemukiman dan camp-camp tambang dan pekerja-pekerja tambang dan kota terdekat atau pemukiman desa terdekat.”

Ranto melanjutkan, hingga saat ini hutan yang tersisa di Pulau Bangka kurang dari 300.000 hektar dari 1,2 juta hektar luas hutan di Pulau Bangka.

Kepala Dinas Kesehatan Bangka Belitung Hendra Kusumajaya mengatakan penyakit malaria termasuk yang berbahaya, bahkan juga bisa menyebabkan kegilaan.

“Kalau orang tidak diobati tidak sempurna, ada malaria tropika itu bisa menyerang otak karena pengobatannya misalnya mengobati diri sendiri, kemudian tidak tuntas, plasmodiumnya bisa menyerang otak. Nah itu bisa menyebabkan kejang-kejang, sampai meninggal. Salah satu pengaruhnya yang menyebabkan mereka tidak meninggal, bisa pengaruh ke otaknya, bisa kejiwaan dan sebagainya. Pendatang misalnya baru masuk sini, Anda digigit nyamuk, belum ada kekebalan yah kena malaria. Nah orang baru ini yang bisa terkena malaria.”

 

Penyuluhan Ibu Hamil di Puskesmas Pangkal LalangPenyuluhan Ibu Hamil di Puskesmas Pangkal Lalang

Di Bangka Belitung, di Pulau Bangka khususnya, penyebaran malaria termasuk yang tertinggi di Indonesia setelah Papua. Jumlah penduduk yang terkena hingga 2 juta lebih tiap tahunnya.

 

Namun Hendra mengklaim selama 4 tahun terakhir kasus malaria di Bangka Belitung berkurang. Tercatat di tahun 2010 ada 5.500 kasus malaria jenis tropika, malaria tertiana, dan malaria ovale. Jumlah itu menurun di tahun 2011 hingga 2000 kasus.

Agar malaria tidak terus merenggut banyak nyawa, pemerintah Bangka Belitung mempunyai berbagai program. Salah satunya dengan melindungi para ibu hamil. Tujuannya agar bayi yang mereka lahirkan tidak mengalami kecatatan akibat virus malaria.

Di sebuah puskesmas di Desa Pangkal Lalang, Pulau Belitung, beberapa ibu hamil berkumpul. Mereka tampak serius mendengarkan Huzuni memberikan penyuluhan tentang persiapan persalinan. Huzuni adalah bidan di Puskesmas Pangkal Lalang.

 

“Jangan takut, setiap ibu hamil dalam kelas ini akan dibagikan 1 orang 1 kelambu. Itu adalah satu hadiah atau program yang kita rencanakan untuk menghindari malaria. Jadi setiap ibu hamil mendapatkan satu kelambu. Diharapkan dipakai yah bu biar nggak digigit nyamuk. Ibu hamil kalau sudah sakit itu sudah diobatinnya, apalagi untuk mengobati penyakit malaria. Penyakit malaria kalau sudah terkena pada ibu hamil dampaknya ke bayi, jadi bakteri atau virus yang darah ibu digigit dari nyamuk sudah ada kuman malaria. Akhirnya darah ibu sudah ada bibit malaria. Akhirnya ibu akan menggigil, mengalami demam yang tinggi, bayinya lahirnya prematur, lahirnya kurang bulan, dan macam-macam jadinya.”

Baru itulah program Pemerintah Bangka Belitung mengatasi malaria. Pemberian kelambu di untuk melindungi ibu hamil dari serangan nyamuk. Bagaimana dengan pemberantasan nyamuknya?

Sarang Nyamuk Belum Diperhatikan

 

Bangka Belitung ditetapkan sebagai daerah endemik malaria atau tempat bersarang dan berkembang biak nyamuk malaria. Sebenarnya malaria sudah sejak abad ke-18 mewabah di Pulau Bangka dan Belitung. Tepatnya saat dimulainya pertambangan timah di sana oleh Belanda. Aktivitas pertambangan timah mengakibatkan hutan gundul. Selain penggundulan hutan, bekas lubang tambang timah darat pun menjadi penyebab terus meningkatnya pertumbuhan nyamuk malaria.

Dari atas langit Pulau Bangka terlihat banyak lubang-lubang yang berdiameter lebih dari 100 meter. Lubang itu kini terisi air dan menjadi danau-danau bekas tambang. Di situlah nyamuk malaria bersarang, kata Direktur Walhi Bangka Belitung, Ranto Uday.

“Di Pulau Bangka sendiri ada lebih dari 18 ribu danau dengan berbagai golongan dan kategori itu tidak menutup kemungkinan nyamuk-nyamuk yang berpotensi menyebarkan nyamuk malaria hidup di danau bekas eks tambang itu. Tetapi sulit dibuktikan karena berbagai kategori danau mempunyai PH yang tinggi sehingga nyamuk tidak bisa hidup. Tapi kalau danau-danau yang memiliki PH yang rendah dengan kedalaman yang tidak begitu dalam kami yakin itu sangat berpotensi.”

Kepala Dinas Kesehatan Bangka Belitung Hendra Kusumajaya mengtakan, jentik nyamuk malaria tumbuh subur di danau bekas tambang yang berusia lebih dari 5 tahun.

 

“Apakah kolong itu mempengaruhi dalam peningkatan nyamuk malaria? Ya tergantung usia kolong yah, semakin tua semakin banyak. Karena daerah sepadan itu ditumbuhi rumput. Tenpat perindukan nyamuk, karena adanya lumut juga. Kalau usianya masih muda, nyamuk tidak bisa hidup di sana karena adanya logam-logam berat. Karena PH-nya berat. Jadi dalam penelitian memang jarak terbang nyamuk itu 2 kilometer tanpa hinggap, kecuali nyamuknya naik motor. Akan lebih jauh lagi. Maka pemukiman yang jaraknya 2 kilometer dari kolong itu beresiko kena gigitan nyamuk.”

Sejauh ini tidak ada yang dilakukan Pemerintah Bangka Belitung terkait lubang-lubang bekas galian tambang yang menjadi sarang nyamuk. Pemerintah setempat hanya fokus melindungi masyarakatnya untuk menghindari malaria. Kembali Hendra Kusumajaya.

“Bagaimana intervensi perilaku dan lingkungan sehingga mengurangi risiko dengan gigitan nyamuk. Tentu saja perilaku dengan PHBS, perilaku hidup bersih dan sehat ini yang harus dimasyarakatkan. Kemungkinan adanya lingkungan yang harus diintervensi. Bagaimana drainasenya, air yang tergenang itu ditimbun atau kemudian di lancarkan. Sehingga mengurangi tempat perindukan nyamuk. Jadi masyarakat sendiri mengatasi jangan sampai digigit nyamuk dengan memasang kawat nyamuk, dengan memakai lotion nyamuk. Ibu hamil juga dicegah dari gigitan nyamuk, juga anak bayi dengan memberikan kelambu. Jadi kelambu-kelambu yang diberikan oleh UNICEF dan WHO itu dibagikan ke ibu-ibu hamil. Selain itu orang dewasa yang suka keluar harus memakai lotion anti nyamuk jika pergi ke daerah yang memakai perindukan nyamuk. Sementara pelayanan akses kesehatan juga semakin baik, 5-10 menit itu sudah sampai ke rumah sakit.”

Hendra Kusumajaya menambahkan, Pemerintah Bangka Belitung optimistis daerahnya bisa terbebas dari wabah malaria pada 2014 nanti.

Namun Direktur Walhi Bangka Belitung Ranto Uday meragukan hal itu. Kata dia, pemerintah harus mematikan sumber nyamuk malaria yaitu dengan menghentikan aktivitas pertambangan timah. Dengan begitu tidak ada lagi penebangan hutan dan lobang-lobang bekas tambang di Pulau Bangka dan Belitung.

“Penanganan masalah pertambangan ini tidak ada kata terlambat. Artinya Bangka Belitung masih punya peluang untuk memikirkan ulang. Sebenarnya tambang ini banyak ke sektor keuntungan, besar manfaatnya atau mudoratnya. Ini masih bisa didiskusikan oleh pemerintah dan pelaku tambang, dan hari ini masyarakat juga bagian dari itu. Kalau kami lihat tidak ada untungnya sama sekali. Jadi harus dipikirkan dengan resiko kehilangan nyawa.”

Kembali ke Juanaidi, pasien Malaria di Rumah Sakit Sungai Liat, Pulau Bangka. Malaria menurutnya tidak bisa dihindari oleh masyarakat Bangka Belitung.

“Pada intinya kalau banyak istirahat, malaria itu tidak kena. Tapi kalau kita kecapeaan, kerjanya diporsir, nggak tidur, umpama-nya kita siang-siang ada aktivitas lagi. Daya tahan tubuhnya turun. Dulu juga gitu, saya jadi security, pagi nggak tidur, siang ambil kegiatan berkebun. Dan itu saya kena, kayak sekarang.”

 

Selengkapnya dengarkan feature Radio SAGA di website Kantor Berita Radio 68H: http://kbr68h.com/saga/77-saga/14641-bangka-belitung-di-balik-ancaman-malaria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s