Hitam Timah di Negeri Laskar Pelangi

Standard

KBR68H – Hampir semua orang di Pulau Bangka menambang. Tua, muda, dan anak-anak. Apalagi sejak pertambangan timah liar semakin marak dalam 11 tahun terakhir. Tanpa disadari isi perut pulau itu terus tergerus. Keindahan Bangka Belitung yang sering disebut sebagai Negeri Laskar Pelangi perlahan-lahan menuju kehancurannya sendiri. Adakah upaya untuk menghentikan laju pengrusakan itu? Reporter KBR68H Pebriansyah Ariefana mengunjungi Pulau Bangka dan mencari jawabnya.

Hidup dari Timah

Siang itu Udin tengah sibuk menambang pasir timah di bekas pertambangan darat PT Timah Indonesia di daerah Pemali. Letaknya di sebelah utara ibukota Bangka Belitung, Pangkal Pinang. Butuh 3 jam perjalanan dari Pangkal Pinang ke Pemali.

Di sana Udin yang baru berusia 13 tahun membantu paman dan ayahnya. Ia putus sekolah sejak kelas 1 SMP. Dari pagi hingga sore, ia bertugas memisahkan pasir putih dengan pasir timah yang berwarna hitam. Pasir itu ada di bak penampungan yang terbuat dari papan kayu. Cara memisahkannya pun tidak sulit, Udin cukup mengaduk-aduk pasir putih yang disiram air. Ia mendapat upah 600 ribu rupiah per minggu.

Di kawasan itu ada 3 kelompok penambang timah darat tailing. Mereka menambang timah di bekas lokasi tambang PT Timah. Lokasi itu disebut tailing. Masing-masing kelompok ada 3 orang. Ayah Udin, Napsir memimpin salah satu kelompok. Sudah belasan tahun ia bekerja menambang untuk menghidupi isteri dan 14 anaknya.

Anak-anak di Tambang TimahAnak-anak di Tambang Timah

Dari 14 anak Napsir, hanya 5 anaknya yang ikut menambang bersamanya. Sedangkan yang lain kerja serabutan di perkebunan dan ada juga yang masih balita. Napsir tidak punya banyak pilihan selain membiarkan anak-anaknya ikut menambang.

“Daripada dikasih kerjanya main apa, daripada maling, lebih baik kerja begini.”

Selain Udin, ada juga Maslah. Maslah menambang bersama Udin. Bedanya, Maslah masih bersekolah.

“Saya sih cuma iseng aja, pulang sekolah. Cari uang jajan. Kemauan sendiri aja tanpa paksaan, kalau mau yah mau. Kalau nggak yah nggak.”

Tidak ada data resmi jumlah anak-anak yang ikut dalam aktivitas pertambangan timah di Pulau Bangka. Pengamat Pertambangan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Erwiza Erman memperkirakan, ada sekitar 5 anak terlibat di satu lokasi pertambangan. Kalau jumlah pertambangan timah darat liar di Bangka mencapai 600, maka ada sekira 3000 anak Bangka terlibat dalam aktivitas itu.

Erwiza Erman mengatakan, tingkat pendidikan yang rendah menjadi faktor utama.

Pasir Timah dalam EmberPasir Timah dalam Ember

“Itu wilayah-wilayah yang kaya sumberdaya alam tapi miskin dari sektor pendidikan gitu. Orang-orang Bangka sendiri kurang terserap ke sektor pertambangan besar. Kalau dilihat lagi dari kategori orang yang menambang tidak hanya laki-laki saja. Tapi juga ada ibu-ibu dan anak-anak kecil. Anak-anak SD itu. Jadi mereka menambang di wilayah-wilayah yang namanya tailing itu, di sisa-sisa penambangan.”

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangka Belitung Ismiryadi mengatakan, pemerintah tak bisa menghentikan keterlibatan anak dalam aktivitas tambang. Semata karena alasan uang.

“Mereka itu bukan bekerja loh, kalau mereka bekerja ada yang menaunginya. Itu di sebelum 2001 sudah mulai. Jadi setelah pulang sekolah, mereka bawa nampan, mereka nambang, mereka dapat timah, kemudian dapat duit.”

Bangka Belitung kaya timah. Sudah lebih 100 tahun bumi kepulauan itu dikuras. Awalnya PT Timah menjadi perusahaan tambang resmi di sana. Namun dalam 11 tahun terakhir, pertambangan liar oleh masyarakat semakin marak.

Napsir, Udin dan Maslah bukan tidak tahu aktivitas mereka melanggar hukum.

Tambang Timah Liar DaratTambang Timah Liar Darat

“Kalau nggak gini kita nggak bisa makan. Kan cuma ini mata pencarian kita di Bangka. Kecuali di kota-kota besar kan kita bisa mulung. Kalau di Bangka kan sudah umum nyari timah. Dari yang kecil sampai bapak-bapak.”

Yang tak disadari adalah dampak kerusakan lingkungan dari aktivitas tambang yang semakin marak itu.

Rusaknya Pulau Bangka terlihat jelas dari udara. Banyak lubang di daratan, bekas galian tambang, area botak tanpa pepohonan. Tidak hanya itu, kerusakan terlihat di pesisir pantai. Dari dalam pesawat tampak warna air laut di pesisir pantai Bangka berwarna abu-abu. Itu diakibatkan pasir laut yang terurai dan menyebabkan air laut keruh hingga 500 meter dari bibir pantai.

Bangka Terancam Rusak

Dampak kerusakan lingkungan akibat pertambangan di Bangka sudah mulai dirasakan warga. Linda Hermina, warga Pangkal Pinang.

“Penyakit bermacam-macam jadinya karena tambang-tambang yang tak teratur. Malaria biasanya, ispa. Pertambangan sekarang itu bedanya, udara jadi sangat panas dan krisis air. Gigi-gigi itu habis karena air timah kan. Giginya rusak karena ada kandungan timah terlalu banyak di Belitung.”

Lubang TersisaLubang Tersisa

Linda bersumpah, tidak akan mengizinkan anak cucunya untuk bekerja sebagai penambang, bahkan kerja di perusahaan pertambangan.

“Karena saya nggak akan menyarankan anak saya bekerja di pertambangan. Karena saya mikir itu kan bukan untuk kesenangan kita kan, itu dampak lingkungan untuk anak cucu kita.”

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung Hendra Kusumajaya membenarkan kondisi rawan air bersih akibat kandungan timah.

“Artinya begini, kalau kualitas air untuk air yang layak diminum memang ada beberapa hal. Air bersih yang diterima masyarakat itu baru 30 persenan di pedesaan. Mungkin di perkotaan aja ada 60 persen yang diayomi dengan PDAM. Jadi masih terkendala dengan air yang dari sumur-sumur. Ini yang menyebabkan penyakit-penyakit yang disebabkan olah air. Seperti diare, disentris, hepatitis, dan keracunan. Karena kualitas air yang kurang.”

Hendra menambahkan satu-satunya sumber air bersih untuk minum dan rumah tangga di Bangka berasal dari air penampungan bekas lubang galian tambang timah. Itu pun yang usianya lebih dari 5 tahun setelah tidak ditambang. Jika di bawah lima tahun, air itu masih mengandung logam berat.

Direktur Walhi Bangka Belitung Ranto Uday mengatakan tidak ada kata terlambat untuk mengatasi kerusakan alam Bangka akibat pertambangan.

Sisa GalianSisa Galian

“Sekarang krisis air. Baru 10 tahun kita sudah diobrak-abrik sama pertambangan. Terus 5 tahun ke depan kita mau ngapain. Kalau pemerintahnya sudah tidak mengeluarkan izin atau disebut moratorium atau apakah. Tapi setidaknya ini dulu yang dilakukan, tidak menyediakan izin tambang baru. Terus pelaku tambangnya harus bertanggungjawab. Kalau perlu harus ada sanksi pidana karena belum ada pelaku tambang yang masuk ranah pengadilan.”

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangka Belitung Ismiryadi mengklaim, bersama pemerintah sudah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi masalah tambang dan lingkungan ini.

“Kalau kawasan itu ingin dijadikan daerah tampung air, okay setelah nambang kita jadikan daerah tampung air. Kalau kawasan itu sudah ada tampungan air dari tambang-tambang terdahulu, okay kita jadikan konsep perumahan, kita ratakan tanahnya. Atau perkebunan, kebun apa yang cocok, kebun mete, atau apa gitu.”

Masalahnya, tak mudah menghentikan aktivitas pertambangan di Pulau Bangka. Hajat hidup orang banyak jadi alasannya. Kata Pengamat Pertambangan dari LIPI, Erwiza Erman.

Sungai Tercemar Sisa TambangSungai Tercemar Sisa Tambang

“Karena dia sektor leading atau sektor ekonomi yang pokok. Bangka itu masih tergantung pada sektor pertambangan timah itu. Harus ada usaha yang terus menerus untuk memperbaiki hal ini. Sektor-sektor non pertambangan dan ekonomi lain harus ditumbuhkan untuk nantinya mereka terlibat di dalam itu. Sektor pertambangan yang ready dengan mendapatkan keuntungan di waktu yang singkat dan sependek mungkin, itu kan merusak pulau itu. Seharusnya sistemnya berkelanjutan selain menciptakan pertanian dan lapangan pekerjaan.”

Mayoritas warga Pulau Bangka tak memliki pilihan lain selain hidup dari tambang. Warga Pemali, Sungai Liat, Bekti.

“Iya kayak gini. Setelah tambang kayak gini diizinkan. Tahun 2000 sudah mulai. Mungkin waktu jaman-jamannya Orde Baru bisa ditembak satpam PT Timah ataupun tentara. Kalau misalnya kerjanya di hutan lindung itu nggak boleh, dekat pemukiman dilarang. Kalau di sini nggak.”

Maslah, penambang liar timah di Pemali, Sungai Liat mengaku bingung jika dilarang bekerja tambang.

“Kalau nambang terus itu kan nggak nentu. Kalau kita cari kan pasti bakal habis. Kalau nggak ada skill lain yah terpaksa terus nambang. Saya sekolah di Masdrasah. Nambang pun nggak apa-apa. Kalau ada keterampilan bolehlah, misal ada botol-botol aqua dibuat tempat lampu. Ada juga teman seperti ini, ada juga yang nggak. Kalau yang nggak ada yang ngebor, ngebor untuk timah juga.”

( Dengarkan kisah tersebut di http://www.kbr68h.com : http://www.kbr68h.com/saga/77-saga/14215-tertipu-calo-penyelundup-manusia )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s