Islam dan Kristen Berbuka Puasa Bersama, Bisa?

Standard

Toleransi beragama masih menjadi barang mahal di Indonesia. Di bulan suci ini saja kita dengar masih ada warga sulit membangun rumah ibadah. Di awal bulan Ramadhan ini pula, Pemerintah Surakarta mengeluarkan larangan kegiatan buka puasa bersama diadakan oleh kalangan non-muslim. Sebaliknya, Sinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur, berkeliling menggelar buka puasa bersama lintas agama. Reporter KBR68H Pebriansyah Ariefana ikut dalam roadshow belajar toleransi ini yang digelar di Bogor, Jawa Barat dan di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Berbagi Kasih dan Rejeki

Beberapa jam jelang berbuka puasa, Suster Rita menyambut warga di Balai Pengobatan Umum Bintang Laut di Kalibaru Cilincing, Jakarta Utara. Di Balai Pengobatan yang dikelola oleh Biarawati Puteri Kasih Gereja Katolik itu akan digelar buka puasa bersama. Acara ini diadakan bersama istri almarhum Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, dengan warga pengupas kerang di Kalibaru Cilincing.

Suster Rita tidak sendiri. Ada belasan biarawati lain yang ikut membantu menggelar buka puasa bersama itu. Sudah 25 tahun suster Rita dan kawan-kawan hadir di tengah masyarakat Kalibaru Cilincing. Namun khusus acara berbuka puasa bersama, ini baru pertama kali.

Ratusan Warga sudah memadati lokasi acara. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan pria tua. Ada juga ibu-ibu yang membawa anaknya. Dengan mengenakan daster dan baju seadanya mereka terus disambut Biarawati Puteri Kasih Gereja Katolik dengan ramah. Dan akhirnya sosok yang ditunggu pun tiba.

Dialog dengan warga Kalibaru Cilincing

Pembawa acara memperkenalkan sang tamu sebagai ibu negara. Sontak tamu yang dinanti dan juga warga tertawa sekaligus kaget. Tamu itu adalah Sinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur.

Membuka acara, Sinta berkelakar, “Kalau memang dulu saya ibu negara saat Bapak abdurrahman Wahid menjadi presiden republik Indonesia yang keempat. Sedangkan yang sekarang menjadi ibu negara siapa? Ibu Ani Yudhoyono. Jadi kalau nanti disebut sebagai ibu negara, Ibu Ani bisa marah. Jadi disebut saja namanya.”

Sinta pun menjelaskan acara buka puasa bersama kaum duafa sudah ia lakukan tiap tahun, sejak mendampingi Gus Dur sebagai ibu negara.

Dalam acara buka puasa bersama itu, Sinta Nuriyah menyerukan pentingnya kebersamaan dan toleransi antar umat beragama.

“Yang diajarkan puasa kepada kita, terutama kita bisa merasakan penderitaan orang lain. Sehingga akan tergerak hati kita untuk saling tolong menolong, saling bantu membantu, saling menghormati, saling menyayangi. Itu semua diajarkan oleh puasa kepada kita sekalian. Kalau kita bisa melakukan itu, kita bisa menjalin persaudaraan yang sejati. Karena itu kita di sini saksikan bagaimana persaudaraan sejati ditampilkan. Yang menyelenggarakan acara di sini Suster Lia, Romo Edi, kan tidak seagama dengan kita.”

Suasana begitu hangat dan cair, canda tawa mengiringi ceramah Sinta Nuriyah. Usai berceramah, giliran warga menyampaikan uneg-unegnya. Salah satu warga, Rohaya mengeluhkan sulitnya hidup sebagai pengupas kerang.

Membagikan buka puasa

“Gini yah bu, kan warga di sini semua pengupas kerang hijau yah. Termasuk saya kan yah, cuma yang menjadi problem warga sini, akhir-akhir ini kerang yang kita dapatkan kecil-kecil yah. Untuk dapat 10 kilo aja mati-matian yah. Mungkin kena limbah kali yah. Makanya saya minta untuk Ibu Sinta untuk memperhatikan rakyat kecil yang ada di pantai. Makanya saya berterimakasih yah, anak saya 2 dibiayai sekolah oleh Suster Lia Puteri Kasih, alhamdulillah sampai tamat sekolah.”

Suasana keakraban antara warga kawasan Kalibaru, Cilincing dan para biarawati Puteri Kasih Gereja Katolik baru tercipta sekitar 5 tahun terakhir. Isu kristenisasi sempat muncul saat biarawati Puteri Kasih Gereja Katolik membuka balai pengobatan umum.

Suster Rita menceritakan, “Susah sekali waktu pertama kali masuk sini, kan namanya juga mereka pikir kok agama lain ke sini. Kan tujuan kami baik yah. Yah kami saling menghormati dan saling menghargai. Yang penting kasih kan yah. Warga sempat khawatir isu kristenisasi yah. Kami kan dari katolik. Tapi yah pertama kita arahkan ke anak-anak, kita sekolahkan. Kan dulu nggak seperti ini, pada sekolah. Terus kita kasih gizi dan belajar.”

Saatnya berbuka puasa. Hidangannya sederhana, nasi kotak yang dimasak para biarawati bersama warga, buah kurma dan air mineral.

Roadshow buka puasa lintas agama oleh Sinta Nuriyah tidak hanya dilakukan di Cilincing, Jakarta Utara. Acara serupa digelar di Bogor, Jawa Barat dan beberapa daerah lain. Apa yang ingin diajarkan dari acara semacam ini?

Melawan Upaya Intoleran

Saat Ramadhan baru dimulai, Pemerintah Surakarta dan Forum Lintas Agama Surakarta menyepakati larangan umat Islam berbuka puasa bersama umat agama lain. Alasannya, kata Kepala Kesbanglinmas Surakarta, Suharso, untuk menjaga situasi kondusif Kota Surakarta. Selain itu gereja yang menyelenggarakan buka puasa bersama itu dituding menyebarkan agama non-Islam dan mengganggu kegiatan agama Islam. Padahal selama puluhan tahun gereja di Surakarta itu menggelar buka puasa bersama dengan membagikan menu murah berupa nasi, lauk, air minum, dan sayur.

Sinta Nuriyah Wahid menilai, pelarangan berbuka puasa bersama dengan agama lain itu salah.

“Apa alasannya? Apa dalilnya yang tidak membolehkan? Karena tidak ada yang seperti itu. Bahkan ayat Al-Quran mengatakan semua di atas bumi ini adalah manusia. Tidak pandang suku apa, warga negara apa, agamanya apa. Semua dapat peringatan itu. Bahwa kamu Aku ciptakan dari jenis lelaki dan perempuan. Dan kamu aku jadikan bersuku-suku dan bergolong-golongan. Tujuannya apa? Untuk saling bekerja sama.”

Dua pekan sebelum di Cilincing, acara buka puasa digelar di Bogor, Jawa Barat bersama penghuni Pondok Pesantren Pesantren alGhazali. Jemaat Gereja Kristen Indonesia GKI Yasmin turut diundang.

Anggota Jemaat GKI Yasmin, Bogor Alexander Paulus mengatakan, momen kebersamaan dan toleransi dari acara buka puasa bersama ini lah yang dibutuhkan bangsa saat ini.

“Acara semacam ini meruntuhkan tembok-tempok pemisah itu. Itu ada di dalam pikiran. Harus dimulai dengan tokoh-tokoh agama. Tokoh-tokoh masyarakat untuk melihat momen ini. Bahwa ini momen yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara saat ini. Kita jangan melihat perbedaan, tapi kita melihat persamaan. Karena perpecahan dimulai dari sensitifitas agama yang telah terjadi saat ini. Pemerintah harus justru membuat kegiatan-kegiatan semacam ini.”

Muhammad Ikbal, salah seorang santri Pondok Pesantren al-Ghazali di Bogor mengaku, ia jadi lebih terbuka dan toleran terhadap agama lain setelah mengikuti buka puasa dengan Jemaat GKI Jasmin.

“Sebelum diadakan acara ini saya fanatik gitu yah sama agama-agama Kristen, Budha, menutup gitu. Nggak ada keterbukaan untuk mereka, mereka itu bukan saudara kita. Tapi dengan adanya acara seperti ini, alhamdulillah pandangan saya terbuka gitu. Kita hidup itu tidak hanya dengan umat Islam aja. Tetapi dengan agama lain juga ada keharmonisan. Jangan sampai ada kecekcokan di antara kita yang menimbulkan kericuhan-kericuhan yang sekarang terjadi.”

Di Kalibaru, Cilincing, Jakarta, kegiatan buka puasa bersama yang digelar para biarawati adalah upaya menghapus saling curiga antar umat beragama. Pemimpin Balai Pengobatan Umum biarawati Puteri Kasih Gereja Katolik, Romo Dedi.

“Ketika ada niat baik, itu akan menyatukan banyak hal. Ini didasarkan oleh keikhlasan, niat baik. Ikut Ibu Sinta ini memang karena sentuhannya ke grassroot, itu sentuhannya. Sebenarnya kan persoalan intoleransi ini ada di level-level atas, di level elit. Di grassroot sendiri suster-suster itu diterima di sini selama 25 tahun. Selama itu juga akan mengikis intoleransi dengan tindakan yang nyata. Saya rasa upaya Ibu Sinta ke grassroot itu adalah usaha riil, kesaksian. Itu lebih kuat bersuara dibanding saya yang bicara di seminar antar agama. Dengan acara ini apakah ada kristenisasi? Yang menilai kan orang lain ada kristenisasi atau apa. Warga bisa ditanya.”

Isu Kristenisasi ditepis oleh Rohaya, warga Kalibaru, Cilincing. Sebaliknya, Rohaya semakin memahami arti toleransi dan akan meneruskan pelajaran itu kepada tujuh anaknya, yaitu soal toleransi beragama.

“Dia itu kalau puasa menghormati. Anak saya kan pernah ikut bantu-bantu di sana. Waktunya buka, Hikmah kamu buka puasa dulu. Nanti waktu anak saya salat, kamu salat nggak hikmah? Dia itu nggak menilai agama apa gitu, dia itu istilahnya merangkul sama orang kecil. Bukannya saya mengada-ngada yah. Terbukti anak saya dibiayai sekolahnya. Kalau ketakutan adalah awas lu nanti anaknya dijadiin agama ini ini ini. Tapi saya tahu kakak ipar saya yang udah bertahun-tahun, sampai anaknya tamat SMA dan kerja, nggak ada apa-apa. Mereka itu hanya membantu biar umat Islam dan Kristen itu nggak bermusuhan, ada kerjasama.”

 

(Untuk mendengarkan SAGA KBR68H cerita tersebut, berikut linknya: Belajar Toleransi di Bulan Ramadhan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s