Komunitas Anak Langit: Manusiakan Kami!

Standard

Sabtu pagi di bantaran Sungai Cisadane, Kota Tangerang, Banten. Ada belasan anak-anak mendengarkan pria berusia 29 tahunan. Pria itu mengenakan celana pendek dengan kaos hitam bertuliskan ‘Jambore Anak Langit’. Belasan anak-anak itu adalah anak jalanan, dan pria itu adalah Mukafi Solihin atau Mi’ing.

Mi’ing berdiri di hadapan anak-anak jalanan yang sudah ‘bertaubat’ tidak lagi ada di jalanan. Jadi namanya mantan anak jalanan. Anak-anak itu usianya sekitar 7-13an  tahun. Belasan anak-anak itu bagian dari Komunitas Anak Langit. Mereka bermain, belajar, dan mengembangkan bakat di segala bidang seperti musik, melukis, bahkan membuat film pendek.

Komunitas Anak Langit adalah sebuah perkumpulan mantan anak jalanan atau anak jalanan yang menuju tidak menjadi anak jalanan. Nama komunitas itu bukan nama baru di kawasan Kota Tangerang. Markasnya di bantaran  Sungai Cisadane dekat kuburan China Tanah Gocap.

Di sana anak-anak mendapatkan pendidikan ‘alam’ gratis di Rumah Belajar Anak Langit. Tidak ada guru khusus atau formal yang mengajarkan. Mereka diajar oleh relawan-relawan yang peduli dengan nasib anak jalanan di Kota Tangerang.

Ada kisah yang tertuang dari beberapa mantan anak jalanan.  Mereka adalah anak yang berprestasi. Salah satunya Nasrullah atau biasa di panggil Nass. Sekarang Nass berusia 21 tahun dan sedang mewujudkan mimpi menjadi atlet kempo nasional. Kempo buat Nass dimulai pada 2007 lalu.

“Dulu kan sempat di jalan gitu, ada satu kakak maksa. Lu nggak mungkin kan selamanya hidup di jalan gitu, kebetulan digaet di Anak Langit. Kebetulan di Anak Langit itu pembinanya punya kegiatan, dari salah satu kegiatan itu beladiri gitu. Lalu saya di ajak, sempat tertarik juga yah, awalnya sih coba-coba, enam bulan latihan ditawarkan, ‘lu mau tanding nggak?’. Nah dari situ yah saya coba untuk bertanding, waktu itu event-nya itu kejuaraan antar pelajar di daerah Jakarta, kebetulan di situ juara 3,” begitu kata Nass.

Sejak usia 9 tahun Nass bercerita sudah meninggalkan orangtuanya. Alasannya ia ingin bisa hidup mandiri. Baru belakangan ia sadar, hidup di jalanan bukan langkah yang tepat.

Selain Nass, ada juga Eris Ramadhan. Eris pernah 2 tahun merasakan kejamnya kehidupan anak jalanan. Awalnya pada 2007 lalu saat kedua orangtuanya bercerai. Eris pun frustasi.

“Waktu itu gue yah luntang-lantung di jalanan, selama 2 tahun itu. Nyari duit, ngamen, apa yang bisa dijadiin duit bisa. Yang penting bisa menghasilkan uang entah itu haram-halal yang penting bisa menghasilkan uang kenapa nggak kalau di jalan tuh. Mabok, ngamen, dan yang nggak bener gue lakuin lah. Sama anak-anak punk gitu, kalau keluar kota bareng,” ungkap Eris.

Sekarang hidup Eris lebih baik, bakat bermusiknya terasah di Sirkus Perkusi Anak Langit.

“Sirkus perkusi itu band, bukan band sih tapi grup gitu. Alat musiknya menggunakan barang-barang bekas, panci-panci, tong-tong. Yah gue emang lagi seriusin di situ. Tapi selama gue bisa kerjaan yang lain, yah gue kerjain. Bantu-bantu bikin acara, kayak pensi gitu. Kalau gitu-gitu gue bantu, kalau anak-anak bikin sepeda. Kalau di sini bikin sepeda bekas jadi baru lagi,” lanjut Eris.

Jalanan mengajarkan arti perjuangan untuk mencari makan, namun jalanan juga tidak memberikan kepastian masa depan untuk Nass dan Eris. Mereka sering berhadapan dengan aparat pemerintah. Anak Jalanan dianggap mengganggu ketertiban kota dan memperburuk pemandangan Kota Tangerang. Anak jalanan dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP sering melakukan aksi kucing-kucingan. Bahkan dengan intel kepolisian sekali pun.

Pengalaman itu dialami oleh Dimas baru-baru ini. Dimas adalah anak yang masih hidup di jalan, namun yang sudah sedikit sadar kalau jalanan bukan tempatnya.

“Iya sama trantib, buser kemarin gara-gara anak punk. Ceritanya dia mabok obat, terus nyebrang eh ketabrak mobil, terus diusir sama polisi. Udah gitu polisi itunya lapor sama buser. Udah gitu dicariin, nggak semuanya.”

Saat ini Pemerintah Kota Tanggerang tak lagi memakai cara kekerasan dalam menangani anak jalanan. Satpol PP Tanggerang pun mulai dianggap sebagai teman, kakak, bahkan ayah sendiri.

Seiring dengan pembenahan perkotaan oleh Pemerintah Tanggerang, dalam 5 tahun terakhir pengentasan anak jalanan dilakukan dengan cara berbeda. Salah seorang pendiri Komunitas Anak Langit, Mukafi Solihin atau biasa disapa Mi’ing.

“Berbeda sekali, kalau pemerintah kan standarnya itu penjemputan di jalan, dadakan, taruh di panti abia itu mau ngabur atau nggak bodo amat. Yang penting pemerintah mah bagaimana mereka tidak ada di jalanan. Caranya kadang-kadang tidak memanusiakan anak-anak. Mereka melakukan itu karena mereka nggak tahu. Makanya fungsi kita untuk memberi tahu caranya, itu kan anak-anak,” jelas Mi’ing.

Kata Miing, Dinas Sosial dan Satpol PP bersama Komunitas Anak Langit sudah sepakat menggunakan cara yang lebih halus terhadap anak jalanan. Tujuannya agar anak-anak jalanan tidak menganggap pemerintah, khususnya Satpol PP, sebagai musuh. Mereka memberikan pilihan kepada anak-anak jalanan.

“Kalau Kita sih terserah anak itu, kita nggak paksa mereka. Kalau kita kan biasanya kalau sama Trantib itu juga dipaksa. Intinya sekarang kita seringnya ngobrol, turun ke jalan, ngobrol sama mereka. Urusan mereka ikut apa nggak sama kita itu urusan mereka. Kalau mereka mau ikut, syukur, nah kalau nggak juga jangan dipaksain. Karena kebaikan kalau dipaksa juga jadi nggak baik,” katanya.

Pendiri Komunitas Anak Langit lainnya, John menuturkan saat ini Satpol PP sudah sangat bersahabat dengan anak-anak jalanan. Bahkan terkadang saat ada penertiban para anak jalanan tidak lari tunggang langgang, justru mereka anggap Satpol PP adalah ayahnya sendiri.

“Ada razia memang, ada peraturan daerah yang berkenaan dengan ketertiban. Tapi mereka misalkan hari itu ada, bukan ketakutan si anak, tapi wah ayah saya datang nih. Nah saya minggir dulu deh. Kita selalu mengarahkan anak untuk sungkem, trantib datang sungkem ‘assalamualaikum ka’ panggilnya kakak. Itu yang kita bangun kan. Jadi selama ini kita memanusiakan manusia, menganakkan anak dengan dunianya. Tidak ada saya paling berkuasa di sini,” cerita John.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Pembinaan Satpol PP Kota Tanggerang, Rudi Hartadi mengatakan, Satpol PP tak perlu lagi menguras banyak tenaga menertibkan anak-naka jalanan. Menurutnya, cara kekerasan sudah bukan jamannya lagi.

“Kita mencoba melakukan represif atau tekanan kepada mereka. Tapi kembali tadi seperti contoh yah, sebaliknya mereka mengganggap dirinya seperti tadi, anak bangsalah yah. Bukan manusia yang kotor dan manusia yang ngk jelas, tapi kalau diajak dialog mereka memang cukup memahami tentang peraturan daerah, bagi mereka yang melanggar suruh baca peraturan daerah itu K3, kalian baca dan ingat itu, kesalahan kalian di sini,” ujar Rudi.

Strategi memanusiakan anak jalanan sudah dilakukan. Namun tidak berarti anak jalanan, pengemis dan gelandangan akan hilang di Tangerang. Kepala Dinas Sosial Tanggerang, Erlan Rusnarlan mengaku, Tangerang selalu menjadi sasaran empuk gelandangan dan pengemis-pengemis dari luar kota, tak terkecuali anak-anak terlantar.

“Nah di Kota Tangerang ini ada kasus tersendiri. Bahwa di Kota Tangerang itu ada mereka yang eks penyakit kusta. Nah penyakit kusta ini sebagian oleh pemerintah kota diberdayakan di Dinas Kebersihan yang mempunyai gaji perbulan. Ada juga yang oleh kita itu dengan kemampuan fisiknya, dilatih membuat kerudung payet atau pelatihan peternak lele. Ada salon atau montir dan sebagainya. Tapi ada juga yang memang mereka yang secara fisik sulit mengikuti pelatihan. Fisiknya memang tangannya nggak ada, kakinya nggak ada. Sehingga mereka mampunya hanya mengemis di jalan. Karena dia mengemis di jalan, dia punya istri, dan punya anak. Nah karena orangtuanya pengemis, yah anak itu main-main di jalan. Nah mereka itu jelas-jelas warga Tangerang,” kata Erlan.

Anak jalalan di Kota Tangerang memang berkurang dari tahun ke tahun. Jumlah anak jalanan pada 2010 lalu sebanyak 150-an. Ini turun drastis dibandingkan 2006 lalu yang berjumlah 400 anak.

Meski sudah berhasil mengurangi anak jalanan di Kota Tangerang, Kepala Dinas Sosial Erlan Rusnarlan sadar kalau fasilitas untuk menampung anak-anak terlantar, gelandangan dan pengemis masih jauh dari layak. Misal saja di Rumah Singgah milik Dinas Sosial yang tak terurus. Erlan berjanji di tahun 2012 nanti akan mencarikan tempat baru untuk dijadikan Rumah Singgah Dinas Sosial.

“Rencana memang ada, dan kami sudah mengusulkan kepada Pemerintah Kota Tangerang melalui APBD untuk dibangun rumah singgah secara permanen. Hanya saja karena tanahnya belum dapat dan lokasinya. Nah ini sedang mencari tanahnya untuk bisa dibangun. Atau alternatif dua rencana ada kelurahan yang membangun kantor baru, kemudian bekas kantornya bisa digunakan akan kita mohonkan untuk dijadikan rumah singgah tadi,” lajut Erlan.

Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang adalah langkah maju dalam mengentaskan anak jalanan. Pemerintah tidak membasmi anak jalanan, namun memelihara mereka dengan memberikan fasilitas pengembangan diri.

“Bahwa mereka akan terus dilakukan pembinaan. Dan ikut serta diikutkan pelatihan-pelatihan yang disediakan oleh kami. Karena sekarang lagi trend pelatihan perbaikan HP, yan mereka diikuti itu. Terus untuk diikutkan pelatihan perbaikan montir dan motor. Karena latar belakang pendidikan mereka agak rendah, terbatas dan sebagainya. Sehingga dengan diberikan pelatihan seperti itu, kami berharap mereka tidak lagi hidup di jalanan lagi. Bisa mandiri dan bekerja sesuai dengan keahlian pekerjaannya tadi,” tutup Erlan.

(Untuk mendengarkan SAGA KBR68H cerita tersebut, berikut linknya: Memanusiakan Anak jalanan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s