Marzuki Alie, yang Benar Saja!!!

Standard

Oh 4L4Y, oh 4L4Y…. Begitu beberapa teman-teman wartawan DPR menyebut Ketua DPR Marzuki Alie dalam konteks bercandaan. Sudah 3 bulan ini DPR tongkrongi, belum secara detail tahu budayanya. Hanya saja beberapa kasus DPR sempat saya ikuti, dan tak sengaja beberapa kasus soal pernyataan Marzuki Alie yang dianggap media menjadi kontroversi.

Sebut saja 7 pernyataan Marzukie Alie yang dianggap Media sebagai pernyataan heboh. Ini saya petik dari Kompas:

1. Pernyataan soal nelayan yang menjadi korban tsunami Mentawai, Sumatera Barat, 27 Oktober 2010. “Ada pepatah, kalau takut ombak, jangan tinggal di pantai.”

2. Pernyataan soal sejumlah kasus yang menimpa TKW di luar negeri pada 26 Februari 2011. “PRT TKW itu membuat citra buruk, sebaiknya tidak kita kirim, karena memalukan.”

3. Menanggapi kritik tentang anggota DPR yang membawa istri saat kunjungan kerja. Ini diungkapkannya pada 17 Februari 2011. “Laki-laki sifatnya macam-macam. Ya perlu diurus untuk minum obat atau pingin hubungan rutin dengan istrinya. Itu terserah. Sepanjang tidak menggunakan uang negara,”

4. Mengomentari rencana pembangunan Gedung baru DPR, 9 Mei 2011. Menurutnya, rakyat tidak perlu dilibatkan. “DPR ini bukan ngurusin gedung, tapi rakyat. Kalau saudara-saudara tanya soal gedung terus, DPR tak ada lagi, ngurusin gedung aja.”

5. Menanggapi hama ulat bulu di Pulau Jawa, 13 April 2011. “Saya dengar ulat bulu sampai ke Jakarta. Itu peringatan Tuhan.”

6. Soal memaafkan koruptor, 29 Juli 2011. “Jadi kita maafkan semuanya. Capek kita ngurusin masa lalu terus.” Ini diungkapkannya pada 29 Juli 2011.

7. Terakhir, mengenai keterlibatan petinggi KPK yang diduga terlibat skandal. “Kalau tudingan Nazaruddin terbukti, sebaiknya KPK bedol desa atau lembaga dibubarkan saja.” Pernyataan ini juga diungkapkan pada 29 Juli 2011.

Ehm… Tidak ada yang aneh dalam isi pernyataan Marzukie Alie. Saya menangkap esensi yang jelas. Tapi, memang sepertinya Marzukie Alie tidak pandai dalam komunikasi politik. Beberapa pernyataan dia ditangkap sebagai sebuah penghinaan sampai bentuk ketidakberpihakan kepada rakyat.

Beberapa kehebohan yang saya ikuti. Pertama pernyataan soal nelayan yang menjadi korban tsunami Mentawai, dia bilanf “ada pepatah, kalau takut ombak, jangan tinggal di pantai.” Saya rasa benar, hanya saja Marzuki terlalu berani bicara itu di tengah rakyat yang tengah prihatin. Ini soal kapan Marzuki bicara lantang dan kapan harus mengalah dengan pemikirannya.

Sama halnya pernyataannya soal sejumlah kasus yang menimpa TKW. Dia seolah-olah menghina status TKW yang rendah karena akan membuat citra buruk negara. Saya tidak berpikir demikian, pengiriman TKW ke luar negeri memang harus dihentikan. Logikanya, sampai kapan orang luar negeri ke Indonesia jadi bos, konglomerat? Dan kapan dong penduduk kita keluar negeri itu jadi bos?? Masa cuma jadi budak saja. Namun memang itu hanya sikap saya yang berpikiran tak jauh, semua harus diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja.

Selanjutnya soal rencana pembangunan Gedung baru DPR Mei 2011 lalu. Saya agak terheran-heran, dan lambat laun simpatik dengan DPR. Banyak sekali masalah dan protes yang diajukan ke DPR ini. Selain memang mudah, status DPR juga kan wakil rakyat. Lalu ini menjadi polemik saat satu masalah saja yang disorot awak jurnalis. Sehingga munculah satu tanggapan dari Marzukie Alie, “DPR ini bukan ngurusin gedung, tapi rakyat. Kalau saudara-saudara tanya soal gedung terus, DPR tak ada lagi, ngurusin gedung aja.”

Dua kasus lain adalah wacana soal memaafkan koruptor dan pembubaran KPK. Saya terlibat langsung dan mendengar jelas apa yang dikatakan Marzuki.

Kira-kira begini, Marzuki agak gerah terus ditanya soal teman satu partainya, Muhammad Nazaruddin yang terlibat dalam penyuapan tender pembangunana Wisma Atlet Palembang. Dia bertanya, kenapa sih terus-terusn Nazaruddin?

Ujug-ujug dia bilang punya jurus jitu membebaskan Indonesia dari Korupsi. Saya menangkap jurus ini sama halnya jurus memusnahan satu generasi. Pertama dia bilang, umumkan kepada koruptor untuk memasukkan lagi uang hasil korupsi yang ada di luar negeri ke Indonesia. Proses pemasukan uang itu akan dikenakan pajak, 20 persen. 20 persen itu jadi milik negara. Kedua, setelah itu si koruptor dimaafkan, dengan catatan harus memasukaan uang-uang hasil korupsinya ke bank indonesia dan dikenakan pajak. Terakhir, Indonesia harus memulai sistem baru. Karena sistem yang ada saat ini sudah sangat kacau balau. Salah satu sistem yang harus diubah itu adalah proses transaksi tender keuangan. Semua harus lewat rekening yang berjenak.

Jadi, saya kira itu sah-sah saja. Apa yang diucapkannya tidak hanya sampai kata ‘memaafkan’ koruptor. Tapi ada embel-embelnya. Namun selanjutnya itu dikecam karena dihubung-hubungkan dengan beberapa kader partainya yang terlibat korupsi.

Yang terakhir itu soal wacana pembubaran KPK. Ini yang saya aneh, kok tiba-tiba Marzuki dianggap akan membubarkan KPK? Padahal ada embel-embel kata lain di sana. Dia bilang kalau di KPK sudah tidak ada orang yang kredibel, yah bubarkan saja. Lalu dibuatlah lembaga baru yang sama tugasnya. Yaitu memberantas korupsi.

Jadi sebenarnya di mana letak awal seolah-olah Marzuki itu biang kerok?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s