Jibril dan Aisyah

Standard

Saya mampu di antara orang-orang yang miskin…..

Ada yang menggetarkan hati saya sampai airmata buaya saya tersimpan, hanya airmata cicak yang keluar. Saya melihat apa yang saya sebut orang melarat….. Saya ingin berdoa, karena itu yang saya mampu, saya ingin memberi uang, tapi saya malu.

Saya takut uang saya tak cukup halal untuk memberinya makan. Ini soal permasalahan rakyat yang tak ada habis-habisnya…. Tuhan selamatkan lah mereka…. Mereka adalah saudaraku, saudara Muhammad, manusia tersuci di dunia.

Tapi aku yakin 2 kakek nenek itu juga suci seperti Siti Aisyah dan Muhammad-Mu itu.

Saya bersyukur setiap rasa yang Kau beri kepadaku. Rasa itu ada terus 27 jam, 7 hari seminggu. Rasa di mana saya bisa mengingat-Mu serta pemberian-Mu.

Tuhan, saya mendengar cerita mereka. Sangat romantis sekali. Cinta yang tak sejati itu. Mereka bertemu saat perang masih berkecamuk di Pasifik. Sekitar tahun 1949 mereka berikrar untuk saling mencinta. Tak ada nafsu, hanya cinta. Mereka hanya ingin hidup bersama di kala itu, saling bercerita soal tentara-tentara yang gugur di medan perang. Tentang Belanda yang masih rakus memakan rempah-rempah Sumatera. Cerita demi cerita meyakinkan mereka untuk menikah.

1953, Kemerdekaan sudah sepenuhnya dipegang. Partai politik tumbuh, termasuk PKI. Mereka menjadi simpatisan sang komunis. Uang melimpah, gaya hidup mewah, bahkan mereka sudah pernah ke Inggris dan duduk di Cafe tempat The Beatles pertama kali tampil.

Namun Komunis runtuh di 1965, mereka jatuh miskin. Abah Jibril diculik, Mbok Aisyah menunggu di Pangandaran, karena hanya pangandaran yang bebas dari sweeping komunis. Terus menunggu…. Mbok Aisyah selalu memandangi foto Abah yang sudh kusam.

“Saya saat itu begitu cinta sama Abah,” begitu kata Mbok Aisyah dengan mengusap kening Abah Jibril. 1975, Abah Jibril kembali dari pengasingan. Namun dengan keadaan berbeda, Abah Tak lagi bisa jalan. Kakinya kurus, karena dipasung dipenjara Nusa Kambangan.

Mbok Aisyah sedih kala itu, mengapa pria yang begitu ia cintai menjadi kusam dan lusuh? Saat menyambut Abah, Mbok Aisyah berbisik, “Abah sudah makan? Ayuk makan, Mbok sudah siapkan Nasi dan Oncom.”

Yaaaa Tuhan, airmata cicak-ku semakin berurai mendengar itu. Di saat mendesak di desak ekonomi, cinta itu utuh. Cinta Abah dan Mbok, masih utuh sampai sekarang. Selama puluhan tahun mereka berdua saling menghidupi dengan mengais sampah, bukan jadi gembel.

Saya pun bertanya, “kenapa Mbok Aisyah cinta sama Abah?”.

“Soalnya Abah cinta juga sama Mbok. Itu aja, Mbok dan Abah nggak bisa kalau hidup sendiri. Mbok dan Abah sama-sama (mem)butuh(kan).”

Yaaaa Tuhan, itu lah jawaban atas cinta sejati…. Trimaksih kau telah mempertemukanku dengan Abah Jibril dan Mbok Aisyah…..

Posted with WordPress for BlackBerry.

One response »

  1. “Soalnya Abah cinta juga sama Mbok. Itu aja, Mbok dan Abah nggak bisa kalau hidup sendiri. Mbok dan Abah sama-sama (mem)butuh(kan).”

    Kata-kata yang sederhana, tetapi dalam maknanya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s