Bolehkah Ku Panggil Sayang?

Standard

Ada sebuah mangkuk yang ku pegang saat ku tenggak kopi itu, tepatnya kopi cokelat hangat

lampu petromak itu redup, namun cukup menerangi kertas putih ini

aku bicara pada sebuah kesempatan padamu, bercerita tentang harapan yang tak hilang-hilang

berpertualang di jalan, mencari kepentingan

Sangat jelas mulutmu bicara, “aku ingin menikmati hidup dengan kesendirian, tanpa kekasih.”

Meskipun kau tegaskan dengan kata tambahan, “hanya sementara.”

Jelas di mataku, ku lihat raut kesedihan di wajahmu, seperti ada masa lalu yang tak hilang,

seperti sebuah ada hal yang ingin kau ceritakan kepadaku.

Manisku (bolehkah ku sebut itu?),

sini mendekat, genggam tanganku ini. Hangat bukan? Kehangatan ini hasil sebuah ektraksi ejakulasi kerinduanku kepadamu,

Lama sudah ada nantikan kebersamaan ini, di sebuah kedai remang-remang di sudut kota sebelah barat

Sini sayangku (apa itu juga boleh ku panggil kalu seperti itu?),

mendekatlah padaku, tumpahkan airmatamu itu.

Mendekatlah sayangku…

Meja Kerjaku, Utan Kayu 13 Juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s