Hujan… Mengapa?

Standard

Berdiri di sudut jendela kusam di belakang tempat kerjaku, hujan mengguyur tanpa ampun

Nyanyian sendawa terdengar sekejap di telingaku. Berjelaga menusuk setiap suara rintik hujan

Tiba-tiba teringat sebuah bahagia, saat bunga-bunga menyibakkan pucuknya, saat gelap malam tanpa ampun menggelapiku

Sang manusia terus menerus menghianati sang dewa, menangis merengek tanpa pujian. Aku di sini bersenda dengan gadis cilik

 

Aku ingin sesederhana rintikan itu, turun dan membasahi

Aku ingin seterang mentari, namun tak berniat memanasi bumi

Aku ingin sedingin malam dengan gelap romantismenya

Aku ingin sebesar Cemara tanpa berharap lenyentuh langit

 

Alunan lagu terus menggerogotiku di kala hujan berhenti turun…

saat itu juga aku mulai bosan dan ingin memejamkan mata sambil berpikir soal kecintaanku padamu

 

Meja Kerjaku, Utan Kayu 27 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s