… Selalu di Sampingmu, Manisku

Standard

…. sementara itu saya diam, duduk di sudut meja. Ada poster ‘Peace Freedom Democracy’, tapi saya hanya diam. Sebuah pikiran mengatakan bahwa saya adalah sang penguasa, padahal di balik itu saya lemah tak berdaya dengan memandang sang surya yang tak kunjung tenggelam. Ada sebuah harapan setidaknya, sebuah hal yang ingin saya katakan bahwa ini adalah perubahan.

Berubah untuk mengatakan ‘tidak’pada kebusukan, kepada setiap hal yang terjadi. Itu palsu kawan, hanya keinginan yang akan menuntunmu menuju apa yang kau mau. Hanya penindasan yang akan membuatmu bahagia, namun kau tak sempurna. Masih ada hal terbaik di luar sana, masih ada seorang kakek tua yang akan mengajakmu pergi. Dan masih ada aku yang akan menggenggam tanganmu.

Masih ada aku yang selalu memutarkan alunan 50-an di atas meja kerjaku. Masih ada aku yang berjelaga di hamparan tandus Semeru. Bahkan aku akan ada di sisimu Manis. Masih ada berbisi soal kehampaan di setiap pikiran, masih ada penghayatan di sela-sela jiwa.

 

Sebait puisi aku buat malam ini,

Surga itu perlahan hilang si makan cumbu rayumu

di sela kesunyian malam di gang sempit

sesampainya aku di sana, itu adalah kehampaan

aku tak bisa merasakan kenikmatan sunyi.

 

Utan Kayu, 13 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s