‘Selamat datang, MariSini’

Standard

Rumah Makan MariSini

Mariii, kembali ke akhir pekan… Ini semakin membuat saya bersemangat, menyisihkan waktu untuk diri saya dan orang-orang terdekat. Tak terkecuali kekasih tercinta saya, Sandika.

Jumat (3/6/2011) Sibiru rasanya fit sekali, hari itu liputan agak sepi merona. KPK rupanya tidak ada pimpinan, mereka ikut cuti bersama. Al hasil saya ditarik ke Redaksi Utan Kayu KBR68H lebih cepat. Pukul 14.00 WIB saya kembali dengan colorbar (istilah kaset rekaman tak ada suara). Tapi tentunya itu hal biasa di dunia jurnalisme radio yang memerlukan suara dalam sumber pemberitaan. Sesampainya di meja redaksi, saya inisiatif hubungi narasumber untuk beberapa berita, masih soal Nunun dan Udin Demokrat.

Pukul 17.00 WIB, seharusnya saya sudah beranjak pergi karena jam shift sudah habis. Sandika meminta tolong untuk mengantarkan mengambil anak-anak (dua kucing saya, Cisa dan Chiko) di Pets Shop. Mereka sedang ditreatment atau dibersihkan seluruh tubuhnya. Okay, saya meng-iya-kan. Wuuusshhh….

Sesampainya di Tangerang dari Utan Kayu Jakarta Timur, kami berencana untuk ke Lippo Mall Karawaci untuk makan malam. Saat itu Lippo lumayan ramai, ditandai dengan kondisi foodcourt-nya yang penuh sesak. Mutar-mutar kami mencari makan, eeeiitttsss tunggu sebentar…

Pandangan kami tertuju kepada satu sudut counter makanan di sebelah McDonald Foodcourt Lippo. Unik sekali, sebuah counter food yang menyajikan suasana warung kelontong tempo dulu. Warung kelontong itu bernuansa biru dengan desain serba tempo dulu. Kami pun memutuskan untuk makan di warung tersebut.

“Ada tamu…!!!” Seru seorang pelayan warung itu. “Mari sini…” Sahut pelayan lain. Begitu kami disambut dua pelayan kompak mengenakan pakaian motif bunga-bunga berwarna pink ala tukang jamu. Nama warung kelontong itu ‘Warung Makan MariSini’.

Kami duduk, kepala ini tidak berhenti menengok kanan kiri, mengamati apa saja yang dijual, serta menyimak ornamen-ornamen MariSini. Begitu unik! MariSini sangat mengingatkan saya dan Sandika di masa kecil. Bagaimana tidak makanan camilan dan mainan anak-anak semasa kami belia di jual. Misal saja biskuit bunga, cokelat ayam jago, dan macam-macam permen serta biskuit. Semua tersimpan rapi dalam toples. Ada juga mainan-mainan anak-anak yang tergantung dalam plastik-plastik. Misal saja pedang-pedangan plastik, mainan masak-masakan, ada juga balon-balon. Wah… Semua yang ada di situ benar-benar warung jaman dulu. Belum lagi kursinya terbuat dari kayu seperti semasa saya TK. Taplaknya pun bermotif bunga khas warung makan jaman dulu.

Saya teringat semasa kuliah suka ngopi-ngopi di Tugu Proklamasi atau di warung makan di kawasan Salemba bersama teman-teman pergerakan Mahasiswa. Yah, seperti itulah, sangat rasa pinggir jalan kebetulan saya penikmat suasana pinggir jalan yang tidak pernah berbohong.

MariSini yang dibuka sejak awas 2011 itu menyajikan makanan-makanan pinggir jalan. Sebut saja nasi goreng, nasi bakar, mie lontong, gado-gado, tahu goreng, tahi kopyok, mie tek-tek dan lain-lain. Minumannya pun beragam, yah sebut saja khas minuman pinggir jalan.

Dari segi harga, ehm… Saya menilai relatif murah. Sekelas mie goreng atau nasi bakar saja Rp 15 ribu dengan porsi yang lumayan banyak dan mengenyangkan. Minumannya mulai dari sekitar Rp 6 ribuan, mulai dari kopi tubruk, teh manis, dan sebagainya.

Karena perut sudah terisi penuh, hanya Sandika saja yang memesan makanan. Nasi bakar dipilihnya, dan kami cukup terkejut. Rasanya enak sekali, terlebih citarasa pinggir jalan yang gurih dan agak sedikit gosong terasa di mulu. Selain itu porsinya juga cukup pas di perut. Di sajikan dalam mangkok dan piring motif bunga-bunga. Saya lupa namanya jenis piring apa itu. Yang pasti piring dan mangkok itu biasa digunakan di era tahun 60-an oleh masyarakat ‘pinggir jalan’. Wah, kamin kental saja suasananya.

Saya bertanya ke Sandika soal suasana warung itu. Sepertinya ada yang kurang, ehm… Yah lagu tempo dulu. Kami sepakat jika Warung MariSini menyediakan backsound lagu-lagu melayu jaman dulu, seperti lagu penyanyi Malaysia Saloma, Bing Slamet, dan sebagainya. Tepatnya musik tahun 50-60an. Itu saya rasa lebih enak.

“Trimakasih sudah mampir, MariSana…..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s