Soerabi, Seandainya Terdengar Gambang Kromong atau Keroncong

Standard

Ahhhh… Sabtu lagi, hari yang begitu saya nanti di setiap pekan. Apalagi saya baru saja memulai kesibukan baru sebagai wartawan radio di Kantor Berita Radio 68h. Radio besar dengan jaringan 800 radio lebih di Indonesia, Asia dan Australia. Kesibukan saya sebagai wartawan radio pun semakin bertambah, tantangannya banyak prosedur dan alat yang harus di kuasai. Tentunya berkejaran dengan dateline yang lumayan ketat.

Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan di Sabtu (28/5/2011) ini. Tapi tentang romantisme makan surabi di Kedai Soerabi Qita, Jalan Kisamaun, Tangerang.

Saya sempat berdiskusi kecil dengan kekasih saya, Sandika. Mengapa surabi? Mengapa bukan serabi? Ehm… Usut punya usut ternyata surabi itu masih satu ‘marga’ dengan serabi. Selain beda asal, tekstur surabi lebih halus dan ‘elit’ dibanding serabi yang ‘merakyat’. Saya suka menyebut serabi sebagai kaum terpinggirkan, semakin gosong dan penyajiannya sederhana, serabi itu semakin berkelas. Kalau surabi, tekstur halusnya membuat kue yang satu ini mudah naik pangkat.

Misal saja, surabi di Soerabi Qita ini. Banyak sekali perubahan dari surabi yang penyajian dasarnya kue surabi plus saus gula merah kental. Nah di Soerabi Qita ini menyanjikan 60 lebih cara penyajian, namun bahan dasarnya kue surabi.

Begitu datang di kedainya, saya sudah dijejali menu yang membingungkan. Belum lagi poster yang terpajang dengan bergambarkan penyanyian surabi mulai yang kategori manis dan asin.

Apa saja yang bisa dipilih? Okay, saat datang dari ke-60 surabi saya pertama pilih surabi oncom sosis spesial. Surabi ini unik, oncom kering (sedikit basah karena pengaruh panas) dan sosis potong ditabur di atas adonan surabi. Tapi anehnya rasanya maknyus pemirsa, semua satu di mulut. Kali ini saya cicip surabi itu dengan saus sambal. Ehm… Modern dan Indonesia klasik menyatu di lidah.

Ada lagi surabi cokelat keju spesial yang dipesan Sandika. Agak mewah surabi yang satu ini, bisa dilihat di sajiannya. Surabi bertabur butiran cokelat saat dipanggang. Setelah itu ditaburi parutan keju craft. Belum cukup, ada saus kental berwarna kehijau-hijauan mengkilap menyelimuti surabi. Sampai sekarang saya memutuskan tidak ingin tahu saus apa itu, saya hanya ingin tahu rasanya yang begitu nikmat. Menyatu dengan rasa kelapa surabi. Rasanya manis dan saya nilai abstrak, antara rasa orange dan srikaya. Tapi saya rasa bukan… Kental saus itu membuat awet di lidah. Terlebih taburan dan butiran cokelat yang meleleh saat dikunyah.

Seret? Ehm tidak mungkin terjadi. Tekstur dan rasa surabi yang satu ini tidak kering seperti serabi yang berbahan dasar kelapa parut. Surabi ini seperti pan cake, namun lebih terasa aroma santan kelapa. Tapi tidak lucu kalau tak pesan minum di kedai ini. Karena banyak beragam jenis minuman, memang sejujurnya standar. Seperti minuman bersoda, teh botol, jus jeruk dan sebagainya. Namun ada satu yang Sandika pilih, yaitu teh tarik. Teh ini menjadi favorit saya yang suka sekali dengan cita rasa timur tengah. Paduan teh dan susu kental ini pas ‘melawan’ surabi manis maupun asin. Apalagi disajikan hangat…

Satu menu lagi yang begitu menggoda saya dan Sandika, surabi duren. Ehm… Sayangnya saat itu durennya belum ada. Namu setelah ditunggu, akhirnya tersedia. Menurut pelayannya, surabi saus duren sering ada di sore hari. Mengapa? Memang keberadaan surabi ini mengikuti laju pertumbuhan duren di pasaran. Jika ada duren, yah ada juga surabi duren.

Karena perut Sandika sudah penuh dengan surabi, maka saya saja yang memesan. Kali ini saya ingin mencoba kinca duren polos. Kinca ini nama saus yang berbahan dasar duren. Namun kinca ini dimasak terlebih dahulu, pengolahannya sama halnya seperti membuat fla puding. Disajikan hangat. Beruntung saya pemesan pertama surabi kinca duren, jadi kinca hangat beraroma tajam duren menusuk hidung.

Penantian 15 menit sajian surabi duren tak sia-sia, surabi kinca duren begitu lezat. Agak sulit menggambarkannya, rasa kinca duren begitu menyatu dengan rasa surabi yang berbahan dasar kelapa santan. Begitu di lidah, rasa hangat kinca tak begitu saja luluh di lidah. 3 suap, aroma duren begitu apik menjilat-jilat dinding mulut saya. Ehhmm… Habislah surabi itu dalam 5 suapan saja…

Saya ingin memesan lagi, tapi ternyata kenyang sekali memakan 2 surabi berbeda jenis rasa.

Rata-rata harga surabi paling murah Rp 4 ribuan, yang paling mahal Rp 10 ribuan. Tentu itu tidak mahal untuk pengalaman menarik menikmati surabi dari sudut berbeda dan langsung disajikan hangat tanpa bahan pewarna dan pengawet.

Suasana klasik Soerabi Qita

Ada hal lain yang menggoda mata, telinga, bahkan batin saya saat menginjakkan kaki di Soerabi Qita. Citra rasa klasik tempo dulu, itu yang saya cari saat menikmati surabi maupun serabi. Soerabi Kita tidak menyajikan suasana modern, semisal berjualan di ruko atau di ruang AC. Justru suasana panas tungku dan arsitektur warung khas ‘kampung’ menyatu dengan rasa surabi.

Apalagi kebetulan backsound lagu-lagi Iwan Fals menjauhkan kesan dan rasa borjuis. Saya tidak menemukan sosok borjuis, rata-rata pembeli datang dari kalangan bawah. Mungkin itu hanya perasaan saya saja, namun cara berpakaian mereka begitu sederhana dengan memakai kaus dan celana pendek. Sama seperti saja, meski saya tahu mereka datang menggunakan Mercy. Itu tak masalah, yang penting sore itu begitu saya nikmati.

Sebenarnya saya berharap lagu yang menjadi backsound adalah keroncong atau gambang kromong. Lagu yang saya gemari hingga saat ini. Suasana klasik pasti makin kental, ditambah begitu banyak rumah tua kaum China Benteng bermukim di kawasan Jalan Kisamaun Tangerang.

Tidak terasa sore menjelang, matahari sudah mulai turun dari tugasnya menerangi siang. ‘Cita rasa’ Tangerang saya teruskan dengan menyisiri bantaran Kali Cisadane, tempat favorit saya di hari libur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s