Idealisme itu Masih Ada, Hanung!!!

Standard

Sutradara Hanung Bramantyo marah saat dibilang melebarkan sayap ke dunia teater saat berbain di ‘Laskar Dagelan’. Tidak senang, ia pun bercerita perjalanan kariernya yang bergelolak dan penuh emosional.

Sebelum terjun menjadi sutradara, Hanung terlebih dahulu berprofesi sebagai pemain teater di Yogyakarta. Tahun 1988 sewaktu dirinya duduk di bangku SMP, pria 35 tahun itu mencicipi panggung.

Di sana Hanung kecil diasuh oleh Sanggar Anom pimpinan tokoh seniman Yogya, Gentong HSA. Perjalanannya menimba ilmu teater saat itu mengantarkan Hanung berkenalan dengan Butet Kartaradjasa dan Djaduk Ferianto.

Saya sering nonton pementasan mas butet dan Mas Djaduk, saya lebih banyak belajar sendiri soal teater. Tapi formal yah sama Pak Gentong,” kata Hanung saat berbincang di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Selasa (29/3/2011) malam.

Tidak hanya dengan Gentong, Hanung pun mencari guru lain. Sanggar Jeprik pun menjadi pelabuhan kedua Hanung menimba ilmu panggung. Banyak yang ia pelajari, terutama soal ilmu akting.

Hanung muda begitu mencintai dunianya saat itu meski tidak menghasilkan banyak uang untuk hidup. Bukti kecintaan Hanung dengan teater ditunjukan saat dirinya memberanikan diri mendirikan sanggar teater bernama Teater Kanvas. Cukup lama Kanvas eksis.

Akhirnya tahun 1996 Hanung berhenti dari panggung teater, ia meninggalkan teaternya untuk hijrah ke Jakarta mendalami dunia film. Tahun 1997 ia berangkat.

Namun bukan sebuah hal yang mudah dirinya melangkahkan kaki ke Jakarta. Hanung bergolak dengan hatinya, dengan rasa cinta terhadap teater, dan dengan Yogyakarta.

Pada saat saya ke Jakarta, ada satu hal yang saya katakan ke Jakarta itu hanya untuk bekerja kok, tetap hati saya, roh saya itu di Yogya,” paparnya.

Itu adalah hal yang terberat, ketika Hanung meninggalkan Yogya. Terlebih saat Hanung harus meninggalkan Marzuki, presiden Yogya Hip Hop Foundation.

“Dia sahabat saya, waktu saya pergi kita emosional, kita terpisah. Karena dia itu partner saya dalam berkesenian,” lanjut Hanung.

Awalnya keinginan Hanung ke ke Jakarta hanya sekadar mampir. Hanung berharap bisa sesekali naik panggung. Tapi tidak bisa, ia larut dalam keasyikan dunia film dan hasil perolehan dunia film.

“Saya hanya mampir ngupi, setelah itu kan pulang ke Yogya. Tapi akhirnya saya akui saya kalah dan akhirnya Yogya saya tinggalkan. Keinginan pentas drama sama teman-teman saya pendam. Bersamaan dengan itu semua teman saya tumbuh berkembang. Tapi saya harus membunuh kerinduan saya ke dunia panggung, sebenarnya dunia saya itu di sana,” papar Hanung.

“Seperti ada pikiran kalau saya di sana (di dunia teater), saya tidak bisa hidup. Ada pertentangan antara komersil, saya mencari uang. Saya harus ada idelisme, di kepala saya harus bergelolak,” lanjutnya.

Di Jakarta Hanung menimba ilmu dengan Teguh Karya, di sana Hanung menemukan dunia barunya. Dunia yang bisa membunuh keinginannya dan mimpi-mimpi Yogya. Ia pun tidak sungkan menyebut dirinya ‘pelacur’ saat di Jakarta.

“Karena Yogya sudah saya tinggalkan, maka akhirnya saya harus memilih saya mau ke mana. Ya saya harus di Jakarta, Jakarta harus saya hadapi. Istilahnya saya jadi pelacur, jadi pelacur deh. Dan terus terang saya jadi pelacur, berkompromi dan meninggalkan idealisme saya,” tandasnya dengan nada emosional.

Seteleh lama bergelut menjadi sutradara dengan melahirkan film-filmnya, Hanung baru menemukan sosok dirinya di film saat menggarap ‘Sang Pencerah’. Ia jujur membuat film itu dengan segala macam idealismenya.

“Saya kan tidak jujur, saya bohong selama ini dalam membuat film. Nah akhirnya saya bisa membuat film tentang YogYa, ‘Sang Pencerah’. Sebenarnya itu adalah akumulasi saya. Ini idalisme saya, dan alhamdulillah sukses. Saya menunjukan itulah jujur dari diri saya,” ungkapnya lagi.

Sekarang, Hanung sudah menemukan idealismenya lagi setelah membuat ‘Sang Pencerah’. Ia pun berusaha akan jujur di filmnya, ia tidak ingi lagi ‘dijajah’ oleh komersialisasi industri film.

“Sekarang please, jangan memaksa saya berkompromi, jangan menyuruh saya membuat film yang bukan keinginan saya,” tutupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s