Film Indonesia ‘Siaga 1’!!!

Standard

Bukan hal yang baru lagi jika saat ini film Indonesia dalam kondisi siaga 1. Hanung Bramantyo pun menyetujui anggapan itu. Sutradara ‘Ayat-ayat Cinta’ itu menyebutnya Indonesia tengah dilanda bencana di Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret 2011 ini.

Dalam sebuah perbincangan santai di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Hanung memberikan pandangannya di Hari Film Nasional. Pertama, Hanung sebenarnya tidak 100 persen setuju dengan sebutan ‘Hari Film Nasional. Mengapa? Kata Hanung saat ini makna kata ‘Film Nasional’ saja belum jelas.

“Jangan film nasional dulu, artiakan saja dulu nasionalisme apa? Nasional itu apa? Film nasional itu dimaknai apa? Apakah film dari Indonesia? Apakah film yang dimaknai sebagai buatan orang Indonesia? Atau berbahasa Indonesia. Apa kriterianya? Mengapa film ‘Merah Putih’ tidak lolosa FFI?” tanya Hanung yang mengenakan pakaian serba putih.

Maka itu, lanjutnya, jika belum jelas artinya sebut saja Hari Film Indonesia. Itu lebih luas cakupannya.

Di Hari Film Nasional yang dirayakan tiap tahun seharusnya diikuti dengan refleksi untuk mengingat kembali sejarah film Indonesia. Misalnya dengan diputar kembali film-film lama.

“Kita harus mengingat dulu itu ada film horor, ada film action, ada film percintaan dan sebagainya yang bagus,” ungkap Hanung.

Sayangnya hal tersebut hanya dilakukan oleh Kineforum yang memutar kembali film-film nasional selama sebulan penuh sejak 1-31 Maret 2011. Namun langkah tersebut menurut Hanung tidak diikuti dengan dukungan pemerintah.

“Tidak dibantu dengan publikasi yang baik. Nah, orang jadi buka mata kita semua, film itu penting, karena bagian dari sejarah,” katanya.

Makanya dengan situasi tersebut Hanung menyebutnya film Indonesia tengah mengalami bencana. Ditambah dengan pelemik undang-undang soal film dan kebijakan bea masuk film asing.

“Kita mengalami bencana film, adalah situasi yang kita jelas. Bencana regulasi, bencana penonton karena makin sedikit, bencana tema yang stuck, ditambah dengan tiba-tiba film import berhenti,” ungkapnya.

Dengan kondisi sepinya film di Indonesia karena film impor distop, maka ada dampak negatif terhadap kualitas film Indonesia. “Ada seseorang yang gegabah membuat film untuk memenuhi quota saja,” tutupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s