Awas ‘Laskar Dagelan’ Marah!

Standard

Sudah rusak Indonesia ini, jadi seperti apa bentuk Indonesia yang Anda inginkan? Mungkin pasukan ‘Laskar Dagelan’ punya jawabannya.

Ehm… pagi hari di Yogyakarta. Tugu Kota Gudeg tersebut selalu sama, punya rutinitas dan tersendiri. Masih ada ayam yang ingin berkokok membuka hari di Yogya. Seorang abdi dalem Keraton berpakaian lengkap dinas berwarna merah menaiki sepeda ontel bututnya melewati tugu.

Srek… Srek… Srek, suara sapu jalanan dan sapu warga pun terdengar. Jalanan yang terlihat ada beberapa sampah dibersihkan, bahkan debu-debu yang mengendap pun kinclong, hilang dari padandangan saat disapu.

Tidak lupa, ibu-ibu penjual nasi gudeg khas Yogya yang biasa mangkal di kawasan Tugu. Berbagaimacam makanan jadi, seperti telur, jeroan, atau ayam-ayaman ia jual untuk memenuhi kebutuhan sarapan ‘kaum Yogya’ yang gemar memakan makanan berat.

Pagi itu juga terdengar suara pidato Presiden SBY soal kisruh keistimewaan dan isu monarki Yogya. Bersamaan datanglah trio purnakawan, yaitu Gareng Rakasiwi yang bertubuh tambun, Joned yang bertubuh kurus, dan Wisben yang bertubuh sedang. Mereka sekawan dan sepermainan yang berprofesi sebagai pelawak. Namun mereka sedang menganggur atau sepi job.

Mengapa? Pekerjaan mereka yang membuat orang tertawa sudah direbut oleh para pejabat. Pejabat tersebut berubah menjadi ‘pelawak’ yang terus membuat rakyatnya tertawa dengan tingkah lakunya. Purnakawan pun merasa marah, mereka ingin hak-haknya sebagai pelawak diberikan. Kedatangan mereka membuka cerita lakon ‘Laskar Dagelan: From Republik Yogya With Love’.

Dan taba-tiba Istana Keraton terlihat miring. Mengapa? Purnakawan, abdi dalem Kraton, dan penjual nasi campur pun mencari tahu.

Drama musikal yang dikemas apik oleh Butet Kartaradjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor itu menyajikan guyonan-guyonan khas Yogya. Sepanjang 3 jam kurang pementasan, perut penonron terus dikocok dengan lawakan pelawak ‘republik’ asuhan Sultan itu.

Lawakan yang dikemas apik, sederhana, namun ngena itu cukup menggambarkan kondisi masyarakat Yogya dibanding dengan Jakarta. Sebut saja soal tatakrama dan kesehajaan orang Yogya. Trio purnakawan itu membuka dengan memberikan beberapa alasan mengapa Yogya itu istimewa.

“Misal kalau ada pisang dijalan, terus orang Yogya terpeleset. ngomongnya, ‘ehm… Jangkrik!!!’. Habis itu langsung dibuang ke tempat sampah,” kata Gareng di atas panggung yang sebelumnya ia mengatakan makanan khas Yogja itu semua diawali dengan huruf ‘G’.

Selanjutnya, meski terkena musibah bencana meletusnya Merapi, masyarakat Yogya tidak terlarut dalam kesedihan. Mereka eksis kembali dan menatap masa depan yang lebih baik.

Lakon yang dikemas humoris itu juga mengangkat masalah kenegaraan. Misal dengan menyindir para wakil rakyat yang sibuk berebut kursi di parlemen. “Ada juga wakil rakyat yang sampat berebut kursi di pesawat,” canda mereka yang diikuti gelak tawa. Begitulah sekilas gambaran lawakan mereka.

‘Laskar Dagelan’ memadukan antara tradisi Yogya dan kondisi terkini perkembangan masyarakat modern. Buktinya Djaduk mempercayakan kepada Yogya Hiphop Foundation mengisi musik pertunjukan. Sehingga rasa Yogya modern begitu kental dengan musik hip hop berhasa jawa.

Setting tempat ‘Laskar Gadelan’ bisa dibilang begitu sederhana. Properti yang digunakan tidak terlalu menarik, namun itu bagus. Mata penonton tidak dimanjakan penampilan semata, namun lebih dari itu penonton sudah dimanja dengan lawakan yang menyegarkan ala ‘Ketoprak’.

Selain 3 purnakawan, ‘Laskar Dagela’ juga diramaikan dengan penampilan Hanung Bramantyo yang kembali ke dunia teater setelah sekilan lama ‘melarikan diri’ ke industri film. Hanung tidak lucu, namun tawa penonton tidak henti menertawakannya karena selalu diledek oleh Marwoto sebagai abdi dalem Kraton dan Susilo Nugroho sebagai penjual klitikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s