Mengapa Tak Ada Topi Bajanya?

Standard

Sesekali saya melewati Jalan Parung Raya —masuk dari Taman Tekno atau Taman Kota 2 Serpong— menuju kantor di kawasan Warung Buncit atau sekadar menyambangi kediaman teman baik saya di Cisauk. Kalau lewat sana, ada pamandangan ganjil di antara pepohonan tepi Jalan Raya Parung di Serpong. Ada piramida putih tegak berdiri di antara 4 pemancang beton masing-masing berwarna merah dua buah dan sisanya putih. Yap, itu monumen pertempuran Seribu Serpong di Taman Makam Pahlawan Seribu Serpong.

Siang (27/3/2011) itu Komunitas Blogger Benteng Cisadane (KBBC) mengekplor sejarah yang membentuk Tangerang. Salah satu sejarahnya adalah pertempuran 26 Mei 1946 di Serpong hingga melahirkan istilah pertempuran Seribu Serpong.

Okay saya ceritakan bagaimana keadaan KBBC mengeksplor sejarah Tangerang dari perspektif saya. Sekitar pukul 10.30 WIB saya dengan Sibiru, motor saya, datang langsung ke TMP Seribu Serpong. Kami sebenarnya janjian di Taman Tekno 2 sekiar pukul 10an, hehehe tapi saya telat.

Motor saya sandarkan dengan 5 motor lainnya pas di belakang gazebo pemakaman yang berwarna putih. Ehm, rupanya tidak banyak yang datang, hanya 8 orang. Tapi tak apa, tetap semangat mengeksplor TMP Seribu Serpong. Tidak banyang bancot, kami pun berjalan ke pemakaman yang jumlahnya sekitar 179-an itu.

Tidak ada perasaan spesial saat saya mendekat di makam sederhana itu. Mengapa? Karena tidak seperti makam pahlawan secara umumnya. Tidak ada teks semacam petisi, tidak ada topi baja bersandar di tiang lahat, bahkan tidak ada ‘bau’ tentara semisal ornamen loreng atau sebagainya. Mengapa? Saya kurang tahu, karena sayangnya tidak ada orang yang bisa saya tanyai. Yang ada hanya tukang rumput renta yang tengah mengambil ilalang di sisi makam –seperti jurang.

Kami pun selama di sana hanya menebak-nebak soal sejarah. Kami tidak membicarakan atau diskusi soal kepahlawanan. Seharusnya ekplorasi itu berlangsung seru dengan adanya orang yang bisa menjelaskan soal pertempuran di zaman Belanda. Tapi, tak apa. Ini baru awal pergerakan KBBC melakukan hal berguna dengan memperkenalkan kepada 8 anggotanya soal sejarah Tangerang.

Selama 12 jam pada 26 Mei 1946, di mana setelah Jepang mengaku menyerah dengan dibom atom Hiroshima dan Nagasaki, Belanda dengan menaiki pesawat Herkules tentara sekutu (AS, UK, dan Prancis) datang ke Indonesia. Saat itu kurang setahun setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan. Namun proklamir Soekarno tidak langsung memberikan dampak, masih ada saja pasukan Jepang dan Belanda yang masih menjajah.

Namun rakyat Serpong kala itu sudah tahu kalau dirinya sudah merdeka. Mereka pun berbondong-bondong pergi ke gudang senjata eks Jepang di Lengkong, kawasan yang masih berasa di Serpong. Saat itu, Belanda dengan taktik pembodohan ingin membuat seolah-oleh keberdekaan Indonesia adalah kebebasan hadiah dari sekutu. Makanya dengan percaya diri Belanda mengajukan nota perdamaian.

Wesh, tapi rakyat Serpong tahu kemerdekaannya murni perjuangan. Mereka pun melawan Belanda saat itu. Rupanya dengan kelicikannya, Belanda menembaki ribuan rakyat tersebut. Ratusan pejuang yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot memimpin perang 12 jam itu. Akhirnya kemerdekaan pun direbut!

Korban bergelimpangan, termasuk 147 jenazah yang dimakamkan di TMP Seribu Serpong. Mereka dimakamkan secara massal.

Tidak Ada Topi Bajanya?

Berada di bawah terik sinar matahari dengan memegang kamera Canon 50D, saya terhenyak dengan keadaan makam. Okay, makam rapih, tapi tidak terawat. Yah makam itu benar-benar kayak kuburan, serem karena sepi dan datar. Pohon-pohon tun tidak banyak penutupi makam, ada sih tapi pohon itu kering dan gersang.

Lalu saya terus mengambil foto dengan angle tulisan seng berkarat ‘Pemakaman Masal’. Satu pertanyaan, ‘jika ini makam pahlawan kemerdekaan, di mana topi bajanya?’. Sepertinya kurang gagah makam itu. Yang menandakan itu adalah makam pahlawan, cat warna merah di sisi atas nisan. Nama ‘penghuninya’ ada di sisi belakang nisan, itu pun tidak jelas terlihat.

Mengitari makam, mata saya tergoda dengan makam-makam yang ada di bawah pohon yang sedikit teduh. Sedihnya ada nisan yang dicoret-coret tangan jahil. Nisan putih polos makam itu dituliskan dengan bermacam-macam keterangan ngaco. Sebut saja hadilpandangan saya ‘Tebor 2001, wafat di rampok’ dengan diikuti tanda salib. Ulah siapa itu, ada beberapa nisan yang serupa.

Saya kurang tahu pasti apakah makam tersebut diperhatikan dalam hal pengurusannya atau tidak. Tapi hasil pengamatan langsung, makam tersebut jauh dari kesan Makam Pahlawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s