9 Summers 10 Autumns: Menerobos Batas Ketakutan Seorang Anak Supir Angkot

Standard

Semasa SD kita diperkenalkan dengan sosok Soeharto yang \’berjuang\’ menjadi seorang presiden RI ke-2, padahal dia seorang anak petani. Sekarang ada lagi seorang anak supir angkot yang berhasil menjadi direktur di New York.

Di kota tersibuk di dunia, New York, Iwan Setyawan berhasil memegang tongkat kekuasaan sebagai director internal client management di Nielsen Consumer Research. Pencapaian itu tidak mudah, apalagi pria bertubuh \’mungil\’ itu lahir di keluarga –bisa dikatakan– miskin. Ayahnya yang seorang supir angkot harus menghidupi 4 saudara kandungnya.

Di rumahnya di kaki Gunung Panderman, Batu, Malang, Jawa Timur yang berukuran 6×7, pria kelahiran 2 Desember 1974 itu tinggal bersama 6 anggota keluarganya.

Di New York, Iwan tinggal di Manhattan, kota yang glamour dan bersliweran selebritis karena beberapa produk ternama fashion dunia bermarkas di sana. Sepanjang jalan saat pulang kerja, Iwan selalu melewati itu. Apa yang tidak ada di New York, semua ada!Pada suatu saat sekitar Januari 2009, Iwan berpikir sudah saatnya ia untuk balik ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarganya. Karena sudah 9 tahun ia berada di sana. Ia pun mengajukan keluar kerja kepada bosnya.

Si bos merespon, malah Iwan diberikan masukan, mengapa tidak berlibur saja selama 2 bulan. Akhirnya Iwan pun menerima saran si bos yang sebelumnya mengira Iwan hanya emosional ingin berhenti sebagai direktur perusahaan internasional itu.Iwan pulang ke Indonesia. Selama perjalanan pulang tersebut Iwan sambil merenung dan melihat betapa bersihnya Bandara Internasional JF Kennedy. Namun berbeda dengan Bandara Juanda Surabaya yang \’agak\’ kotor. Selain itu sepanjang jalan di bandara, banyak peminta-minta dan gelandangan tersebar di mana-mana.

Jauh berbeda yang dilihat lulusan Fakultas MIPA IPB tahun 1997 itu saat berada di Manhattan yang berseliweran selebritis Hollywood. Selanjutnya setiap beberapa bulan sekali dirinya pulang, Iwan selalu dijemput dengan mobil bututnya.Melewati kawasan Sidoarjo untuk menuju Malang, Iwan kembali melihat kondisi lumpur panas Sidoarjo yang belum kondusif. Beda sekali denga apa yang ia lihat di New York yang kanan kirinya berhamparan keglamouran, butik-butik, dan sebagainya.

Kepulangan Iwan ke \’buminya\’ itu juga dipakai untuk refleksi diri. Ia pun pergi mendaki ke Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di puncak Rinjani, keinginan Iwan untuk kembali ke Indonesia semakin kuat. Ia harus membangun negaranya dan memberikan inspirasi kepada masyarakat luas untuk bisa menjadi seperti dirinya yang seorang anak supir angkot dan bisa menjadi seorang manajer di New York.

Sekembalinya Ke New York, Iwan pun memantapkan diri untuk melepas pekerjaannya di tahun kesepuluh. Meski saat bicara keluar untuk yang kedua kalinya, Iwan malah ditawari memegang cabang perusahaan di kota lain di Amerika Serikat. Dengan hati yang mantap, ia pun menolaknya.

Kisah tersebut adalah awal mula Iwan terinspirasi untuk menulis buku dengan judul \’9 Summers 10 Autumns: dari Kota Apel ke The Big Apple\’. Kisah di atas Iwan paparkan saat ditemui di peluncuran bukunya tersebut di Oyster, Plaza Senayan.

Di buku yang diterbitkan Gramedia Pusaka Utama itu lebih jelas menceritakan masa-masa kecil Iwan dengan hidup yang serba pas-pasan. Ia pun tidak henti-hentinya membanggakan ibunya yang tidak lulus SD, namun jago dalam hal manajemen keuangan keluarga.

\”Ibu saya tahu bagaimana cara membelah 1 telur untuk 3 anaknya yang masih kecil. Ibu saya tahu berapa liter nasi yang harus di masak dan bisa habis tanpa tersisa saat dimakan oleh suami dan 5 anaknya,\” kisah Iwan.Tidak hanya itu, ibunya jugalah yang ngotot agar anaknya bisa kuliah dan menjadi orang pintar. Lalu bagaimana mungkin ibunya yang tidak lulus SD itu bisa berpikiran lebih maju dan sadar akan pendidikan. Padahal beban hidupnya besar dengan ada 5 orang anak di rumahnya.

Iwan juga mengisahkan perjuangannya untuk bisa kuliah di IPB dan memperoleh pekerjaan hingga menjadi seorang direktur dengan gelar lulusan terbaik. Bahasa yang dipakai Iwan untuk menulis buku tersebut tidaklah terlalu sulit dimengerti. Pembaca seperti membaca sebuah buku harian atau seperti mendengarkan teman yang bercerita.

Dalam novel yang tergolong inspiratif itu Iwan tidak menjual mimpi. Namun diharapkan banyak orang yang bisa semangat saat membaca novelnya. \”Bermimpi itu boleh. Tapi yang tak kalah penting adalah bagaimana kita mengeksekusi mimpi itu. Bangun dari mimpi dan mulailah bekerja,\” katanya dengan bicara penuh semangat.

Pertanyaan besar yang selalu muncul dalam benak ini adalah mengapa Iwan yang usianya relatif masih muda, rela melepas jabatannya sebagai seorang direktur di New York?

\”Tak selamanya gemerlap lampu-lampu New York dapat mengobati kerinduan rumah kecil dan tanah air saya,\” tutupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s