(Sekarang) dari Mahkamah Konstitusi sampai Festival Film Indonesia

Standard

“Rakyat sudah terlalu lelah menyaksikan bahwa tidak ada satu pun institusi di negeri ini yang layak dipercaya,” begitu tulis Pengamat dan Praktisi Hukum Tata Negara Refly Harun dalam harian Kompas Senin, 25 Oktober 2010 kemarin. Saya setuju, itulah yang saya rasakan sebagai rakyat selama beberapa tahun terakhir ini. Mulai dari suap tilang polisi, mafia peradilan, bahkan terakhir pers yang sudah tidak independen. Hal yang sama juga dialami hajatan Festival Film Indonesia 2010. Kata beberapa surtadara dan sineas muda, “dari dulu FFI yah begitu”.

Sebut saja soal institusi kepolisian, sampai saat ini saya belum pernah melihat dan merasakan hal yang baik dari seorang polisi. Sebelum saya melihat, saya akan tetap ‘mengharamkan’ pekerjaan sebagai polisi.

Masih ingat dalam benak saya saat pertama kali terkena tilang, saat itu saya masih 3 SMP. Sekitar siang, saya membawa motor ke kawasan Cikokol Tangerang dari kawasan Pasar Anyar. Setelah mau pulang, di Pasar Cikokol saya diberhentikan polisi, saya ditilang, dan saya mengaku salah karena tidak punya SIM.

“Kamu salah karena nggak punya SIM, kamu saya tilang, dan harus membayar uang tilang Rp 75 ribu. Uang itu dibayarkan melalui Bank BRI,” kata polisi itu.
“Bank BRI-nya di mana pak?” tanya saya.
“Di Kodim (kawasan Pasar Anyar),” jawab polisi itu.
“Oh begitu pak, baik saya ke sana untuk bayar,” setuju saya.

Polisi itu pun memberikan lembaran tilang, dan saya ingin melangkah untuk pergi. Tapi si polisi itu mengajukan opsi,

“Kamu mau bayar di sini (di pos polisi dengan memberikan uang kepada polisi itu) atau ke BRI sana?” polisi itu memberikan pilihan.

Karena saya mengira sama saja, yah saya bayarkan dan berikan sejumlah uang denda itu. Masih ingat, uang itu terdiri dari lembaran uang Rp 10 ribuan. Saya pun memberikan uang itu dengan lama ke polisi itu karena harus menghitung sambil memberikan uang berlembar-lembar.

“Udah… udah… udah… cukup segini aja,” kata polisi itu menyetop tangan saya memberikan uang sampai ke Rp 60 ribu. “Sudah segini saja, sudah cukup. Lain kali kalu bawa SIM yah kalau bawa motor,” kata polisi itu sambil memberikan nasihat. Dan saya pun ngangguk.

Belakangan setelah saya banyak bergaul (semasa SMP saya termasuk orang yang hanya bergaul di sekolah dan konsentrasi kepada bidang olahraga voli) dan menyaksikan realitas kepolisian, barulah sadar kalau ternyata saya telah di tipu oleh polisi. Saat itu saya tidak tahu hukum, dan polisi itu memberikan pengetahuan hukum yang salah (mudah-mudahan polisi itu hidup sengsara sampai saat ini) kepada saya, kepada anak SMP saat itu.

Setelah itu, saya sudah tahu. Jika ditilang, yah saya tidak ingin menyuap. Saya lebih baik sampai pengadilan dan mengikuti sidang, lalu membayar denda Rp 20 ribu. Uang itu sangat mungkin sampai ke ‘tangan negera’. Yah, kalau sedang buru-buru, saya akan membeli harga diri seorang polisi dengan harga Rp 5 ribu perak, di atas itu saya tidak sudi.

Jurnalisme Pesimistis

Semasa kuliah saya sudah kenyang mempelajari teori jurnalistik, meski tidak banyak memahami. Hanya saja saya tertarik dengan jurnalisme politik dan hukum. Dari media massa, saya banyak melihat betapa bobroknya sistem peradilan, politik dan bahkan media massa.

Suatu saat saya ingin berkonsentrasi melihat gejala perpolitikan, mulai dari pemilu 2009, SBY pun terpilih. Baru-baru sadar saat itu saya mengenal yang namanya ‘politik kosmrtik’. Agak sulit menjelaskan soal ‘poitik kosmetik’ itu. Hanya saja saya paham jika politik SBY dan Demokrat itu semua palsu dan dengan mempermainkan opini publik seolah-olah semua baik-baik saja.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s