‘Dasar Depok!’

Standard

Malam minggu saya habiskan bersama teman-teman semasa kuliah di Bogor. Datang juga Pak Abdurrahman, dosen saya, bersama istrinya. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan ibu, sapaan istri Pak Rahman.

“Eby yah? Kamu terakhir kali bertemu pas peninggalnya Rendra (WS Rendra di Citayam),” kata Ibu. “Iya Bu,” jawab saya seraya tersenyum.

Kami bersama mengobrol mulai dari ‘madu putih’ sampai persoalan industri media saat ini. Agak menjelimet perbincangan kami ketika itu. Entah saya yang agak malas membicarakan ‘urusan kantor’ atau apalah. Saya di Bogor mau santai, BlackBerry saya matikan, dan ponsel hanya M3 saja yang menyala.

Setelah itu, teman-teman jurnalistik – sebenarnya sih adik kelas – membuatkan risol untuk Pak Rahman. Saya pun membuat kopi, uniknya air panasnya dicampur teh. Agak amburadul itu rasanya.

Saya, Pak Rahman, Ibu, Dewi, dan Eko mengobrol di teras. Kebetulan cuaca sedang tak berahabat, hujan terus mengguyur. Dari berbagaimacam cerita, Ibu bicara soal bioskop-bioskop di masa mudanya. Saya cukup terhibur, ternyata ‘bioskop’ menjadi saksi bisu perjalanan cinta Pak Rahman dan Ibu. Hehehe!

Tidak sengaja Dewi bertanya ke Ibu, “menurut Ibu bagaimana film saat ini? Berbeda dengan dulu nggak?”

Ibu bercerita, “film-film dulu itu lumayan santun dan memakai tata bahasa yang sopan sekali. Bicaranya ‘saya’, ‘anda’, ‘beliau’ dan sopan sekali. Mereka benar-benar menurut skrip. Beda dengan sekarang yang ‘gue’, ‘elu’, pokoknya bahasa betawi dijadikan dialog.”

Ibu juga bercerita soal kehidupannya waktu muda. Saat itu, kata Ibu, dalam pergaulan, struktur bahasa sangat dilihat dan dipandang penting.

“Jadi waktu saya di IAIN, omongan itu sangat dijaga. Anak muda-anak muda waktu itu merasa malu kalau ngomong ‘elu’, ‘gue’. Biasanya orang yang ngomong dengan gaya bahasa gitu pasti bukan kaum terpelajar. Kayak orang kampung. Nah tahun 70’an itu yang ngomong gitu banyak yang dari Depok. Makanya waktu saya nonton di bioskop, kalau ada film yang dialognya ‘elu’, ‘gue’, kita bilang ‘dasar Depok’. Kenapa begitu? Karena kan orang betawi banyak di Depok waktu itu,” cerita Ibu seraya tertawa.

Saya pun ikut tertawa, baru tahu soal itu. Bahkan Ibu membenarkan kata ‘Bung’ itu sangat populer di kala itu.

“Hey bung,” contoh saya. “Iya iya begitu,” lanjut Ibu.

(Tidak ada maksud untuk mengucilkan sebuah kelompok atau suku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s