‘Seperi di Belanda atau Sungai Nil di India’

Standard

Yah, sudah tahu di mana lokasi masjid yang sebelumnya saya posting? Itu adalah masjid di tepi Sungai Cisadane (saya lebih senang menyebut Sungai Cisadane daripada Kali Cisadane).

Masih teringat salam benak saya sekitar 6 tahun lalu di sungai itu. Mungkin 3 kata yang saya ungkapkan saat itu, yaitu kotor, kumuh, dan menyeramkan. Maaf kalau berlebihan, tapi memang itu yang saya rasakan. Waktu saya masih berkuliah, tidak sengaja melewati tempat itu dan singgah.

Banyak cerita mengenai Cisadane yang saya dengar 6 tahun lalu, mulai dari tempat cabul, sampai kisah misteri. Misal saja, saya banyak mendengar saat itu banyak muda mudi yang pacaran dan berbuat mesum. Atau cerita tentang penunggu Cisadane yang berwujud naga. Ehm… praktis cerita kedua membuat saya enggan melewati kawasan jalan di belakang Plaza Tangerang atau Robinson.

Apalagi saat itu kawasan tersebut tidak terawat. Memang sih ada banggu-banggu untuk tempat duduk dan beberapa titik tempat bermain anak. Kalau tidak salah memang di sana untuk taman bermain. Seperti hutan kota dekat Taman Makam Pahlawan Tangerang (Saya belum update masih ada atau tidak). Tapi tetap saja, suasana di sana kala itu tidak mengenakan.

Tapi sekarang,

Ehm… mungkin ada 1000 kata yang bisa saya ungkap untuk Sungai Cisadane saat ini, di antaranya muantab, maknyus, bagus, jempol, dan . . . . nyaman!

Paling tidak saat berada di sana, terbayang sungai di Belanda dan nyamannya bersantai di Sungai Nil India. Itu tidak berlebih dan lebay, itu kenyataan. Bahkan paling tidak seminggu sekali saya ke sana untuk sekadar olahraga sore (karena tidak bisa bangun pagi).

Hembusan angin, suara angin, ‘dans’ aliran sungai, dan sesekali terlihat burung gereja. Itu yang membuat mata saya terus betah memandang sepanjang sungai.

Kekasih saya, Sandika Dwi Putri pun suka. Sekitar 2 atau 3 kali kami sudah ke sana (tidak bisa terlalu sering karena kesibukan kami berdua sebagai anak rumahan, hehehe). Kami menikmati.

Apalagi saat untuk yang ketiga kalinya, kami sempat mengabadikan foto-foto di sana. Romantisme begitu kental, apalagi tidak banyak kendaraan yang berseliweran di tepi sungai. Tapi yah tetap saja ada orang-orang yang menaiki motornya ke trotoar, ya sudahlah mudah-mudahan dia sadar dengan kelakuan ‘bejatnya’.

Lalu, apalagi yah? oh ya, ada makanan pelengkap saat saat berkunjung ke sana., yaitu cimol dan es podeng. Emmm… segar dan klasik sekali. Sambil menyusuri sungai, sambil menikmani es podeng, maknyus pemirsa!

Saat berjalan-jalan di sana, saya sempat berbincang dengan Sandika, bagaimana kalau saat malam terdapat lampion-lampion di pohonnya. Lampu-lampu berkedipan dengan didukung suasana yang sejuk kala malam. Wah, kami sebut itu ‘romantisme malam di Cisadane’. Katanya seperti suasana di Jepang.

Lalu, bagaimana pula jika di tepi sungat ada meja-meja untuk sekadar makan malam. Tentu dengan hidangan tradisional, seperti roti bakar, laksa, siomay, batagor pastinya, dan tak ketinggalan kopi hitam. Wah, maknyus pemirsa! Dan tentu dengan kocek dangkal alias murah… Semoga aja khayalan ini terwujud.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s