Saat-saat Terakhir di Merapi

Standard

Saya begitu terkejut saat merapi akhirnya ‘bergerak’. Masih ingat di benak saya sekitar tahun 2005 pertama kali menginjakkan kaki di tanah panas (ungkapan saya terhadap Merapi). Saat itu Merapi merupakan gunung ke dua yang saya pijak, setelah pendakian dari Gunung Gede.

Saya masih ingat ada penduduk yang bilang, “mas, jangan bicara kotor di Merapi. Bisa-bisa ‘beliau’ marah.” Saya bingung dengan perkataan itu, siapa ‘beliau’? Ada dua nama yang dia bicarakan, Mbah Maridjan dan Mbah Petruk. Saya sempat bersalaman dengan Mbah Maridjan, tapi tidak dengan Mbah Petruk. Jadi siapa si Mbah Petruk itu?

Usut punya usut, Mbah Petruk adalah salah satu penunggu Merapi. Tapi yah, saya masa bodo! Saya tidak percaya dengan tahayul. Saya pun melanjutkan perjalanan, sepanjang jalan saya masih bertanya-tanya, siapa Mbak Petruk? Dan Saya mendapatkan jawabannya. Tapi maaf, itu untuk konsumsi pribadi saja.

Alam Merapi memang langka. Gunung yang ketinggian puncak 2.968 m dpl itu masih terdenger suara gemuruh setiap malam. Suara itu membuat pemikiran saya tenang, makanya 2 kali ke merapi saya selalu sempatkan untuk menulis sesuatu – kebanyakan soal puisi.

Satu lagi yang saya ingin kembali ke sana, merapi saya sebut sebagai gunung bersahabat. Hal itu dikarenakan masyarakat Merapi begitu ramah dan penuh senyum. Apalagi begitu nikmatnya melihat aktifitas mereka sehari-hari, seperti memberi makan ternah dan membawa kayu bakar. Saya begitu terkesan dan ingin menjadi mereka, bersatu dengan alam…

Begitu mendengar Merapi meletus, saya terdiam di depan TV. Saya tidak ada keinginan untuk ke sana, saya anggap Merapi tengah sibuk… dan benar kata ‘pria itu’…

20 September 2010, saya mendapatkan kabar dari seorang kawan di Yogya, “Bi, Merapi… (dia diam). Kita undur Desember ini (2010) ke Semeru. Keluarga saya khawatir Merapi bergolak.” Saya menjawab, “okay, kamu baik-baik di sana. Kabarkan kalau ada perkembagan.” Semenjak itu hubungan kami terputus, entah bagaimana kabarnya? Ponselnya pun mati. Saat itu status Merapi ‘waspada’.

2 responses »

  1. senangnya bisa berkunjung ke merapi
    mendekap hangat suasana merapi
    menyatu dengan kesederahanan di sekitarnya
    sedikit poting di blog ini
    membuat lilis pengen berkunjung ke sana suatu saat jika merapi tak lagi bergolak

  2. saya sangat sedih dengan perilaku beberapa orang yang berkunjung ke lokasi sekitar bencana gunung merapi, mereka dengan berbagai kendaraannya ternyata hanya datang untuk tujuan wisata saja, bukan niat membantu. Padahal diharapkan dengan kendaraan yang mereka bawa setidaknya mereka membawa bantuan makanan atau minuman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s