Sore Jelang Hari Kemerdekaan

Standard

Sore-sore biasanya saya di depan laptop dan berpikir soal pemberitaan, tapi itu terjadi di sore hari kerja. Sekarang, Minggu (8/8/2010) sore saya habiskan di Alun-alun Kota Tangerang, Banten.

Sore ini agak berbeda, biasanya hanya seseorang yang ingin berolahraga atau sekedar duduk di mushola (ngadem) saja yang datang ke sini. Kali saya banyak melihat orang-orang nasionalis berkumpul. Mereka begitu bersemangat menyebutkan “merdeka…!”, “siiiaaap grak!!!”, atau “jadi kita mau buat lomba apa nih?”.

Tepat di depan saya ada kumpulan anak sekolah yang memakai kaos lengan panjang bercorak merah putih, celana bahan hitam, dan topi ‘berekor’ model tentara Jepang ’45 merah. Mereka adalah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Tangerang.

“Prok… Prok… Prok….” Begitu mereka berjalan mengelilingi lapangan upacara plus olahraga atletik di Ahmad Yani. Wajah mereka sudah tampak hitam dan kalau saya tidak salah liat ada juga yang terlihat daki-nya…iihhh. Itu yang lelaki, sedangkan yang perempuan sama hitam juga, tapi lebih terlihat jelas. Belum lagi aromanya, saat saya dekati…eeemmmm ‘sedap’ (sebenarnya bau apek).

Mereka sudah dari 1 Agustus berlatih pengibaran bendera. Sejak pagi sampai sore berkumpul di lapangan ini. Lahitan baris berbaris sampai menghafal dasar-dasar paskibra. Lalu bagaimana sekolahnya? Tentu saja mereka izin tidak mengikuti pelajaran alias dispensasi.

Beberapa kali saya melihat cara mereka latihan. Push up, maki-maki halus, tapi untungnya sejak lulus SMA saya tidak pernah melihat hukuman berupa tamparan. Memang tidak pernah melihat, tapi dulu yang saya dengar ada. Tapi semoga apa yang saya dengar itu salah…hehehehe.

Kadang saya berpikir (sebenarnya dari SMA) mau saja mereka dilatih baris berbaris seperti itu. Bahkan saya pernah melihat seorang polisi atau marinir yang melatih mereka. Yah sah-sah saja, katanya tujuannya untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Satu hal yang saya tidak setuju adalah menumbuhkan budaya kekerasan seperti bentak-membentak sampai cacian. Bagi saya itu akan membentuk karakter anak bangsa yang arogan, emosional, dan pendendam. Pertanyaannya, bagaimana kualitas pemikiran mereka? Semoga sama kuat dengan ototnya.

Namun nyatanya ada saja yang hidup dari kumpulan nasionalisme anak-anak SMA. Paling tidak kursi pegawai negeri akan disiapkan.

Ya sudahlah, itu urusan mereka. Sekarang ada lagi yang saya lihat di sebelah kiri. Banyak sekali anak muda Tangerang (kenapa saya tahu, karena saya mempunyai ciri sendiri. Paling tidak dari cara mengobrol mereka). Sekitar puluhan (atau mendekati seratus) remaja berkumpul. Sayup sayup saya mendengar mereka adalah kumpulan dari komunitas Mig33. Komunitas yang me-nyata-kan komunikasi dunia maya. Biasanya mereka hanya berkomunikasi lewat chating Mig33. Mereka berkenalan di sana.

Saya pernah berbincang dengan seorang teman (namun sekarang teman saya sudah meninggal) soal kehidupan dunia maya yang sebenarnya nyata. Ada yang jatuh cinta lewat dunia maya, karena melihat wajah dan bahasa chat orang tersebut. Ini artinya cinta datang karena komposisi angle atau komposisi foto dan struktur kata-kata saat chating. Teman saya dan saya sepakat beranggapan, “beruntunglah lelaki yang suka puisi romantis karena mudah menaklukan perempuan di dunia maya.”

Ada yang saya tidak setuju dengan anggapan teman saya itu. “Hukumnya adalah, dunia maya itu tidak bisa di-nyata-kan!” Maksud teman saya, jika Anda bersahabat di dunia maya, ya sudah di dunia maya saja. Apalagi jika emosional duinia maya lebih besar. Jika bertemu di dunia nyata, pasti hubungan itu kaku karena terbiasa komunikasi dengan kata-kata. Yah kalau menurut saya, sah saja jika hubungan maya jadi nyata.

Balik ke Mig33, sama seperti komunitas Mig33, mereka me-nyata-kan hubungan maya. Maka itu saya sedikit terkesan dengan kopdar (kopi darat: istilah untuk kumpul-kumpul dalam sebuah komunitas) yang digelar Mig33.

Uniknya, mereka membuat acara 17an. Ada dua lomba, ikat tali di kaki dan balap karung. Saya sedikit sulit menjelaskan lomba yang mereka gelar. Intinya seru…

Tidak lama, seorang pria tersenyum. “Siapa itu?” tanya saya dalam hati. Waah…rupanya Mufti, teman saya sewaktu duduk di SMP 5 Tangerang (saat itu namanya SLTP 5 Tangerang). Dia juga teman saya saat bersekolah di SMU Negeri 6 Tangerang. Yah mungkin bukan teman akrab….

Mufti banyak bercerita soal komunitasnya, Mig33. Saya tidak tahu banyak, namun beberapa waktu lalu sya sempat mencoba Mig33, cuma agak sedikit rumit.

Mufti sudah memakai layanan Mig33 dari tahun 2007 untuk keperluan komunikasi jaring sosial. Namun katanya Mig33 juga bisa dijadikan lahan bisnis. Ehm…agak rumit menjelaskannya, namun saya akan coba.

Chat di Mig33 memungkinkan pengakses berkomuniaksi seperti di dunia nyata. Misal, jika teman chat Anda berulangtahun makan Anda bisa memberikan kue ulang tahun. Kue itu berupa ikon yang sudah terprogram dan bisa di download. Untuk mendownload kue tersebut, pengakses harus membayar dengan deposit yang dimiliki. Deposit itu bernominal selayaknya uang. Harga satu kue misalnya 5000, maka deposit anda akan dipotong sebesar 5000. Jika di dunia nyata bertuliskan Rp 5000, maka di chat Mig33 disebut IRM 5000.

Dari mana anda bisa mendapatkan deposit IRM itu? Nah ini yang unik, ternyata Mig33 mempunyai orang yang menjual deposit IRM tersebut. Tentunya deposit tersebut dibeli dengan uang nyata, dudah seperti membeli pulsa ponsel saja. Harganya pun hampir sebesar harga di dunia nyata. Misal, anda ingin deposit IRM 100 ribu. Yah paling anda harus merogoh kocek antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Cukup mahal memang untuk sekedar kepuasan batin.

Namun saya tertarik dengan Mig33, bukan karena bisnisnya. Saya senang soal me-nyata-kan dunia maya mereka. Chat jadi banyak teman dan teman itu bisa dijadikan aset hubungan baik dan pergaulan.

Sayangnya saya belum berhasil membuka Mig33…. Terutama dari BlackBerry, punya caranya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s