Ngapain ke Palestina? Yuk Jihad di Tanah Betawi

Standard

Kemajuan teknologi dan perubahan tatanan sosial membuat sebagian masyarakat Jakarta lupa tanah kelahiran. Ada yang semakin tersudut dengan perubahan itu, dia adalah budaya asli Jakarta.

Jumat (6/8/2010) malam itu hujan rintik dengan sesekali kilat menyambar di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sweater saya sedikit basah karena terpaan gerimis dari kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan ke TIM, Cikini, Jakarta Pusat. Si Jambrong (motor Honda Supra X milik saya) pun sudah tampak lusuh terkena cipratan air yang menggenang di sepanjang Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan.

Saya memaksakan diri untuk ke TIM, karena di sana ada pergelaran lenong betawi. Sebuah acara yang sudah jarang saya jumpai dalam kurun waktu 2005 hingga 2010. Memang sebelumnya tidak banyak juga pergelaran lenong betawi, hanya saja paling tidak seminggu sekali saya menyaksikan lenong di Tangerang atau di kawasan Jakarta Barat.

Pertunjukan lenong kali itu memang sedikit berbeda. Sejumlah artis asal betawi, seperti Mpok Nori, Rini S Bon Bon, dan Nirin Kumpul ikut dalam pementasan yang digelar di pelataran parkir TIM. Panggung yang didirikan tidak besar, namun semua alat-alat lenong komplit menuntun lenong betawi yang berjudul ‘Mira Gadis Marunda’.

Tawa jenenakan dari sekitar seratusan orang begitu membisingkan kuping saya. Namun itulah lenong yang saya kenal. Begitu pemainnya seperti Mpok Nori beraksi, jagan harap keadaan senyap. Gemuruh tawa dan celoteh dan celaan terlempar dari penonton. “Ah dasar ubur-ubur,” begitu misalnya celaan sederhana yang disampaikan dengan intonasi ala betawi.

Kurang lebih 1,5 jam saya dibuat tertawa dengan ocehan Mpok Nori dan antek-anteknya. Sudah cukup perut saya dibuat sakit karena perempuan tua bersuara lantang itu.

Setelah pertunjukan lenong bubar, seorang kawan bicara ke saya, “ente kalau mau tahu biang kerok nih lenong, cari tuh si Bachtiar. Dia itu orang yang peduli banget sama budaya betawi.” Saya pun langsung mencari pria bernama Bachtiar itu.

Keluar dari Galeri Cipta TIM, sosok pria sedikit berbadan tegap dan berkulit gelap dengan perpakaian hitam menghampiri saya. “Ente cari ane? Ane Bachtiar,” begitu kata pria tersebut.

Dan kami pun berbincang…

Bachtiar bercerita soal kecintaannya terhadap budaya asal tanah kelahirannya, Jakarta. Ia pun menceritakan bermacam kegelisahan terhadap budayanya.

Pria kelahiran 16 Maret 1971 itu mengungkapkan sudah mulai konsentrasi mengembangkan budaya betawi sejak tahun 1995. Ia memulainya dengan menjadi guru karawitan di SMA 6 Jakarta. Selain itu juga pria berwajah tegas itu mengajar seni betawi di Sekolah Dasar (SD) di Jakarta. Dari sana, Bachtiar pun mulai menyisihkan pendapatannya untuk membuat sanggar betawi. Kini, sanggar yang diberi nama ‘Sanggar Si Pitung’ itu sudah berdiri.

‘Sanggar Si Pitung’ tidak berdiri semata-mata untuk mencari penghidupan atau dikomersialisasikan. Sanggar tersebut berdiri untuk mempertahankan budaya betawi yang Bachtiar anggap semakin hilang, terutama di Jakarta.

“Ada yang bilang memang UUD, ujung ujungnya duit. Saya berpikiran begini aja, Ya Allah, saya mengajarkan seseorang tapi tidak memikirkan bayaran, saya ikhlas. Jadi yang datang itu adalah orang yang nggak ada rupiahnya (nggak punya uang),” ujarnya.

Di sanggar tersebut, awalnya Bachtiar membatasi yang ingin latihan seni betawi harus orang betawi asli. Namun ternyata pemikiran itu ia pikir salah. “Kan di Jakarta ini bukan cuma orang betawi aja. Ada orang sunda, batak, jawa dan lain-lain. Jadi, ayolah ikut,” pungkasnya.

Murid Bachtiar pun semakin bertambah saat itu. Bacahtiar melatih berbagai macam seni budaya betawi, seperti pancak silat, gambang kromong, dan lenong. “Awalnya sih sama saudara-saudara aja. Nah nanti kita lihat dari situ, siapa yang berniat untuk melestarikan budaya betawi,” kata ayah dari Bani Abdulilah, Bachir Ahmad Al-Fakher, Tiarani Nazillah, Bianca Nazwa, dan Bilal Muhammad Pitung.

Pengharapan Bachtiar saat ini belum terwujud. Belum ada lagi orang betawi yang benar-benar berjuang demi kelestarian budayanya. Namun ia tidak menyerah, Bachtiar terus melatih generasi baru seperti anak-anak.

“Tapi sekarang itu sudah sekali. Karena kita sudah dihadapkan dengan teknologi yang berbenturan. Kita ingin mengajarkan budaya betawi sama anak aja, kita udah kalah sama PS (PlayStation). Karena itu lebih enak katanya. Padahal saat itu saya punya strategi latihan, saya tawarkan mau minum apa? Makan apa? Itu setiap harinya kita kasih ke mereka sebagai pancingan. Padahal mereka latihan gratis, tidak bayar. Malah kita yang mengeluarkan uang,” papar Bachtiar.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s