Move on…

Standard

Sudah agak lama saya tidak terlibat di obrolan serius seperti Senin (1/8/2010) malam ini. Memang suasana pikiran saya sedang luar biasa galaunya memikirkan pekerjaan (yang saya anggap setengah hati dijalani). Kerisauan itu memang sudah lama hinggap di benak saja, kurang lebih sejak 2 tahun lalu. Namun berkali-kali saya kurang berani mengungkapnya. Bukannya kurang berani mungin, tapi malu.

Semasa menjadi mahasiswa, saya menjadi orang yang terbentuk dengan prinsip ‘apa adanya’. Saya pun benci dengan orang-orang yang munafik dan terus sok benar dengan segala kesombongannya. Ya Tuhan, saya emosi. Namun itulah yang saya rasakan.

Mungkin saat ini adalah jawaban dari Tuhan sendiri. Bahwa saya tidak boleh melawan kehendak, bahwa saya adalah orang yang biasa-biasa saja (bukan yang luar biasa). Apa pun yang terjadi, ya harus apa adanya.

Semakin kacau kata-kata saya tentang konsep kebenaran.

Beberapa minggu terakhir ini MUI dan masyarakat (meski saya tidak tahu masyarakat yang mana) menyoroti soal segala hal soal pemberitaan artis dan selebritas. Katanya haram jika berbau gosip. Namun hingga saat ini pun saya belum tahu, apa tolak ukur berita berbau gosip. Berita hanya bicara, ‘berita artis, itulah gosip’. Saya kesal dengan itu semua.

Baru-baru ini saya sadar dengan tugas saya sebagai pencari berita tentang sosok artis. Tidak salah, cuma banyak orang bicara bahwa itu tidak berguna sama sekali. Mengapa? Saya pun bingung mengapa tidak berguna? Yang saya tahu, saya selalu bicara soal fakta dan menjauhkan pendapat (itu standar operasional media yang saya jelajahi).

Berulang kali saya pun menghibur pendapat saya, menghibur saat-saat saya sedang pusing dengan anggapan orang kalau saya salah jalan. Saya salah masuk pintu, katanya saya pantas di pintu politik. Namun siapa yang tahu rezeki orang.

Saya semakin bingung dengan kata-kata di atas.

Seorang dosen pernah bicara dengan setelah saya bercerita tentang tugas yang saya jalani, “wartawan adalah wartawan. Politik, ekonomi, hiburan, olahraga, dan teknologi adalah tugasnya. Sama seperti adik dan kakak, tidak ada yang terbaik ataupun nomor 2. Semua sejajar, yang membedakan adalah bagaimana tugas-tugas itu dijalankan.” Setidaknya kata-katanya menghibur saya, meski terkadang ada yang masih mengganjal dalam benak saya. “Lalu mengapa apa yang saya lakukan selalu dihina?”

Mungkin sudah beberapa kali saya mencoba untuk lari, namun hati selalu berkata, “tetaplah di tempat dudukmu. Saling berkejaran dengan waktumu bersama Jambrong.” Mungkin ini takdirku, atau ini sebuah penjara karena saya terlalu menikmati setiap masa dan pendapatan.

Mengapa seperti ini, dirundung gelisah saat aku mulai tidak lagi bersemangat untuk berpihak. Rasanya aku ingin berdiri di antara jeruji dan merasakan pahitnya nasib.

Beberapa pesan saya terima dari wartaan senior itu. Dia menawariku sebuah pilihan. Pertama, berani mengabil resiko ekspansi, dan kedua, tetap berada di ruangan ber-AC tapi berusaha pindah kursi. Tentu saya bingung, saya katakan bahwa saya memang bingung. Dia terus memeras pikiranku, “kamu itu masih muda, masih banyak yang harus dilakukan. Kamu itu harus mencicipi apa yang belum kamu cicipi.” Saya makin takut dengan kata-katanya. Entahlah….

Sepertinya makin tidak jelas saja apa yang saya tuliskan….

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s