Belasungkawa untuk Wartawan PENTA (lucu-lucuan)

Standard

JAKARTA — Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Itulah keadaan yang menimpa Persatuan Wartawan Penta Kebun Jeruk (Perawan Petruk). Pasalnya belum lama menikmati masa jayanya, kini Perawan Petruk terancam bubar.

Ini terjadi setelah salah satu program acara di Studio Penta resmi ditiadakan. Tidak diketahui pasti penyebab ditutupnya program yang tidak hanya menjadi ‘kuncian’ wartawan media cetak dan online tapi juga para awak infotainment tersebut. Namun yang pasti hal ini meninggalkan luka mendalam bagi anggota Perawan Petruk.

“Saya dan teman-teman Perawan Petruk sangat berduka setelah Penta tidak ada lagi aktivitas yang bisa diliput,” ujar Ketua Perawan Petruk, Beno Duadji saat ditemui Okelang dalam konfrensi pers jelas terbatas di Studio Penta, Jumat, (5/3/2010).

Beno Duadji tak menduga eksistensi organinasi yang dipimpinnya hanya seumur jagung. Reporter yang dikenal selalu ingin terdepan dan offside ini tak mampu menahan rasa sedihnya.

“Saya tidak menduga keberadaan Perawan Petruk hanya sebentar. Saya bicarakan masalah ini dengan pengurus lainnya,” kata reporter Vivanews ini sambil berkaca-kaca.

Jika Beno Duadji mengaku kaget tidak demikian dengan Sekjen Perawan Petruk, Eby. Reporter detikhot ini mengaku sudah mendengar kabar akan ditutupnya program musik di Studio Penta.

“Kalau gue sih nggak kaget cuy. Gue sudah dengar dari sebulan lalu, tapi sori gue keep dulu. Gue nggak mau buat teman-teman Perawan Petruk sedih,” tutur pencatat rekor reporter detikhot paling sering ke Penta ini.

Eby mewakili teman-temannya mendesak para pengurus Perawan Petruk lainnya untuk terus menjalankan eksistensinya.

“Gue mewakili teman-teman seperti Mustholih Tempo, Bimo Nonstop, Fajar RM, Isna Nova, Ancah, Black Nesky dan yang anggota Perawan Petruk lainnya meminta Perawan Petruk untuk tidak membubarkan diri meski Penta tak ada lagi acara,” harap reporter yang juga pendiri Forwatut ini.

Sementara itu keresahan tak bisa ditutupi reporter Kapanlagi, Bujeng Kelereng. Reporter jebolan kampus terbaik di kawasan Lenteng Agung ini mengaku terancam mendapat TP lebih kecil dari reporter lainnya.

“Aduh kalau nggak ada Penta, TP gue nggak gede lagi deh nih. Mana sidang Pasha juga sudah mau kelar lagi,” keluh pria bertubuh tambun ini.

Keresahan yang sama juga dialami reporter Inilah, Fery Juan. “Gimana nih boy. Enggak bisa Dashyat-Pulang-Penta-Pulang lagi nih rute liputan gue,” kata reporter yang berkawan akrab dengan Beno Duadji ini.

Rasa gundah ternyata tidak dialami para reporter tapi juga para penjual makanan di sekitar Studio Penta.
“Gimana nih mas, biasanya kalau wartawan habis dapat jale omset kita 20 juta per hari tapi sekarang sudah nggak ada wartawan yang datang jadi turun drastis hanya 100 ribu sehari,” ungkap Natalia yang biasa mengantar es teh manis.

Meski begitu dirinya bersama penjual bubur ayam dan bakso malang menyatakan akan setia menunggu kedatangan para anggota Perawan Petruk di Studio Penta.

“Kami tunggu ya mas…” seru Natalia dan penjual bubur ayam sambil melambaikan tangan kepada Okelang. ***

Nantikan berita berikutnya, hanya di Okelang.com…!!! Piss…🙂

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s