Perasaan Kencana: Ku Punguti Serpihan Hati Jagoanku

Standard

Sampailah aku di padang kebun teh kaki Kencana
Hamparan hujau tak putus ganggu pandangan mata
Berjalan di atas kerikil, ada juga batu terjal, tajam, dan besar
Namun itu tak masalah, aku terus bejalan dengan membawa misi mulia tentang isi hatimu

Aku terus berjalan, menjadikan semuanya sempurna.
Ku punguti serpihan hatimu sampai hutan licin dan terjal
Nafas semakin menipis seiring perjalanan malam gelap tak ada cahaya
Hanya saja aku merasa ada cahaya di atas sana, di atas pangkuan jiwa seorang perempuan

“Jagoan”, aku meyebutnya demikian. Rambutnya terurai sederhana menghiasi wajah menwan
Berjalan naik dan turun bercanda dengan alam, sesekali juga cemberut, namun tak lama
senyum yang menyambutku sambil bergeleng kepala dari dalam tenda, membuat lelah mendaki Kencana hilang
Hilang sirna terhempas serpihan hati yang (mungkin) kau sebar di hadapku

Merasakan lembutnya kabut tebal di antara ilalang dan pesona Si Cantik Merah Beracun

Sayang sekali kita masih canggung untuk sekedar berbincang, bertukar pikiran soal Si Gembul di rumah warga
Masih tak berani untuk bercanda di hadapan Sang Biru, dan menunjukkan kita memang sedang dekat
Aku hanya bisa menatap dari jauh, namun sesekali kamu pun tersenyum (entah karena apa)

Di hari-hari terakhir perasaanku mulai mellow, lagu-lagu cinta pun terus berkelana ke pendengaranmu
Kau pun mulai tersenyum karena tingkah bodohku, tertawa tentang khayalan zaman dahulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s