Di Akhir Pertikaian Batin: Idealisme atau Perut?

Standard

Tak terasa hampir 3 tahun saya terbelengguh oleh idealisme ‘tai kucing’ – temanku yang pernah bicara itu. Namun saya sadar, pada akhirnya rakyat harus tunduk dengan pengausaha, pemerintah, dan perasaan. Semua telah aku lalui, dan rasanya tak enak, terus diasingkan oleh pemikiran dan khayalan picik. Ada kalanya saya berontak, dan akhirnya saya harus berpikir oleh keadaan yang makin susah. Saya ingin seperti burung, sudah, namun tak terbang bebas.

Keterasingan membuatku seperti kepompong yang tak akan pernah bisa menjadi kupu-kupu. Bahkan juga seperti harimau yang memakan sayuran. Saya benci dengan kedaan ini, dan saya juga suka akhir akhirnya. Akhir yang membuat saya bisa kenyang makan gado-gado di pinggir jalan. Juga minum kopi bersama Lim setiap malam.

Lim pernah berkata saat status saya sebagai mahasiswa di kampus swasta. “By, apa peran lu sebagai mahasiswa? Gue liat kampus lu sepi, nggak ada pergerakan nyata. Gue kenal beberapa orang di sana, mereka bilang tak ada ‘taring’ di mulut mahasiswa lu.” Saat itu saya maarah dengan Lim, hampir 3 hari kami absen di warung kopi (saat itu di Cileduk). Tapi akhirnya kami tertawa kembali saat mendaki Gunung Salak.

Kami banyak berbincang soal alasan Lim mengatakan hal – yang saya kira menghina kampus. Saat itu Lim juga mempunyai kegelisahan yang sama soal kampusnya – Lim anak sastra. Teman-temannya mementingkan demontrasi daripada mempelajari filsafat, ibu segala ilmu. Bahkan saat itu hanya dia yang masuk di kelas filsafat. Lim bukan anti demonstrasi, namun lebih baik berdemo pada pemikiran sendiri di kelas filsafat. Saya tak menjawab apa-apa saat itu, hanya senyum.

Saya mulai menelaah apa kata Lim, saya mulai benci dengan teriakan kosong ‘sang demonstran gadungan’ di kampus saat itu. Dan apa yang terjadi? Ternyata banyak ‘sang demonstran gadungan’ di kampus saya.

Beberapa peristiwa saya lewati, tepatnya peristiwa sang demonstran gdungan itu. Mengadaan pembuatan SIM kolektif, skandal kongres boneka, jual beli tanda tangan proposal kegiatan, korupsi dana kegiatan mahasiswa, kongkalikong pengadaan inventaris, dan banyak lagi. Bahkan kampanye terselubung di dalam institusi pendidikan. Namun saat itu tak ada yang mengerti, ehm…tepatnya pura-pura tak mengerti.

Rasanya menyesal tak lagi melihat kebobrokkan itu. Namun saya ingin mengerti dengan itu semua, sebuah tujuan saya buat. Pertama, menggiring perhatian dengan membuat opini publik. Harus ada yang memulai untuk berteriak, tentunya bukan untuk memberontak. Hanya membuat arahan dan mengingatkan apa fungsi sang intelektual muda seperti mahasiswa. Saya menulis beberapa pemikiran soal keadaan mahasiswa, khususnya di kampus saya. Intinya tak ada jiwa memberontak, hanya keinginan untuk menampilkan diri saja.

Namun giringan itu gagal karena saya sendiri. Hanya beberapa saja yang ikut, namun tak lama. Karena keburu dilamar organisasi tinggi mahasiswa. Mereka pun terjebak dengan konspirasi pembelokan tujuan mahasiswa. Mereka semakin berteriak dan tak berhenti bicara “hidup mahasiswa”. Empat tahun menjadi mahasiswa saya tak pernah teriak seperti itu, bahkan saat ospek atau masa orientasi. Bukannya tak mau atau tak sudi, hanya saja saat itu mahasiswa banyak yang bertopeng. Pada akhirnya semua berakhir ke pertanyaan ‘untung atau tidak?’. Saya muak, ingin teriak, “diam kau munafik!!!”

Suatu kali saya duduk di kursi yang saya anggap sebagai ‘kursi kotor’. Namun memang benar anggapan saya, berhubungan uang dan bagaimana menghabiskannya. Saya muak dan seperti orang bodoh dalam pengendali sang demonstran gila. Akhirnya larilah saya!

Dalam perjalanan, memang banyak kejanggalan. Pemikiran bodoh, picik, dan kapitalisme terus mengiringi kerja saya. Namun itu semua memberikan nilai positif pada pemikiran saya. Ternyata begitulah pemikiran mereka, sangat birokratif. Tapi seru, ada yang adu mulut, sampai adu ‘hinaan’.

Begitu juga dalam soal demontrasi, mereka seolah menjadi orang yang paling suci. Menghina kebijakan pemerintah, menentang perintah pemerintah, bahkan kadang bersikap apatis dengan prestasi pemerintah. Namun saya tutup telinga dalam aksi mereka. Itu hanya simbol keberadaan kaum intelektual seperti mahasiswa. Padahal mereka tak lebih sebagai boneka. Namun kata seorang teman yang duduk di Senat mengaku mengikuti beberapa kali konsolidasi dengan kampus lain. Katanya kacau, dan terlalu banyak pakai ‘kosmetik’ para mahasiwa di sana. Saya hanya senyum, mungkin karena sudah tahu sebelumnya.

Di luar saya dan teman-teman lain seperti pahlawan, namun tidak di ‘kandang’. Kami terhimpit kesulitan membayar kuliah, bahkan sistem yang kami hadapi begitu rumit. Banyak kegiatan kami yang terhambat karena mempunyai ‘Tuhan’ sebuah sistem kapitalisme. Sudah tahu keadaan seperti itu, tak tergerak mereka yang berada di atas. Malah lontaran kata-kata kosong terus melantun. Student goverment, Tri Dharma Perguruan Tinggi, AD/ART, bahkan memo tak berhenti bergaung di kuping saya. Mereka tak menyadari dengapa yang terjadi, mungkin mereka sengaja tak ingin tahu karena sudah mendapat ‘pengawalan’ khusus dari sang kapitalis.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s