Perasaan Semeru: Berdansa Menuju Mahameru

Standard

Alunan gamelan tiba-tiba datang tanpa diminta, hanya aku yang mendengar
Di pesisir Ranu Kumbolo aku duduk termenung, dan gamelan terus mengalun
Terdiam sesaat, hanya perasaanku yang berdansa dengan pemikiran soal cinta itu lagi

Lagi, lagi, dan lagi menghantui
Membicarakan soal keimanan sayup terdengar, “apakah kau masih mencintainya, Nak?”
Bingung aku menjawab, karena memang sudah tak ingin ada cinta, dan harus ada cinta yang baru
Terus mengalun gamelan itu, dan tiba-tiba cahaya terpancar dari arah timur…

Tiga bidadari melayang di atas danau, bernyanyi soal pemikiran praktis soal kematian
Mereka memberikan tiga pilihan terbaik, “teruslah mengejar, mengejar, dan mengejar”

Aku tak pilih satu pun dari pilihan itu, karena memang semua sudah disudahi

Terpejam mataku di hadapnya, terpejam mataku karena ingin merasakan hembusan angin
Mungkin angin penantian panjang, namun bukan, itu hanya angin yang bertiup dari lereng Mahameru, puncak persinggahan para dewa

Dingin pun terus menusuk, menghangatkan pun tak ada gunanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s