Pendakian Menuju ‘Puncak Para Dewa’

Standard

Semeru menjadi sasaran empuk untuk mereka yang ingin menaklukkan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Semeru juga menyimpan banyak misteri dan pesona tinggi. Tak heran jika ‘para dewa’ betah berada di puncak Mahameru.

Semeru sangat erat dengan nama Soe Hok Gie. Gie, tokoh pergerakan mahasiswa tahun 60’an itu memang terus dikenang. Gie tak hanya tajam mengkritik pemerintahan orde lama, dia juga dikenal sebagai pencinta alam sejati. Tak hayal, banyak pendaki yang mengenang kematian Gie dengan mendaki puncak Mahameru, Gunung Semeru.

‘Puri Bukit’ adalah salah satu tim pendaki yang berisikan orang-orang yang mengagumi sosok Gie. Detikcom bersama mereka ingin mengenang kematian Gie di puncak Mahameru 16 Desember 1969 silam.

Tim berangkat dari Stasiun Senen, Jakarta Pusat 14 Desember 2009 dengan menumpang KA Ekonomi Mataremaja tujuan Stasiun Kota Baru Malang seharga Rp 51.000. Kurang lebih 9 jam perjalanan ditempuh hingga stasiun Malang.

Selasa (15/12/2009) pagi tim tiba di Malang. Kami pun istirahat sejenak sambil menawar harga sewa angkot menuju Pasar Tumpang. Di sana, kami kembali merapihkan barang bawaan, terutama menyiapkan logistik dan alat pendakian. Maklum saja, gunung yang didaki adalah gunung yang dikenal ‘kejam’ dari sisi trek maupun cuaca. Cuaca tidak bisa diprediksi, bisa berubah setiap saat.

Titik pertama yang harus dipijak sebelum mulai mendaki adalah Ranu Pani. Untuk menuju ke sana, kami harus menyewa kendaraan Offroad. Hal ini karena jalan dilalui ke Ranupane sangat ekstrim. Tanjakan curam, jurang, dan lintasan berdebu siap menghadang perjalanan. Harga yang dikeluarkan untuk menyewa jeep cukup mahal, Rp 450.000 dengan jarak waktu tempuh 1,5 jam.

Di pertengahan jalan menuju Ranupane para pendaki harus mendaftar terlebih dahulu di balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebelum diperbolehkan menaklukkan puncak Mahameru. Untuk mendaki gunung dengan tinggi 3.676 mdpl itu harus membayar uang izin masuk sebesar Rp 9.000, itu sudah termasuk asuransi Rp 2.000. Sedangkan jika membawa kamera foto terdapat biaya tambahan sebesar Rp 5.000. Jika beruntung, pendaki akan mendapatkan surat izin memuncak ke Mahameru.

Gerbang ‘Selamat Mendaki’ menyambut langkah pertama kami. Perkebunan kol dan bawang menjadi pemandangan pertama menuju Mahameru. Awalnya medan yang dilalui tak begitu liar. Hanya saja jalan terus menanjak hingga pos pertama. Perjalanan pertama ini memang memaksa kita untuk beradaptasi dengan stamina. Salah satu anggota tim pun sempat muntah-muntah karena sedikit kelelahan.

Perjalanan menuju Ranu Kumbolo menempuh jarak kurang lebih 5 km dengan waktu tempuh 5 jam. Jalurnya pun masih sangat liar dan curam. Banyak jalan setapak yang kecil dan landai. Bahkan mudah longsor. Pohon pinus dan alang-alang liar sering menutup jalur kami. Maka itu kami harus waspada, kalau tidak akan terperosok.

Sekitar pukul 21.00 (15/12/2009) para pendaki tiba di Ranu Kumbolo dan istirahat semalaman. Biasanya para pendaki beristirahat sejenak di danau itu. Selain terdapat sumber air, danau itu juga memiliki tanah yang landai. Ranu Kumbolo berada di antara bukit dengan ketinggian 2.400 mdpl. Di sana kita bisa melihat matahari terbit dari sela-sela bukit. Namun badai kabut sering terjadi di kawasan itu. Sehingga gerimis kerap datang yang menyebabkan kelembapan tinggi dan dingin menusuk. Praktis jaket tebal, kaos kaki, celana panjang pun harus dipakai karena udara mencapai 10 derajat
celcius.

Keesokan paginya, perjalanan diteruskan menuju Kalimati. Kami harus menyiapkan persediaan air yang cukup banyak. Jarak yang kami tempuh lumayan jauh dan juga melewati bukit dan hutan-hutan. Stamina pun harus benar-benar diatur. Keluar Ranu Kumbolo, rintangan pertama adalah tanjakan yang sangat miring, para pendaki menyebutnya ‘tanjakan cinta’. Ada mitos jika kita melewati tanjakan itu tanpa
berhenti dan tak menoleh ke belakang, maka akan mendapatkan wanita idaman kita. Namun memang jarang yang bisa melewatinya tanpa berhenti karena sangat terjal.

Keluar Ranu Kumbolo, hamparan padang rumput yang disebut Oro-Oro Ombo. Kawasan itu mirip padang rumput di Afrika, hanya saja udaranya dingin dan di kelilingi bukit. Usai Oro-Oro Ombo, kami memasuki Cemoro Kandang atau hutan cemara. Sepanjang perjalanan memang yang dilihat adalah pohon cemara, sesekali pinus juga terlewati. Banyak kayu gelondongan yang tumbang karena alam. Makanya kami harus ekstra hati-hati melewati kayu-kayu yang tumbang. Pemandangan di sini sangat indah, terasa sekali nuansa alam. Apalagi kicauan burung sedikit menghilangkan rasa lelah kami.

Kurang lebih 5 jam waktu tempuh kami ke Kalimati dari Ranu Kumbolo. Hampir tiba di Kalimati, kami disambut dengan hamparan bunga abadi, atau Edelweis. Dari padang edelweis itu kami sudah bisa melihat puncak Semeru yang eksotik.

Di Kalimati kami kembali mendirikan tenda. Karena udara yang begitu dingin, ditambah angin yang terus bertiup memaksa kami untuk mengungsi di camp Kalimati. Camp Kalimati merupakan bagunan permanen dengan 4 kamar yang bisa digunakan pendaki untuk beristirahat. Tenda kami pakai untuk menyimpan barang bawaaan.

Kami pun bersiap mendaki Mahameru karena cuaca saat itu sedang cerah. Pendakian harus dilakukan dini hari. Karena sampai puncak mahameru harus sebelum pukul 08.00 WIB pagi. Lebih dari pukul 08.00 WIB, gas beracun akan keluar dari perut Semeru.

Untuk mendaki ke Mahameru kami harus mengisi perut dahulu. Meski jarak tempuh yang dituju tak sejauh perjalanan sebelumnya, namun medan jalan yang akan dilalui begitu bahaya banyak jurang, dan terjal. Kami pun diwajibkan tak boleh membawa barang bawaan yang banyak. Hanya air minum dan perbekalan secukupnya. Selain itu jaket tebal berlapis, kacamata, sarung tangan, celana panjang, dan masker wajib kami pakai. Selain itu senter pun wajib dibawa. Di jalan menuju puncak akan bertiup angin super dingin yang berdebu.

Untuk menuju puncak Mahameru, kami melewati hutan cemara yang sangat curam dan rawan jurang. Terus naik ke atas, hutan dengan medan berpasir atau arcopodo. Tantangan belum selesai, tantangan yang sebenarnya adalah melewati bukit berpasir. Kami harus berjalan merangkak agar hemat energi untuk sampai puncak. Pasir yang kami pijak mudah longsor, makanya harus perlahan. Apalagi kemiringannya lebih dari 45 derajat. Tak heran langkah kami selalu menurun. Sebagai tips, untuk mendaki Mahameru disarankan untuk tidak banyak istirahat dan tidur. Karena berpengaruh pada stamina.

Kurang lebih 7 jam kami mendaki dari Kalimati hingga Mahameru. Kami sampai pada pukul 07.00 WIB pagi, sayangnya kami tak bisa menyaksikan matahari terbit. Karena matahari mulai nampak pada pukul 05.15 WIB (17/12/2009). Namun pemandangan Kota Malang sangat jelas tergambar. Selain itu Gunung Bromo dan Gunung Agung di Bali nampak kokok menjulang. Garis laut Samudra Hindia seharusnya terlihat, sayang kabut menghalangi pandangan kami.

Renungan kecil kami lakukan di puncak Mahameru. Di atas puncak tertinggi di Pulau Jawa kami merasa kecil dan bukan mahameru yang kami taklukkan, namun arogansi diri yang sesungguhnya kami lawan. Di puncak kami tak lama, angin kencang dan udara dingin mencapai 8 derajat celcius memaksa kami segera turun dengan kenangan mencapai ‘puncak para dewa’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s