Berpikir “Melamar Sang Mantan Kekasih”

Standard

Semakin malam berbagai pemikiran muncul, termasuk soal kenekatan ingin melamar mantan kekasih. Tapi saya sadar kalau itu tak mungkin, tapi malam berikutnya keinginan itu ada lagi. Bodoh atau terlalu maju dalam menentukan sikap.

Hari ini Agil, sahabar saya menikah dengan kekasihnya yang sudah dipacari selama 3 tahun. Saya hampir tak percaya kalau akhirnya ada teman sejati yang memulai hidup baru sebagai ‘manusia satu’. Tak ada lagi perbedaan atau kata ‘masing-masing’. Malah tadi saya sempat SMS dia, “Gil, gue takut lu berubah dan nggak nge-band lagi. Itu yang ditakutkan anak-anak.” Agil pun membalas, “Nggaklah Bi, gue nggak berubah, kita tetap bisa ngumpul. Malah, gue nggak lagi dibatasi dengan jam malam.”

Saya senang bukan main, setidaknya akan ada yang berubah saat nge-band, Agil selalu ditemani istrinya. Saya tak mau lagi mencampuri masalah percintaan Agil dan Vijar, mudah-mudahan mereka awet sampai mati.

Melihat pernikahan mereka, saya agak iri. Tapi bukan untuk lekas menikah juga, melainkan iri dengan ‘cinta’ mereka. Agil sudah tak memikirkan bagaimana membangun cinta, tapi sekarang bagaimana merawatnya.

Bicara soal itu, bagaimana dengan saya. Saya harus memikirkan bagaimana membangun cinta itum bagaimana pondasinya, desainnya, bahkan bagaimana bentuk cinta itu pun saya bingung. Belum terbayangkan, meskipun sekarang sudah ada cinta yang menghampiri.

Namun sebelumnya, bahkan sampai saat ini masa lalu dengan berbagai penyesalan terus menghampiri saya. Bahkan ide ‘gila’ untuk melamar sang kekasih pun kerap menghantui. Aksi nekat itu memang terus mendesak. Namun bagaimana mungkin, sang mantan saja sudah ‘jijik’ melihat, bahkan mendengar nama ‘Eby’.

Yah, mungkin baginya kisah percintaan kami hanya membuat sakit hati dan penyesalan harga diri. Tapi saya terima itu sebagai cambuk yang akan memotifasi saya untuk lebih sempurna.

Apakah itu akan terjadi, saya tak tahu. Kalau memang takdir, itu akan terjadi dengan cara apapun. Setidaknya saya masih hidup dan masih bisa berfikir soal ‘logika dan perasaan cinta’.

Sekarang! Saya harus menyingkirkan segala obsesi bahkan harapan untuk mendapatkan cinta yang sempurna. Itu hanya ada di dunia dongeng ‘Romeo Juliet’ atau ‘Sang Putri Salju’.

Cinta harus terus dicari selanya, dibangun, dan akhirnya dipertahankan… Tuhan, selamatkan jiwaku!

One response »

  1. jika masih ada jalan untuk memperbaiki kesalahan dengan mantan kenapa tidak. tapi mungkin dibutuhkan usaha yang keras…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s