Saya di Antara Pemikiran Intelek, Becak, dan Doktrin si ‘Anjing’!!!

Standard

Banyak yang terjadi saat kamu bersama, namun dia tetap saja sebagai bangkai yang tak bernyawa. Hanya saya dan seorang kawan yang selalu bicara soal hidup susah, keasilan, dan idealisme mahasiswa. Namun dia menjadi berbeda setelah mengenal sekuntum mawar di lembah Kebon Jeruk.

Saya hanya bisa diam memikirkan kesendirian tanpa seorang wanita. Namun itulah nasib sang pengembara keadilan, sang pencari keindahan sejati di taman perkotaan. Saya hanya menjadi batu yang tak pernah berpindah, kegelisahan tetap saja menghantui meski telah mejadi sarjana.

Bahkan tak hayal sarjanapun seperti tukang becak yang mementingkan otot daripada pemikiran soal perubahan. Tak hanya keadaan yang berubah, tak hanya miskin menjadi kaya, dan tak hanya sendiri menjadi ramai. Namun apa yang lebih indah dari perubahan intelektual muda yang selal bicara soal moral dan hubungan seks. Percupa, percuma, saya tetep sendiri melihat calon intelektual muda tergerus oleh ideologi kapitalis. Saya di sini menatap keindahan semu sebuah lembaga pencetak generasi muda.

Di sini, di lantai ini saya sebagai budak di antara kemunafikan. Saya pun merasa sia-sia karena semua terpecah karena doktrinisasi anjing!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s