Teriak Belum Bisa Pergi

Standard

Pagi menyongsong semakin pagi, semakin tak jelas mau kemana. Namun semua terjawab setelah aku bersama motor tua dan arahan dari pesan singkat. Berharap dapat si baru, siapa sangka aku terlena dengan keadaan.

Pasir pun mulai berbisik, mengisyaratkanku untuk pergi. Namun hingga saat ini tak bisa. Maki demi maki teriak entah tak apa maksudnya. Saya tak tau, katanya terlalu muda untuk dipahami. Ehm . . . Tetap saja, saya adalah si bodoh. Tapi saya bukan si muka dua yang asal bicara.

Sebuah balada bening mengisyaratkan untuk menengok ke belakang. Namun aku tak mau, sampai aku terlena. Aku merasa terjebak di masa kini, di tengah hamparan pasir. Atau bahkan rerumputan yang tak ingin ternodai. Munafik sekali rumput itu, apa dia tak takut dengan si pemotong rumput liar.

Aku adalah manusia, ampuni aku, ini salahku, ini dosaku. Maaf ya Tuhan…..

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s