Beri Aku Air dari Bengawan Solo

Standard

Tertegun aku saat menari di kasur kesayangan ini. Ku ingat saat kau menyuruhku tidur dengan segelas air pelepas dahaga. Kau pun memainkan lagu karanganku dengan gitar kesayanganku. Betapa romantisnya, hingga lupa waktu sudah terlampau malam. Kau harus pergi sayang, ups . . . Aku tak pernah memanggilmu ‘sayang’. Aku sering memanggil namamu, ya hanya namamu yang begitu unik.

Bukan soal nama, percuma! Aku tak bisa lagi memanggilmu dengan nama itu. Dan bintang kita pun, sudah redup tertutup kelabu yang kau terbangkan. Betapa indah saat bintang itu tergantung. Mungkin bisa kau ambil bangkainya, atau aku yang ambil?

Terlalu indah untuk terkenang, tak terasa rasa haus gerogoti tenggorokanku. Aku ingin minum minuman yang kau bawa dari tangan mungilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s