Kongres ‘Boneka’ VI UIEU, Rabu-Jumat, 5-7 Juni 2006

Standard

Hari pertama,
Saya sampai kampus jam 8.30 pagi, katanya berangkat jam 9 tapi ngaret sampai jam 11. Panitia lama menunggu peserta dari HMJ dan UKM, sialnya ditunggu-tunggu tidak datang – mungkin mereka tidak perduli nasib birokrasi kampus yang semakin kacau. Uang semester terus melonjak dan janji-janji pihak kampus untuk memperbaiki system birokrasi administrasi yang tak jelas, semua ini menjadi alasan saya untuk ikut terlibat dalam pengambilan keputusan di sidang kongres tersebut. Selain itu, saya juga memanfaatkan moment ini untuk berlibur, mumpung gratis. Kami naik bus TNI AU yang di komersilkan (padahal itu milik Negara) dan terpaksa berdiri karena jumlah mahasiswa yang ikut tak sebanding dengan kapasitas bus. Dari Fikom hanya saya (perwakilan DPMF), Ghamal (perwakilan BEMF), dan Reza (perwakilan Advertising), sedangkan yang lain seperti menutup mata dengan keadaan Fikom yang porak-poranda, meski begitu saya tidak bisa menyalahkan mereka. Sebelumnya Ghamal mengobrol dengan saya mengenai mengapa Fikom jadi krisis pemimpin. Menurutnya itu semua disebabkan karena BEM, DPMF, dan HMJ kemarin tidak melibatkan langsung angkatan 2004 dalam kepengususannya, “2004 Cuma dijadiin jongos (pembantu), padahal mereka butuh dilatih menjadi pemikir”.
Sesampainya saya terkejut, rupanya kongres kali ini diadakan di villa PPPI BLK, gunung geulis, Bogor, tempat Mubes dan LDK Fikom kemarin – saya kira dimana!. Sidang dimulai pukul 4 sore, saya duduk di belakang bersama ketua DPMF terpilih dari seluruh Fakultas. Jeka sebagai pimpinan sidang I memilih Renold (hukum) dan Uci (psikologi) sebagai pimpinan sidang II dan III. Dia terlihat gugup dalam memimpin sidang, mungkin saya juga akan seperti itu nanti saat memimpin Mubes Awal Fikom. Saat memimpin sidang, dia salah dalam membacakan tata tertib sidang karena tidak menanyakan “materi persidangan akan dibacakan bab per bab, pasal per pasal, atau ayat per ayat?”, tapi tatib tersebut terus dibacakan seperti kareta – melaju terus tanpa henti. Saya sempat mengajukan interupsi saat itu, “harap pimpinan sidang bersikap tegas memutuskan dan jelas dalam berbicara”. Sempat terjadi berdebatan dan banyak interupsi dari peserta, peserta dari Fakultas Psikologi mengajukan permohonan agar dari masing-masing angotanya dapat menempatkan wakilnya di masing-masing komisi. Alhasil ini menimbulkan kacemburuan dari Fakultas lain, mereka juga menuntut hal yang sama. Padahal ini adalah rapat yang paling demokratis dan dalam menentukan kebijakannya pun harus berdsarkan suara dari seluruh anggota Kongres – dimana letak kebersamaan kalau ego yang dipentingkan?. Akhirnya permintaan itu diterima Jeka, dan sidang di tunda selama 2×45 menit untuk rapat masing-masing komisi – saya masuk kekomisi GBHKO. Di sela-sela pending, saya mengobrol dengan Merdeka (gubernur psikologi) tentang kuliah, pribadi dan cita-cita. Dia orang Batak tapi dibesarkan di Jambi, anehnya tidak terlihat nyata logat maupun cirri-ciri Batak pada dirinya. Logat bicaranya begitu halus dan sopan – sangat-sangat psikolog. Saya simpati padanya, memang beruntung lelaki yang menbapatkannya karena sifat ke-ibu-an menonjol padanya – bijaksana dan berwibawa. Setelah pending dicabut, 2×45 menit pun masih kurang, komisi AD/ART dan keuangan belum selesai membahas yang akan direvisi, mereka beralasan masih bannyak yang harus di amandemen. Sidang hari pertama selesai pukul 1 pagi setelah pembahasan komisi GBHKO. Sempat terjadi perdebatan ketika ketua komisi keuangan, Idris (ekonomi) mengusulkan untuk membahas materi hasil amandemennya sekarang karena percuma kalau dipending, peserta sidang tak akan beristirahat karena dipastikan mereka akam menonton Bola (Prancis vs Portugal) Tapi akhirnya diputuskan sidang ditunda sampai besok pagi (pukul 10) setelah saya mengusulkan hal tersebut. Percuma saja saya sudah tak mengantuk, saya mengobrol dengan Yunita atau Yunet (fikfis) sampai jam 4 pagi dari jam 1 pagi.

Hari kedua
Saya bangun jam 8, dingin sekali karena saya tidur di ruang utama dekat jendela. Udara pagi di pegunungan memang sangat sejuk dan pemandangannya pun indah, tapi sayangnya tertutup kabut. Saya mendambakan saat-saat seperti ini, berada di pegunungan dan menelusurinya. Tapi tempat kongres ini jauh dari harapan saya, tempatnya hanya berada di kaki gunung dan pemandangannya pun standar. Sidang dimulai jam 11 siang dengan isi angendanya yaitu pembacaan amandemen komisi keuangan dan pemira. Hal yang menarik pada pembahasan amandemen komisi keuangan yaitu masalah pengajuan dana yang sulit dari mahasiswa saat ingin mengadakan acara. Mereka harus melewati birokrasi yang rumit. Ketika dana diajukan, belum tentu keluar dengan cepat, mereka harus menunggu respon dari BAUK (badan keuangan) yang di pegang oleh pak Irwan. Issu otonomi Fakultas pun dibahas, dengan berlakunya otonomi Fakultas berarti pengajuan dana IKM tidak melewati BAUK tapi cukup mengajukan proposal ke Fakultasnya masing-masing dengan melewati Gubernur dan Dekan, dengan kata lain dana IKM dikelola sepenuhnya oleh BEMF. Tapi rencana itu tidak bisa dijalankan karena pihak BEMF dan BEMU tidak bisa terlepas dari campur tangan pihak universitas. Dana IKM tetap dipegang oleh BAUK namun tetap dikontrol BEMU dengan cara buku tabungan (BOKOPIN) sebagai catatan rincian pemasukan dan pengeluaran dana di pegang oleh pihak BEMU dan BAUK. Alasannya agar tidak terjadi manipulasi data, karena pernah terjadi kasus adanya stadment dari pak Irwan kalau dana mengalami devisit, padahal setelah di cek oleh mentri keuangan BEMU ternyata dana masih ada. Dalam pembahasan amandemen komisi pemira, tidak ada hal yang berarti karena hanya membahas redaksional kata yang kurang pantas. Sidang selesai pada hari itu juga dan tinggal acara pelantikan Presma terpilih, Haswardi (ekonomi).
Malamnya ada acara yang konyol, acara pemembakan, Lukman (ekonomi) menembak Dewi (fasilkom). Rencana ini dudah diseting, dengan dugaanku Frengky-lah yang menyusunnya. Dengan membuat taburan bunga yang berbentuk hati dan membuat lintasan dengan lilin disisinya, Lukman dengan pelan mengatakan, “setelah dua hari ini gue meratiin elu, dan akhirnya gue merasa kalau gue cinta sama elu. Apa elu mau jadi cewe gue?, karena gue sayang dan cinta sama elu”. “Sorry, gue nggak bisa, soalnya gue udah punya cowo. Maaf ya”, tolak Dewi tanpa basa basi.
Setelah itu saya duduk di luar bersama peserta kongres, termasuk panitianya sambil menunggu jagung bakar. Ghamal banyak bicara tentang kegelisahannya dalam Mubes Awal nanti dan kongres saat ini. Dia takut Mubes nanti tak lebih dari sekedar rapat boneka, peserta hanya dipakai untuk mengatakan “setuju”, tidak untuk memutuskan karena keputusan rancangan ‘undang-undang’ sudah disusun sebelumnya oleh dewan. Merasakan malam penuh ‘politik tai kucing’ dan ditengah malamnya membicarakan kabijakan. Rasanya disanalah awal perjuangan saya bersama Ghamal menjadi motor pergerakan organisasi Fikom.

Hari ketiga,
Setelah pelantikan Presma, saya berjabat tangan memberi selamat Haswardi dan mengatakan “jadi pemimpin yang jujur yah”, di sebelahnya ada Shandy mantan presma sebelumnya. Saya pulang meninggalkan Villa jam 2 siang dan sampai rumah jam 7 malam, badan ini terasa lelah dan tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s