Didorong Untuk Berpihak

Standard

Beberapa waktu lalu betapa saya menikmati pekerjaan. Dalam mencari informasi, saya langsung ke ‘pusat sasaran’ alias langsung narasumbernya. Tapi begitu mulai mendekati narasumber, saya merasa di ‘stir’ oleh narasumber itu. Intinya mereka menginginkan berita yang baik-baik kepada saya. Bahkan tak tanggung-tanggung, saya kerap di telepon oleh orang itu. Itu tidak membuat saya nyaman.

Pertama, saat itu saya sedang menggarap kasus suami Dewi Hughes, Roy yang tak ingin membayar hutang kepada pria bernama Duta. Saya hubungi ponselnya dan akhirnya mendapatkan wawancara sekaligus konfirmasi. Pastinya Roy membantah, saya pun lega dengan bantahan itu. Soalnya bertolak belakang dengan pengakuan Duta di beberapa media. Saya berharap ini bisa berlanjut ke ‘gerakan tuding’. Roy bulak balik tepon ponsel saya, tapi niatnya baik dan tidak membingungkan. Dia terus memberikan kabar kalau akan ada proses hukum untuk tudingan yang mengarah kepada dirinya.

Detik terus berputar, malam pun tiba. Icai, pria yang dituding Roy sebagai oran yang seharusnya bertanggung jawab atas piutang itu meminta hak jawab kepada saya. Awalnya dia menelepon Fatia dan Eny, mereka pun menyerahkan kasus ini kepada saya. Saya pun menghubungi ponselnya. Icai membantah kalau dirinya yang harus bertanggung jawab. Icai pun kepada saya menceritakan semua keburukan Roy, tapi itu off the record. Setelah wawancara, dia menanyakan kapan berita hak jawabnya online. Saya pun tidak menjanjikan kalau berita itu naik hari ini, mungkin bisa besok pagi. Dengan halus dia meminta berita itu naik pada malam itu juga.

“Ya nanti dikonformasi lagi ke bos saya,” kata saya.

Setelah itu memang Icai menelepon saya terus, intinya meminta berita konfirmasinya dinaikkan terus. Sampai pada suatu saat dia mengaku sudah bertemu dengan Roy dan merekam semua pembicarannya dengan suami Hughes itu. Katanya sebelumnya Roy tidak mengakui kata-katanya yang dia bilang kepada detik. Saya kaget,

“makanya saya rekam pembicaraan saya dengan Roy pakai handycam,” kata Icai.
“Supaya detik tahu, kalau dia itu tidak mengakui omongannya yang detik muat,” lanjutnya.
“Jadi mana yang benar,” kata Icai dengan nada bingung.

Saya terangkan kalau detik itu sudah terlatih menulis quote narasumber yang sama persis dengan apa yang diomongkan. Lagi pula, kata saya, detik dilarang keras merekayasa berita.

“Iya saya percaya detik, tapi harus kita buktikan,” katanya.

Untuk membuktikannya, Icai memberi pilihan untuk bertemu saya langsung di sebuah tempat. Dia akan memberikan bukti rekamannya kepada detik. Awalnya saya menerma dan janjian di coffe shop di kawasan Plaza Semanggi. Tapi akhirnya urung saya lakukan. Karena saya mengira tidak terlalu penting juga urusan mereka. Saya tak ingin digiring untuk memihak salah satu pihak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s