Kesal karena Celotehan ‘Jale Mania Baru’

Standard

Kemarin itu hari mengesalkan untuk saya. Seorang jele mania baru terlalu banyak omong di depan saya soal pembagian jele (amplop) yang dilakukan Kementrian Pemberdayaan Perembuan kepada wartawan. Saat itu sedang di launching ‘Gerakan Aksi 100 Perak’ di kantor KPP.

Seperti biasa pihak kementrian membagikan doorprize berupa handphone Esia Ramadhan kepada wartawan yang datang. Tujuannya supaya berita launching itu naik (cetak) atau siar (TV). Tak hanya itu, wartawan yang datang pun di berikan uang sebesar 100 ribu, katanya sih sebagai ongkos atau uang rokok. Tak hayal banyak sekali wartawan ‘bodrek’ (wartawa tanpa media) yang ikut datang. Mereka hanya mengincar amplop Menteri.

Saat pembagian doorprize, saya mendapatkan doorprize itu. Katanya saya wartawan yang datang pertama dengan mengisi buku absen di urutan pertama. Aturan di detikcom, reporternya tidak diperbolehkan menerima imbalan berupa uang (amplop) ataupun doorprize dari narasumber, karena ini berkaitan dengan profesionalisme jurnalis Indonesia. Saya pun mengikuti itu, dan temam-teman saya sesama wartawan juga sudah tau kalau detikcom tak menerima amplop (jale). Saya pun mengambil hadiah itu dan berencana mengembalikannya ke meja redaksi keesokan harinya.

Ledekan berbentuk candaan keluar dari mulut teman-teman lapangan. Ada yang mengucapkan selamat, sampai ada yang menawar HP yang saya dapat sebesar 200 ribu. “Balikin kantor kale,” ujar saya dengan muka tersenyum. sebagian dari mereka pun menanggapinya dengan tertawa ringan.

Tapi di antara mereka ada yang terus menawar dan merengek-rengek menginginkan HP yang saya dapat. “Daripada dibalikin ke kantor mending gue bayarin deh, nanti duitnya baru dikasih ke kantor. Tapi lu jangan bilang kalau dapet doorprize, gimana?,” celoteh salah satu wartawan. Jelas saya kesal dengan apa yang diucapkannya, sepertinya dia pura-pura tak mengerti dengan posisi saya sebagai jurnalis yang ingin profesional. Memang kebijakan setiap redaksi media berbeda-beda. ada yang memperbolehkan mengambil imbalan narasumber, ada juga yang tidak. Ada yang memang tidak diperbolehkan, namun si wartawannya membandel. Semua itu tergantung di Jurnalis, ingin jadi wartawan profesional atau sekedar menjadi kuli tinta biasa.

Si wartawan itu terus merengek-rengek kepada saya. Tapi saya enggan menanggapinya dengan kasar, saya tahu dia membutuhkan uang, saya juga.

Saya menganal si wartawan itu sudah lama, dulunya dia wartawan dari media cetak. Dulu dia mengaku ‘Jijik’ dengan Jale (sebutan amplop di kalangan wartawan hiburan), tapi setelah pindah media, dia begitu gencar dengan yang namanya jale. Bahkan sampai mencari. Saya ingat penyesalan yang begitu mendalam, saat dia tidak menghadiri acara begi-bagi THR yng diadakan stasiun TV swasta. Nilai amplopnya sebesar 1 juta. Dia mengaku sangat menyesal tidak datang, karena posisinya digantikan dengan reporter lain. Entah apa yang menyebabkan dia menjadi ‘Wartawan Amplop’ atau ‘Jale Mania Baru’.

4 responses »

  1. wah..tulisan km benar2 menyentuh saya,saya adalah seorang journalist di sebuah radio di daerah,dan godaan untuk menjadi wartawan amplop sangatlah besar apalagi di tengah pekrjaan journalist yang membuthkan ongkos perjalanan yang tidak sebnading dnegan selelery yang saya dapatkan,membuat saya tidak kuasa menahan keinginan menerima amplop,tp jujur saya ingin sekali menjadi wartawan profesional,tp saya tidak dapat melamar ke perusahaan manapun yang lebih mapan karena saya belum kuliah,,jd maukah kamu ngasih saran ..sedangkan km adalah wartawan yang punya sellery yang mungkin mencukupi bahkan lebih dari biaya opersaioanal sehari2..

  2. Untuk Eric
    saya rasa uang adalah segalanya, saya tidak munafik soal itu. Uang adalah pemuas hidup yang nyata dan bisa langsung dirasakan. Lalu siapa yang tidak membutuhkan uang, mustahil jika ada orang yang tak membutuhkan uang. Secara pribadi saya ingin sekali menrima amplop, tapi saya terhalang oleh sebuah sumpah profesi, yaitu wartawan profesional. Wartawan mempunyai tanggungjawab serta kewajiban untuk memberikan informasi yang akurat, tanpa memihak. kepada masyarakat.

    Yang saya takutkan adalah, dengan menerima amplop, saya akan tidak akurat dan seimbang dalam memberikan informasi. Saya nggak mau membohongi masyarakat. Bayangkan saja berapa dosa saya jika membohongi masyarakat lewat media saya sendiri (detikcom)? Saya akan membohongi 3 juta orang di setiap berita yang saya keluarkan. Itu berarti pertanggungjawaban saya bukan hanya manusia saja, tapi dengan Tuhan.

    Saya ingin menjadi wartawan sebenarnya, bukan wartawan amplop yang harga dirinya dihitung dengan berapa rupiah yang diberikan narasumber. Lalu apa bedanya wartawan AMplop dengan pelacur. Maaf jika terlalu kasar, Karena jurnalis indonesia harus bangkit dan sejahtera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s