Namanya John, Si Pahlawan Kesiangan

Standard

Ini adalah kisah nyata dengan nama tokoh yang disamarkan. Sebutlah John

Ya, namanya John. Diberi nama John karena badannya yang kekar, tegap, dan berotot. Saya menduga kalau dia sering fitnees atau sekedar berolah raga. Saya tidak mengenal John dengan baik, namun yang saya tahu, dia aktif di kampus dan beberapa kali duduk di jajaran Senat kampus. Puncak karirnya menjadi seorang menteri di kabinet mantan lawan politiknya. Dia rela menanggalkan hargadirinya untuk menggapai popularitas di kampus. Terkadang John dengan lantang menyebut dirinya sebagai ‘orang yang patut disegani di kampus’.

Tapi arti ‘segan’ jika melihat perawakannya, lebih kepada ‘takut’. Terkadang dia kalau berargumen lebih mengedepankan emosi dan kekerasan fisik. Jadi jangan heran jika keturunan John tidak lebih sebagai generasi ‘Kabinet Otot’. Saya pernah bertengkar dengan dia, gara-gara salah satu tulisan saya menyinggungnya. Tapi saya hadapi dengan senyuman saja. Saya berpikir, melawan preman harus pakai hati yang tenang, karena mereka mengutamakan otot, bikan otak.

Setelah karirnya usai, John memilih pindah program kuliah. Selama itu, teriakan bisingnya tak terdengar. Namun setiap akhir masa jabatan Senat, John selalu hadir dalam sidang pertanggungjawaban. Dia lantang memprotes satu demi satu pertanggungjawaban Senat, tanpa memberikan solusi yang jelas.

Ya, saya kira itu tak apa. Mungkin dia masih peduli dengan keadaan kampus. Tapi saya dan seorang kawan memandang tindakan John tidak lebih dari ‘pergerakan pecundang’. Bayangkan saja, dengan mengatasnamakan demisioner, John dengan lantang memprotes sepak terjang Senat. Padahal selama Senat berdiri, dirinya tak berbuat apa-apa. Tepatnya tidak ada kontribusi yang dia berikan.

Selama dirinya menjadi ‘pejabat kampus’ pun, sama sekali tidak ada perubahan yang menguntungkan mahasiswa. Hanya kegiatan yang sifatnya normative saja, seperti acara musik ataupun lomba-lomba ‘cerdas cermat’.

Semoga saya tulisan fiksi ini biasa menjadi sentilan demisioner kampus yang hanya mencari popolaritas semata. Seharusnya demisioner bisa berperan lebih untuk melahirkan generasi baru yang mengedepankan diplomasi dinamis, bukan melahirkan generasi otot yang bermandikan korupsi semata. Hidup Pahlawan Kesiangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s