Saya Beruntung Mengenal Nona

Standard

Surya telah tenggelam, aktifitas Ibukota pun lumpuh sementara. Tapi ada saja yang bekerja hingga pagi, bisanya beda shift. Siang ini kita merencanakan untuk bertemu di sebuah taman di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Taman dimana kita pertama kali bertemu dan bercerita tentang semua hal.

Kira-kira pukul 10 malam ponsel saya berdering dengan suara ‘Tembang Dhurmo’. “Jemput aja ke kost sekarang,” begitu isi pesan singkat Nona. Saya pun bergegas agar tidak telat. Lampu kota mulai menampakkan kejantanannya, menerangi jalanku menuju kawasan hijau di kawasan Jakarta Selatan.

Sudah sampai, ayo kita berangkat.

Sekitar 1 jam perjalanan menuju Taman Menteng kita sesekali bercerita tentang apa pun. Dari yang penting, hingga yang tak penting. Senang sekali saat itu. Penerangan semakin jelas terasa, itu berarti Taman Menteng sudah dekat.

Sesampainya kita duduk di sebuah bangku besi di pinggir lapangan. Banyak hal yang kami bicarakan saat itu, salah satunya soal hubungan kami berdua. Malam pun semakin larut, lampu taman mulai mati. Saya melihat jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

“Sudah malam, ada yang ingin dibicarakan?,” tanya saya.

“Aku beruntung mengenal Tuan. Aku harap Tuan bisa bersama saya selamanya,” begitu harapannya dengan mata berkaca-kaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s