Lawakan Jale

Standard

Setiap kali hunting, ada saja lawakan baru di kalangan wartawan infotainment dan hiburan. Kami sering kali bercerita soal apa pun, dari yang penting dari yang tak penting. Kali ini, saat saya menunggui Bunga Citra Lestari yang sedang sakit di RS Abdi Waluyo ada cerita soal Jale atau imbalan berupa uang dari narasumber.

Istilah Jale di pakai di kalangan wartawan hiburan dan infotainment. Jale adalah imbalan berbentuk uang dari seorang narasumber atau perusahaan tempat si wartawan liputan agar berita si narasumber atau perusahaan tersebut bisa terbit dengan berita yang baik-baik. Biasanya besaran Jele diukur dalam kata sandi, yaitu literan (1 liter = Rp 100.000) dan galonan (1 galon = 1 juta). Oleh sebagian media jernalis, Jale dilarang diterima karena alasan profesionalitas pekerjaan, artinya si wartawan tak diizinkan menerima amplop. Media itu seperti detikcom. Namun secara profesi, disarankan untuk tidak menerima imbalan dari narasumber

Oktras (reporter Infotainment Pagi ‘Shandika’), Yani (reporter Obsesi Global TV), Sundari (reporter KISS Indosiar), dan saya (reporter detikcom) berbicang soal banyak hal. Yang paling menarik adalah pembicaraan soal fenomena seorang reporter yang menikah dengan reporter juga. Terlebih jika keduanya kerja di lingkungan yang sama pula, yaitu sebagai reporter hiburan atau juga infotainment.

“Eh, kalau seandainya ada reporter yang kawin sama reporter bagaimana ya. Pasti nanya terus, dapet berapa liter hari ini. Terus udah berapa titik. Kalau nggak dapet, tinggal bilang kalau hari ini lagi seret banget,” hayal Yani dengan tertawa. Kami pun ikut tak berhenti tertawa.

“Iya, apa lagi kalau dua-duanya Jalemania. Istrinya jadi BD (Bandar, istilah yang mengkoordinir wartawan di suatu acara. Bisanya BD adalah wartawan juga, gunanya biar mudah memanggil media lain untuk meliput suatu acara) terus suaminya juga rajin cari Jale. Pasti gitu, nanyai terus,” sambung Sundari.

“Kalau misalnya si suami nggak dapet Jale, nggak bakal dapet ‘jatah’ dai istrinya,” ksts Oktras dengan tertawa. Itu hanya hayalan saja, kalau sampai benar terjadi di lingkungan wartawan yang sama-sama wartawan berarti benar hayalan saya.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s