Hore. . . ! ! ! Aku Pakai Lencana Lagi

Standard

Kegelisahan hati dan kerisauan jiwa yang menguras pikiran selama 8 bulan akhirnya terjawab dengan sempurna. Rasa percaya diri membuatku kembali mengalungkan lencana yang menjadi nyawa seorang jurnalis. Lencana itu adalah kartu pers. Kurang lebih 8 bulan aku lepas lencana itu karena perasaan pesimis tentang sebuah nilai berita hiburan.

Hal itu pula yang membuat aku menyelesaikan tugas skripsi atas kegelisahan itu sendiri. Karena kegelisahan soal sebuah nilai berita, membuat aku menyelesaikan semua dengan sempurna.

Kesal di Taman Menteng
Pada suatu hari – waktu itu malam – ada seorang teman yang mengeluh dengan pekerjaannya sebagai pencari berita septar artis di sebuah program acara infotainment. Dia bilang siapa yang menjadi wartawan infotainment, merekalah yang hanya mencari kebodohan. Wartawan infotainment, menurutnya, bagian dari kasta terendah di sebuah profesi pencari berita. “Hina sekali, pekerjaannya hanya mencari gossip cerai saja,” lanjutnya.

Entah apa yang saya rasakan saat itu, bingung apa yang harus saya katakana kepadanya. Saya memang bukan wartawan infotainment, tapi saya bekerja bersama mereka di sebuah situs online. Saat itu saya berusaha menjelaskan kalau seorang wartawan tidak sehina itu. Ini masalah bidang pekerjaan wartawan saja. Seorang wartawan politik tidak lebih baik daripada wartwan ekonomi. Begitu juga wartawan infotainment tidak lebih buruk dari wartawan politik ataupun lainnya. Mereka masing-masing mempunyai profesi dan narasumber yang berbeda kepentingan. Tinggal bagaimana mereka menjalaninya, professional atau tidak. Begitu saya menjelaskannya. Namun tetap saja dia teguh dengan opininya, kalau dia lebih menyukai wartawan politik. Sama, saya juga suka dengan dunia politik.

Hampir 1 tahun saya malas mengenakan ID pers, itu karena kegelisahan saya soal nilai profesi wartawan hiburan. Tapi sekarang saya kembali mengenakannya dengan rasa bangga. Seorang atasan yang memberikan perubahan ini, saat itu saya sedang investigasi kabar pernikahan siri Paramitha Rusady dengan seorang pria bernama Sacha.

Kabar itu sudah saya dengar sejak sebelum puasa, namun baru ‘digarap’ setelah lebaran. Saya menelepon seorang narasumber kunci, bernama Mitha. Dia adalah istri Sacha, lelaki yang menikah siri dengan Paramitha. Saya sudah dapat semua ceritanya, tinggal eksekusi saja. Namun atasan saya menahannya, katanya harus ada konfirmasi kembali dari Paramitha. Pilihan lain, saya harus bertemu dengan Mitha secara langsung. Saya pun terpaksa mengikutinya, padahal akan menjadi berita besar kalau berita saya naik.

Di sisi lain wartawan belum tahu keberadaan Mitha, tak terkecuali ‘situs tetangga’. Awalnya saya tak mengerti dengan pemikirannya untuk tidak langsung menaikkan pengakuan Mitha. Ada saja spekulasi murahan yang dia katakana.

“Bisa aja dia cuma ngaku-ngaku aja kalau suaminya nikah siri. Mungkin aja dia mau balas dendam kepada Paramitha Rusady,” katanya.

Tapi saya belakangan sadar kalau this is journalism. Saya kira apa yang saya jalankan – mencari berita, mengolah berita, dan mempublikasikan berita – hanya karena kepentingan page view dan politik hubungan kantor dengan si narasumber.

“Harus ada cover of both side,” itu yang saya tak pernah mendengar selama menjadi wartawan di situs. Ternyata ada, dan saya bangga akan itu.

Meski pada akhirnya harus menelan pil pahit kalau berita saya tidak dibuat cukup ekslusif. Tapi tak apa, yang penting lencana itu akan saya kenakan kembali.

3 responses »

  1. hmmmhhh… yang jelas, nyari wartawan yang beretika mungkin sulit jaman sekarang ini… moga-moga kamu tetep mempunyai moral dalam menjalankan profesi kamu dan idealisme dari jurnalisme itu sendiri… aku pikir gak penting juga liput berita yang gak bermutu dari artis2 yang awalnya gk berseteru eh malah jadi saling maki dan panas2 karena di komporin sama wartawan.. hmmhhh, aku harap km bisa menyajikan berita yang emg bermutu, penting bagi yang membacanya… good luck,bro!

  2. mas eby, jgn bangga dgn profesi sbg wartawan infotainment. Seputar cerai-nikah Itu bkn berita, tapi “AIB” yg harus ditutupi, bkn malah digembar-gemborkan apapun dalihnya

    Jangan mikir didunia saja ingat di Akherat, dan ini bagian dari ‘Ghibah’ (membicarakan keburukan orang). Ingat yg ada dihadist, “Ghibah itu sama saja dgn memakan daging sesama muslim”.

    Definisi Ghibah itu, jika berita benar itulah yg dinamakan Ghibah, kalau tdk benar itu namanya Fitnah.

    Jadi, kalo bisa mas eby minta dipidahkan ke desk lain atau pindah kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s