Lima Jempol Untuk Dia (Part 2)

Standard

Inilah petikkan wawancara saya dengan Mitha:

Apakah benar terjadi pernikahan sirih antara suami Anda, Sacha dengan Paramitha Rusadi?
Ya, saya membenarkan pernikahan siri suami saya dengan PR (Paramitha Rusady). Saya pun yang mengizinkan.

Bagaimana bisa pernikahan itu terjadi?
Awal pertemuan mereka (Paramitha dan Sacha) saat reoni SMP 12 di Bugs Café, Pondok Indah 29 Februari 2008 lalu. Mereka memang sudah teman SMP dan Sacha mengaku pernah berpacaran dengan PR (Paramitha Rusady. Sacha mengaku PR adalah cinta pertamanya waktu itu. Mereka bertemu dan mungkin cintanya bersemi kembali. Dari sana mereka dekat. Akhirnya Sacha meminta izin dengan saya, dia ingin menikahi PR. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya mengizinkan, kalau lelaki ditahan-tahan pasti nggak bisa.

Di mana menikahnya, dan di mana mereka lalu tinggal?
Mereka menikah siri di Bali pada Mei 2008 di Bandung. Setelah nikah, mereka menempati sebuah rumah di kawasan Ciputat, tepatnya di perumahan Bali View. Di sana mereka berteduh setiap Sabtu dan Minggu.

Seusai konfrensi pers, saya langsung mengirimkan pesan singkat dengan Mitha, “saya salute sama Mbak Mitha. Sabar ya Mbak.” Perasaan saya entah kenapa berbeda, sangat luluh dan hibah dengan ketegaran Mitha membiarkan suaminya untuk menikahi perempuan lain.

Tak lama dia balas SMS saya:
“Aku cuma jalanin semua yang sudah Dia (Allah) tuliskan untuk kita, insya Allah aku ikhlas surga balasannya. Kita di dunia berapa lama sih? Kampung akhirat lebih panjang nggak ada habisnya. Bantu aku doa aja, aku kuat dan tegar jalanin ini. eh aku kelihatan nervous nggak?.”

Sebelum preskon, saya sempat berbincang dengan kakak Mitha. Katanya memang keluarga mereka adalah keluarga yang selalu pasrah dengan keadaan. “Kalau memang, harus terjadi, ya terjadilah,” begitu katanya. Mereka seperti keluarga yang bebas, cuek dengan keadaan sekitar yang mereka nilai sebagai takdir Tuhan. Seperti ledakan bom, barang hilang, dan sebagainya yang sifatnya tak terduga. Begitu juga saat Sacha mengaku sudah tidak cinta dengan sang istri, dan berniat menikahi Paramitha Rusady. Tanpa berdebat panjang, keluarga Soedarsono (keluarga Mitha) mengizinkannya. Mereka anggap permintaan Sacha adalah alamiah, takdir Tuhan, namun harus dipertanggungjawabkan kelak. Tak aneh jika sikap Mitha seperti itu.

Saya lumayan akrab dengan Mitha, sampai-sampai ia menasihati saya untuk menjadi pria yang bisa jaga iman.

“Oke doakan aku sembuh total, kita bisa jalan-jalan. Kamu hati-hati jadi laki-laki, mesti bisa jaga iman dan jadi imam di keluarga kamu. Laki-laki harus bisa membawa keluarganya ke pintu surga. . . .”

“Aku pasrahun semua ini kepada yang di atas. Dia yang mengetahui apa yang terbaik untuk keluargaku. Pasti ada jalan keluar yang baik, dan mungkin ini ujianku dari dia karena aku akan naik derajat. Dan diberi kehidupan yang lebih baik.”
Saya bilang sama Mitha, apa yang telah saya lihat, alami, dan rasakan akan saya cerikan ke pacar saya nanti. Semoga tidak ada Mitha lain yang memberi saya inspirasi untuk lebih menghormati wanita. 5 jempol untuk Mbak Mitha . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s